11 Makanan Legendaris Ini Akan Buat Kamu Rindu dengan Majalengka yang Dulu

besoksenin.co – Makanan legendaris bukan hanya tentang rasa, melainkan juga kenangan. Di Majalengka, ada loh jajanan yang dari zaman penjajahan sudah berjualan. Ajaibnya, sampai sekarang jajanan ini, tetap eksis melintasi berbagai generasi.

Nah, kali ini tim besoksenin.co meliput beberapa jajanan legendaris yang tetap eksis hingga saat ini yang tidak banyak orang tahu. Langsung aja, yuk, kita ke pelaminan!

1. Bubur Ayam Mang Toto 1990

Para pecinta bubur, pasti gak mungkin melewatkan bubur ayam yang satu ini. Bubur ayam Mang Toto yang berdiri sejak 1990 seangkatan sama Dilan ini, berlokasi di Munjul. Tepatnya di dekat Puskesmas Munjul. Cita rasa yang bertahan dari zaman sinetron Bawang Merah Bawang Putih belum ada hingga sekarang, membuat bubur ayam Mang Toto kian digemari.

img_0921
Mang Toto, kebanggan kita semua (foto: Gandhi Gumelar)

Tak jarang, beberapa pelanggan yang dulunya pacaran dan sudah bekerja, datang dengan anak-anaknya sekadar ingin mencoba bubur yang dulu pernah menghiasi kisahnya. Bubur ayam Mang Toto yang beroperasi mulai pukul 5.00-10.00 ini dahulu harga pertama menjual hanya 500 rupiah saja. Sekarang sudah Rp 10.000 dengan variasi tambahan seperti telur puyuh, telur ayam, juga ati ampela.

2. Mie Ayam Mang Toye 1989

Kalau kamu pecinta mie ayam dan tinggal di Majalengka, wajib coba mie ayam yang satu ini. Pasalnya, sejak 1989 kira-kira seangkatan sama Yongki Aribowo, mie ayam ini berjaya ketika Bioskop Galaxy yang dekat Pujasera masih ada hingga sekarang.

img_0933
(foto: Gandhi Gumelar)

Mie bertekstur lembut yang dibuat sendiri dan cincangan ayam yang terjaga kualitasnya, cukup untuk menemani siangmu. Mie ayam yang berlokasi di Panglipur tepatnya di samping kantor Satpol PP Majalengka ini beroperasi mulai pukul 10.00-18.00.

“Kadang mang malu bercampur haru, ketika ada satu pelanggan dari dia remaja suka jajan di sini, sampai sekarang sudah punya Alphard. Sengaja datang ke Majalengka dari luar kota hanya untuk jajan di sini. Diparkir weh di depan kios.”

Dahulu, harga mie ayam tahun 1982 hanya 200 rupiah saja. Sekarang Rp 10.000.

3. Lengko Bi Kanti 1987

Orang Majalengka mana yang gak tahu Lengko Bi Kanti? Warung nasi lengko yang awalnya berjualan di juru lapang (di ujung lapangan sepak bola Warung Jambu) selama 16 tahun ini, berdiri sejak 1987 alias waktu Choi Siwon lahir. Kalau siang-siang, lengko bi kanti ini ramai sekali.

img_0924
(foto: Gandhi Gumelar)

Rasa kecapnya yang pas dengan cincangan timun, tempe, dan telur balado ditambah variasi lauk yang menyehatkan, akan menyihir dan membuat kamu ketagihan. Kalau bedanya dengan lengko cirebon yang menggunakan bumbu kacang dan gak pakai seledri, lengko majalengka ini mengandalkan kecap sebagai bumbunya.

Jangan salah, kecapnya pun kecap asli Majalengka yang diracik kembali dengan takaran penuh cinta yang membuat citarasa berbeda dengan yang lainnya.

img_0928
(foto: Gandhi Gumelar)

“Kalau lengko cirebon mah pakai bumbu kacang. Orang Majalengka gak suka kalau lengko pakai bumbu kacang. Karena dalam kecapnya pun sudah ada rasa yang menyatu dengan lidah orang Majalengka.”

Nasi Lengko yang beroperasi di Jalan Ahmad Kusumah ini, mulai beroperasi pukul 6.00-20.00. Harga pertama menjual hanya 100 rupiah pakai telur, sekarang Rp 12.000.

4. Mie Kocok Mambo 1986

Sejak 17 Agustus 1986 kira-kira waktu Adera anaknya Ebiet G. Ade lahir, oleh ayah Mang Jana, mie kocok ini mulai dipasarkan. Mie kocok ini tergolong legendaris karena cita rasa mie yang dibikin sendiri, ayam kampung pilihan, dan kuah santannya yang bertahan hingga saat ini. Mie kocok fenomenal yang bertempat di perempatan Pasar Mambo ini, beroperasi mulai pukul 16.00-22.00.

img_0976
(foto: Gandhi Gumelar)

Banyak tawaran dan ajakan untuk membuka cabang, namun karena hanya Mang Jana dan sang istri yang menjalankannya, maka bagi mereka cukup berdua saja. Ini romantis juga, ya. Rasanya pun lembut dan buat kamu ketagihan.

