4 Logika Sederhana Ini Membuktikan Kalau Hari Jadi Majalengka Bukan Di Tanggal 7 Juni! Waduh, Yang Benar Yang Mana, Ya?

Penetapan Hari Jadi Majalengka pada 7 Juni -dari tahun ke tahun- selalu menjadi perdebatan. Apalagi di kalangan sejarawan. Mereka sudah pasti mengkritisi tentang misteri Hari Jadi Majalengka di tanggal 7 Juni yang dianggap diragukan kebenarannya, bahkan dinyatakan salah. Uw.. Cowok memang selalu salah. Ok Skip.

Memangnya ada apa, sih? Kuy, simak 4 logika sederhana ini.

1. Sejarah penetapan Hari Jadi Majalengka diambil dari mitos, bukan fakta

Kamu pasti pernah denger, dong, sejarah Majalengka dan hubungannya dengan Nyi Rambut Kasih? Yup! Keberadaan Nyi Rambut Kasih gak terlepas dari sejarah berdirinya Kabupaten Majalengka. Hal itu bisa dibuktikan oleh sejumlah bukti petilasan yang seperti orang-orang bilang. Ada di Dusun Banjaran Hilir, Kampung Parakan, dan di Gedung Pendopo Kabupaten Majalengka dengan kamar khususnya.

Majalengka 527 via @akang_endang

Tapi, pernahkah kamu terpikirkan kalau Nyi Rambut Kasih itu siapa sebenarnya? Emak dan bapaknya siapa? Dia menghilang ke mana? Walaupun ngahiang, biasanya kalau kerajaan ngahiang (red: menghilang) -seperti Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Talaga Manggung- pasti meninggalkan artefak, prasasti, atau keturunannya. Kekira ada, gak, ya artefak, prasasti, atau keturunan dari Kerajaan Sindangkasih?

Kayaknya keberadaan Kerajaan Sidangkasih di Majalengka itu diragukan. Kayak janji mantan kamu, meragukan.

Kayaknya keberadaan Kerajaan Sidangkasih di Majalengka itu diragukan. Kayak janji mantan kamu, meragukan.

2. Keganjilan usia Pangeran Muhammad, sosok yang dikatakan utusan pencari buah Maja

Menurut cerita yang berkembang, penetapan 7 Juni 1490 itu berdasarkan Sunan Gunung Djati nyuruh Pangeran Muhammad buat nyari buah Maja di daerah Kerajaan Sindangkasih yang ditemenin istrinya, Siti Armilah. Sekalian PDKT dan mengislamkan Nyi Rambut Kasih yang katanya beragama Hindu. Walaupun PDKT akhirnya gagal.

Pangeran Muhammad kira-kira bawa kuda, gak? via pexels

Ngomong-ngomong, pada saat 7 Juni 1490, usia Pangeran Muhammad baru berumur 7 tahun, lho! Karena  yang diceritakan babad Cirebon, Pangeran Muhammad itu lahir tahun 1483*. Hebat juga, ya, doi 7 tahun mengemban tugas yang berat. Selain itu, di usia 7 tahun, doi gak jomblo alias sudah beristri dan bawa-bawa buah Maja yang pasti gak satu biji.

doi 7 tahun mengemban tugas yang berat. Selain itu, di usia 7 tahun, doi gak jomblo alias sudah beristri dan bawa-bawa buah Maja yang pasti gak satu biji.

Jadi, kekira siapa yang dateng tanggal 7 Juni 1490 itu? Kalau bukan Pangeran Muhammad, jadi, siapa jenazah di balik makam Pangeran Muhammad yang di Margatapa itu? (Kalau ceritanya ada)

3. Eksistensi Kerajaan Sindangkasih

Pada tahun 1490, kalau memang Kerajaan Sindangkasih ada, bagaimana hubungannya dengan Kerasaan Talaga Manggung yang jauh lebih tua usianya? Mengingat, Kerajaan Talaga Manggung ini keren banget! Saking kerennya, wilayahnya luas, termasuk wilayah Sindangkasih yang katanya ada Kerajaan Sindangkasih oleh Nyi Rambut Kasih.

Gerbang Museum Talaga Manggung via @infomjlk

kalau memang Kerajaan Sindangkasih ada, bagaimana hubungannya dengan Kerasaan Talaga Manggung yang jauh lebih tua usianya?

Adakah hubungannya? Tidak ada. Ah, karena belum begitu banyak ceritanya.

4. Maja ‘e langka… Maja ‘e langka

Penetapan nama Majalengka mengacu karena Pangeran Muhammad berteriak, “Maja ‘e langka” yang berarti buah Majanya gak ada. Kira-kira, kalau buahnya hilang, kenapa Pangeran Muhammad gak teriak yang punya buah Majanya saja, ya? Kalau Nyi Rambut Kasih yang menghilang, mungkin akan lebih baik doi teriaknya, “Nyi Rambut Kasih ‘e langka“.

Buah Maja via pinterest

Kalau Nyi Rambut Kasih yang menghilang, mungkin akan lebih baik doi teriaknya, “Nyi Rambut Kasih ‘e langka“.

Waduh, bingung ugha dongengnya. Lain lagi dengan kata ‘langka’ yang berarti ‘pahit’ yang disebutkan juga dalam Naskah Negara Kertagama*.

Jadi, fakta 7 Juni versi dongeng Nyi Rambut Kasih itu, gak bisa dibuktikan secara empiris, naratif, ataupun fakta sejarah. Terlepas benar atau nggak, untuk mendekati kebenarannya pun masih sangat jauh dengan data-data yang minim.

fakta 7 Juni versi dongeng Nyi Rambut Kasih itu gak bisa dibuktikan secara empiris, naratif, ataupun fakta sejarah

Lalu, yang benar dan yang paling mendekati yang mana?

Setidaknya ada dua versi yang lebih logis untuk penetapan Hari Jadi Majalengka.

Pertama, penetapan hari jadi ketika Majalengka yang mulanya bagian dari Sumedang, dipindahkan ke Wilayah III Cirebon oleh pemerintahan Belanda yang bernama Kabupaten Maja pada 5 Januari 1519 (Staatsblad 1819 No. 9 dan 23) dengan bupati pertamanya Denda Negara. Kedua, penetapan hari jadi ketika kabupaten Maja dan ibukota Sindangkasih berubah menjadi Majalengka tanggal 11 Februari 1840 (Staatsblad 1840 No. 7).

Lalu, kenapa Belanda memilih nama Majalengka? Ini masih didiskusikan para sejarawan. Ah, barangkali Belanda ingin membenturkan nama dengan Majapahit. Karena Majalengka pun artinya buah Maja yang pahit; Majapahit.

“Bukan kami menolak penetapan tanggal 7 Juni sebagai Hari Jadi. Tapi kalau itu jadi ageman semua orang, rumit juga. Gak mungkin aku menikahi wanita yang gak jelas asal-usulnya!” Begitulah ucap orang yang cinta sama Majalengka kepada besoksenin.co.

Gak mungkin aku menikahi wanita yang gak jelas asal-usulnya!

Waduh, semoga menjadi rekomendasi pemerintahan Majalengka untuk mengkaji ulang Hari Jadi Majalengka di 7 Juni, ya!

*Narasumber: Ocky Sandi, orang yang cinta sama Majalengka

Fakhrul Azharie

Ditulis oleh Fakhrul Azharie

Jangan follow kalau nantinya unfollow *bio kekinian

Lihat profil lengkap