10 Suka Duka Ini Hanya Dapat Dirasakan oleh Orang Majalengka yang Merantau di Bekasi, Cikarang, Cibitung

Dilihat dari Bus Widia yang selalu penuh, nampaknya orang Majalengka yang merantau di Bekasi ini amatlah banyak. Mayoritasnya sudah pasti bekerja di Pabrik-Pabrik, namun ada juga yang kuliah, dagang sayur, sampai ke kategori hanya menyusahkan teman: karena cuma menginap sehari-dua hari di kostan, sekadar pengen tahu bagaimana suasana hidup di Bekasi. Nah, apa saja sih suka duka yang hanya dapat dirasakan oleh orang Majalengka jika merantau di Bekasi, Cikarang, Cibitung dan sekitarnya ini.

widia-nanasurwagana

1. Widia atau Bintang Sanepa
Jika naik umum, untuk dapat mencapai Bekasi dari Majalengka. Kamu harus naik Widia, atau Bintang Sanepa, dulu sih ada Berkah Jaya tapi nggak tau sudah ke mana. Jenis Busnya ¾, jadi nggak terlalu besar dan gampang bikin pegel.

2. Kalau naik motor, pasti banyak berhenti?
Untuk yang memilih naik motor pasti banyak berhenti, kan? Jalan 20 menit kemudian istirahat dulu 2 jam. Berbagai tempat pun pernah dijadikan tongkrongan, seperti warung kopi, Alfamart-Indomaret, atau kalau lagi nggak punya duit ya di mana saja. Ini karena faktor perjalanan yang super jauh, ketika pantat sudah panas ya harus berhenti.

3. Tugu Pemuda
Baik naik kendaraan roda empat maupun dua, kamu pasti melihat tugu ini. (Kecuali jalan ke Indramayu). Ketika berangkat melihat ini, ada perasaan menyesal yang amat dalam saat mau meninggalkan Majalengka. Rasanya pengen ngebajak Bus dan diparkir balik ke kampung halaman. Akan tetapi, lain ceritanya jika kamu melihat tugu itu ketika pulang, saat melihatnya kamu akan tahu bahwa rindu akan segera usai.

4. Bersentuhan dengan berbagai Suku di Indonesia
Jika di Majalengka kenalan kamu itu-itu saja, ketika pergi ke Bekasi kamu akan insten bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Ada yang dari Medan, Lampung, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, sampai pada Indonesia Timur. Gak hanya itu, bakal bertemu juga orang-orang asing dari Jepang, Korea, Eropa, atau Malaysia, kalau itu para atasan Pabrik.

5. Banyak juga orang Majalengka
Seperti yang sudah disingguh, walaupun penumpang Widia selalu banyak, tapi kan di Jalan turun berceceran. Jadi kamu akan berpikir di Bekasi atau Cikarang, warga Majalengka gak akan terlalu banyak, dan kamu salah. Teman kampus ada orang Kadipaten, teman kerja ada orang Rajagaluh, begitu pun teman satu komplek banyak juga orang Majalengka. Bahkan penulis pernah bertemu orang Majalengka yang menjadi preman di sana. Dia menuturkan orang Majalengka di sana mengisi berbagai profesi dari atasan Pabrik sampai pedagang di Pasar.

6. Mulai ngomong Gue Elo
Ya, di Bekasi kehidupan sangat komplek, jadi untuk bahasa, semua memukul rata: Bahasa gaul Jakarta. Awalnya sih kagok juga, tapi mau nggak mau harus selalu dilatih, dan bahasa ini pasti menjadi pilihan pertama ketika bertemu dengan orang baru.

7. Bahasa Sunda sih, tapi….
Banyak juga kejadian, ketika awal berkenalan kita menggunakan bahasa gaul, dan ternyata ia orang Sunda juga, jadi untuk percakapan selanjutnya pasti menggunakan basa sunda, namun gak semua dari bahasa yang kita gunakan di Majalengka akan dimengerti mereka. Basa Sunda di Bekasi mungkin nyaris gak pernah digunakan oleh pribumi, tapi di Cikarang dan Cibitung masih banyak kok, walaupun dengan basa Sunda yang kasar. Maksudnya kalau kita hidup di Majalengka, atau Bandung misalnya. Tentu saja peraturan ngomong basa sunda adalah dibedakan antara ngobrol dengan sebaya, yang lebih tua, atau orang tua. Dan di Cikarang aturan itu seperti sudah di hapus.

8. Merasa Saudara dengan sesama orang Sunda, atau Majalengka
Di kehidupan yang kompleks ini sangat terasa, berada dengan orang-orang satu daerah akan beda rasanya dengan orang dari luar. Dalam memilih sahabat pun biasanya kita ngumpul denagan yang satu daerah, bukan karena rasis, karena satu daerah biasanya kebiasaan, gaya hidup, pola pikirnya dan prilaku juga sama, jadi gampang cocok dibanding dengan orang luar daerah. Memilih teman satu kontrakan pun dari orang sunda atau Majalengka lebih diprioritaskan.

9. Pedagang keliling ada terus!
Jika di Majalengka pedagang keliling paling malam mungkin hanya sampai jam 9 malam, di Bekasi jam 12 malam saja masih ada pedagang. Awalnya sih pasti terganggu dan rasanya pengen ngelempar sepatu pentopel ke luar, tapi ya lama-kelamaan pasti biasa, malah kalau gak ada pedagang itu sehari saja, kamu akan rindu.

10. Main ke Jakarta
Jarak dari Bekasi yang sangat dekat, dan daya tarik yang dimiliki Ibu kota, akan bikin kamu sering mengunjungi Jakarta. Kalau kamu gak pulang ke Majalengka, Jakarta pilihan utama. Hanya tinggal naik bus, atau kalau mau lebih cepat KRL, atau kalau mau lebih cepat lagi pakai baling-baling bambu. Sampailah kamu di Jakarta, tinggal mau ke mana seperti, Ancol, Monas, Ragunan, Kota Tua, TMII, Mall Kelapa Gading, Roxy?

(Tommi)

Facebook Comments

Post Author: Tommi Pringadi

Seorang jomblo profesional yang bercita-cita bikin sunatan massal. I am not player, i am the game. :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.