Tak aneh kalau mie kocok ini selalu ramai pengunjung yang tidak hanya dari dalam kota saja, tetapi juga luar kota. Dahulu, harga pertama menjual 350 perak, sekarang Rp 12.000, Rp 15.000 kalau mau ada tambahan.

5. Tutut Mambo 1982

Jajanan sederhana namun membekas dan paling buat orang Majalengka rindu adalah tutut mambo. Bukan membekas karena ada bumbu yang nyelip di gigi, ya. Sejak 1982 ketika suami Bu Encum meninggal, dia dan anaknya, Bi Juju mulai berjualan tutut mambo di Pasar Mambo, Majalengka.

img_0966
(foto: Gandhi Gumelar)

Sampai saat ini, ada empat orang yang berjualan yang beroperasi mulai pukul 17.00-21.00. Ada rasa pedas dan rasa biasa. Keduanya sama enaknya karena dibalur dengan bumbu yang khas dan tradisional.

img_0971
(foto: Gandhi Gumelar)

Tak hanya tutut, Bu Encum atau Bi Juju juga menjual jajanan seperti kacang rebus, boled, lontong, pokonya old but gold! Harga pertama menjual hanya 10 perak per bungkus tutut, sekarang Rp 5000.

6. Kupat Tahu SLB Majalengka 1980

Kalau hari Minggu kamu jalan-jalan ke Jalan Emen Slamet samping SLB dan beli kupat tahu ini sekitar pukul 7 namun ternyata sudah habis, maka jangan salahkan karena kupat tahu ini sangat digemari.

img_0922
(foto: Gandhi Gumelar)

Tahu yang digoreng hangat-hangat, bumbu yang sangat lembut, dan lontong yang pulen bangeeet, buat kamu pengen beli banyak. Kupat tahu pertama di Majalengka yang beroperasi mulai pukul 5.00-10.00 ini, sangat menyimpan banyak kenangan.

Coba saja tanya ke ibu dan ayah kamu yang asli Majalengka. Setidaknya, ketika masa muda, mereka sering mampir di sini.
Menurutnya, beberapa pelanggan sengaja datang dengan bawa sang anak sekadar mengingat masa muda mereka.

“Yang dari gadisnya suka jajan ke sini, sekarang kalau jajan ke sini sambil bawa anak.”

Memang benar, kupat tahu ini bisa menjaga citarasa ketika tiga generasi di atas masih bujang dan berjualan.

7. Nasi Goreng Mang Anda 1979

Mang Suwanda atau biasa dikenali Mang Anda ini adalah pedagang sekaligus penjelajah yang berpengalaman.

img_0955
(foto: Gandhi Gumelar)

Mulai dari Talaga, Bandung, sampai Jakarta ia datangi untuk berjualan Nasi Goreng, namun dia memilih Majalengka tepatnya di samping lampu merah Pasar Mambo sebagai destinasi terakhir. Pengalaman yang ia dapatkan dari perjalanan itu ada dalam rasa nasi goreng pertama di Majalengka ini.

img_0957
(foto: Gandhi Gumelar)

Coba saja, banyak orang berdatangan hanya untuk merasakan seperti apa sih rasa nasi goreng pertama di Majalengka ini? Banyak pelanggan yang dari zaman dia sekolah hingga sekarang sukses berkarier datang sekadar ingin mengenang masa sulit dulu. Wah, senang deh dengarnya ya

Nasi goreng yang beroperasi mulai pukul 17.00-24.00 ini, awalnya menjual hanya 350 perak pakai telur, 250 perak yang biasa. Sekarang 12.000 dengan rasa yang sama dari dulu tentunya.

8. Bakso Istal Mas Marimin 1978

Majalengka dahulu, jalannya belum semulus sekarang. Bebatuan dengan alat transportasi hanya delman.

img_0938
(foto: Gandhi Gumelar)

Bermodalkan keteguhan dan kekuatan bahu untuk memikul dagangan baksonya, ia, Mas Marimin, berjualan di depan perkumpulan delman itu dihargai 50 perak per mangkok. Karena rasa yang menggugah dan strategi berjualan yang tepat, bakso ini kian digemari sejak dulu yang menjadikan bakso pertama di Majalengka. Bakso Istal ini cukup terkenal.

 

Bayangkan saja, beberapa kali Mas Marimin dapati konsumen dari Sumedang yang sengaja ke Majalengka hanya ingin mencicipi rasa bakso ini. Kuahnya nikmat, ukuran bakso yang pas dengan daging sapi di dalamnya.

