Home > rubrik > besokeling > 20 Tahun ke Depan; Jika Majalengka Menjadi Negara, Gilang Pramudhita Presidennya
20 tahun ke depan: Jika Majalengka menjadi negara, Gilang Pramudhita Presidennya via Pandu Rahadian

20 Tahun ke Depan; Jika Majalengka Menjadi Negara, Gilang Pramudhita Presidennya

20 tahun ke depan: Jika Majalengka menjadi negara, Gilang Pramudhita adalah Presidennya via Pandu Rahadian

besoksenin.co ­– Jauh dari serius, tulisan ini hanya berisi spekulasi. Spekulasi yang tak pernah dispekulasikan. Ke-tidak-serius-an yang bisa diseriuskan. Berbicara tentang 20 tahun ke depan, banyak sekali kemungkinan yang bakal terjadi di kota ini. Anggap saja, meskipun kemungkinannya kecil; entah karena perang, hingga gerakan separatis. Rasanya tak salah, jika hari ini kita membuat tentang kemungkinan Majalengka menjadi sebuah Negara, dan tulisan ini akan mengungkapkan mengapa Gilang Pramudhita dapat menjadi Presidennya. Tentu saja, ada banyak orang yang lebih pantas. Tapi apa 20 tahun ke depan, dia masih hidup?

Potret dirinya dan tulisan “Majalengka Memanggil” (Memang—Gil. Gil di sini artinya Gilang) di poster terbaru Majalengka Co-Working Project Vedi Sumantri beserta rengrengan; adalah sebuah clue, dan sinyal pertama yang dikirim Gilang pada dunia, bahwa suatu hari nanti (direncanakan 20 tahun lagi), pemilik Kopi Apik ini bakal memimpin Majalengka.

Perlu diketahui sebelumnya, project yang dibangun atas kesadaran ingin ikut membantu City Branding Kota ini telah melakukan agendanya dengan mulus. Awalnya, mereka membuat sebuah forum yang memutuskan 5 slogan alternatif Parawisata untuk Majalengka, lalu melakukan vote terbuka bersama kita semua. Tak dinyana, Pak Gatot Kadisparbud Majalengka menerima ini. Bahkan saat ini, pemerintah mendukung  babak baru, untuk membuat Logo dan Jinglenya, dan disayembara-kan, turut mengajak serta masyarakat. Mulus sekali, bukan? Sesungguhnya ini tak lepas dari peran dan andil Gilang di dalamnya, sebagai diplomat ulung.

Masih banyak alasan, dari sepak-terjang Gilang Pramudhita selama ini. Ia dinilai dapat meracik kota ini menjadi sebuah kota yang beraroma khas. Bukankah, memang itu permasalahan utama kita selama ini? Majalengka belum mampu menjadi sebuah kota yang beraroma khas! Banyak sekali bahan mentah (potensi), tapi tak pernah ada yang mampu meroasting-nya. Sesungguhnya inilah alasan utama mengapa Gilang memilih bergelut di dunia kopi, dan mendirikan Kopi Apik. Ini adalah sebuah konspirasi, dengan banyak agenda, yang bermuara pada menempatkan dirinya sebagai Presiden.  Demi memuluskan ini, ia rela keluar dari dunia pendidikan, dan melepaskan statusnya sebagai guru. Demi punya banyak waktu menyebarkan gagasan-gagasannya yang di belum ada di nalar kita sebagai penikmat kopi. Cerdik sekali memang, A Gilang.

Gilang Pramudhita via Pandu Rahadian

Saya pribadi, pernah beberapa kali terlibat diskusi hanya berdua saja bersama Gilang di hari minggu, di hari liburnya Kopi Apik. Nyatanya, ia bahkan tetap menggunakan waktu istirahatnya, hanya demi mengganggu pikiran orang-orang polos, seperti saya. Diskusi kami kadang-kadang kaku, terlalu kaku; seperti pasangan yang sedang pedekate, kehilangan topik bahasan. “Ini mau ngomong apa lagi?” dalam hati. Kadang, kami sama-sama diam dalam waktu yang lama. Namun saya tak terlalu polos, saya tahu diamnya A Gilang, bak Singa yang sedang merongrong, menunggu momentum untuk menerkam. Rasanya saya selalu dapat diterkam, karena ketika pulang ke rumah, selalu terpikirkan cakrawala baru dalam hidup.

Baca juga: Bus Widia Adalah Kita

Gilang sering diundang untuk mengisi acara, dan 10 februari nanti, ia akan menjadi narasumber di acara milik Genre2019. Ini adalah momentum mengampanyekan gagasannya pada anak-anak SMA yang polos. Waspadalah.

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history

Check Also

Generasi Idiot Majalengka

Generasi Idiot Majalengka besoksenin.co ­– 2015, saya memutuskan resign dari Kantor, meskipun kontrak kerja masih …