Berlokasi di Pasar Cigasong, Bakso Istal yang beroperasi mulai pukul 6.00-18.00 ini berkembang sangat pesat. Pada tahun 1985, ketika Mas Marimin menikah, harga bakso hanya 200 perak. Sekarang Rp 10.000 saja.

9. Martabak Mambo 1970

Bagi kamu pecinta martabak, martabak mambo bisa jadi referensi kuliner yang legendaris selanjutnya.

img_0961
(foto: Gandhi Gumelar)

Sejak 1970, Majalengka gempar dengan martabak ketan yang rasanya sangat menggoyang lidah. Bahkan, hingga sekarang martabak ketan masih menjadi pilihan yang paling banyak dinikmati. Cita rasa khas martabak pertama di Majalengka ini tetap terjaga, mulai dari sang ayah berjualan, kemudian sang ibu, kini martabak mambo dihidangkan oleh sang anak; berarti sudah tiga generasi.

Beroperasi di samping lampu merah Mambo mulai pukul 17.00-24.00, martabak mambo yang siap menemani malam hangat yang romantis di Majalengka. Sama dengan martabak pada umumnya, martabak mambo ada pilihan asin dan manis. Harga pertama martabak mambo 200 perak, sekarang bervariatif tergantung pilihan martabaknya.

10. Mie Areng Babakan Jawa 1960

Tidak banyak orang tahu, mie areng babakan jawa yang letaknya di dekat Balai Desa Babakan Jawa ini adalah tertua sekaligus pertama di Majalengka.
Agak sembunyi sih, tapi beberapa pelanggan sudah biasa ke sana. Kalau kata mantan orang mah, “jarak bukan alasan mengapa kita tidak berjumpa”.

Mie areng yang beroperasi mulai pukul 18.30-23.00 ini, berawal dari jualan keliling oleh sang kakak ipar mang Nana selama 36 tahun, akhirnya resep masakan diturunkan pada Mang Nana agar jualan ini dilanjutkan.

img_0977
(foto: Gandhi Gumelar)

Keunikan dari mie areng ini adalah pada cara memasaknya. Memasak mie goreng dengan cara sangat konvensional; menggunakan arang dan digeber pakai hihid (baca: kipas dari anyaman bambu). Karena itulah, rasanya sangat khas.

img_0980
(foto: Gandhi Gumelar)

Tak sedikit orang yang datang ke sana hanya sekadar nostalgia. Mengingat zaman muda dulu yang suka nongkrong di sana. Beberapa pelanggan setia bahkan sampai membawa anaknya (kamu kapan nyusul?). Harga pertama menjual 50 perak, sekarang Rp 15.000 tentunya dengan cita rasa yang sama.

11. Joneng Tonjong 1945-an

Orang Majalengka mana yang gak tahu sejarah joneng tonjong? Setiap generasi pasti melewati atau setidaknya pernah merasakan jajan di joneng alias nasi kuning yang dikemas sangat menarik dan menyimpan banyak kenangan.

img_0983
(foto: Gandhi Gumelar)

Berlokasi di samping bunderan Tonjong, Joneng ini tergolong sederhana, namun khas dan melegenda. Ketika ditanya sejak kapan mulai berdiri, bibi yang jual bahkan tidak tahu tepatnya. Hanya saja dia menegaskan kalau joneng tonjong ini sudah ada dari zaman penjajahan 😀

“Wah, itu mah dari zaman nenek (atau uyut) saya masih gadis udah berjualan. Dari zaman penjajahan lah”.

Kebayang kan rasa yang tetap terjaga dari dulu hingga sekarang bagaimana? Nasi kuning ini sederhana saja tapi unik. Dikemas kecil-kecil ditambahi sambal, telur puyuh, kentang goreng, dan gorengan lainnya yang terpisah.

Joneng tonjong yang beroperasi mulai pukul 17.00-01.00 ini akan sangat laku ketika Malam Minggu dan Malam Jumat Kliwon.

img_0984
(foto: Gandhi Gumelar)

Beberapa jajanan yang dulu yang sekarang tidak ada adalah janasturi (semacam kacang ijo), cucus, lapis, dan goreng kacang. Harga pertama menjual joneng per bungkusnya 25 perak dan gorengan 10 perak. Sekarang nasi per bungkus hanya Rp 1000 saja.

Bagaimana? Sudah rindunya? Pasti setiap kamu punya ceritanya masing-masing tentang kerinduan ini. Ah, tetap saja rindu tak bisa diekspresikan dengan hanya berdiam diri. Sini, ke Majalengka! Perhatikan lagi bagaimana mungkin Majalengka ini benar-benar bisa menyimpan kenangan 😀

Dokumentasi oleh M. Gandhi Gumelar
(Fazharie)

Facebook Comments

Post Author: Fakhrul Azharie

cowok yang waktu itu ngirim martabak ke rumah kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.