5 Tips & Trik Agar Curhat Tidak Menjadi Ghibah

…Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

(QS. Al Hujurat: 12)

Kita semua tahu bahwa membicarakan orang lain merupakan salah satu perbuatan yang dilarang dalam agama. Namun di sisi lain, sebagai manusia, apalagi sebagai seorang perempuan, tidak dapat dipungkiri kita memiliki kebutuhan untuk mencurahkan kekesalan, kesedihan, atau kekecewaan kepada orang lain. Meskipun tidak selalu mendapatkan solusi, namun setidaknya kita merasa sedikit terobati. Nah jadi bagaimana caranya agar curhat tidak menjadi ghibah?

 

  1. Luruskan Maksud dan Tujuan
Bapake Tama
http://bapaketama.blogspot.co.id

Yups, apakah maksud dan tujuannya untuk kesenangan saja? Karena tidak ada lagi topik pembicaraan yang seru, akhirnya kita menceritakan kesalahan orang lain, entah itu kesalahan teman, mantan, atau mungkin calon mantan (yang sekarang masih menjadi pasangan). Coba mulai dari sekarang mah kita luruskan maksud dan tujuannya, bahwa kita itu ingin mendapatkan solusi dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Jadi fokus ke solusinya, bukan ke kesalahannya.

 

  1. Tidak Perlu Bercerita Terlalu Detail
arief-just4fun.blogspot.co.id
arief-just4fun.blogspot.co.id

Kalau cerita itu cukup sebutkan poin-poin pentingnya saja, seperti “Aku itu orangnya kalau marah suka ngumpet di kamar seharian, apakah itu salah?” Kita gak perlu bercerita terlalu detail seperti, “Aku teh sebel ih sama si tuuuuut (sebut saja namanya Mawar), dia itu kenapa sih gak ngerti-ngerti sama sikap aku. Kita kan udah lama kenal, tapi kenapa dia gak pernah tahu maunya aku seperti apa. Tahu gak, kemarin itu kan aku kehabisan tiket nonton film tuuuuut (jangan sebut merk film), terus aku ngumpet seharian di kamar, tapi dia malah ngambek, katanya aku pundungan, padahal aku emang orangnya suka kaya gitu kalo lagi sebel”. Ingat, fokus ke solusi aja, bukan ke kesalahan orangnya.

 

  1. Tidak Perlu Menyebutkan Identitas
www.hipwee.com
www.hipwee.com

Akan lebih baik jika kita tidak menyebutkan identitas orang yang sedang kita ceritakan. Bila perlu, namanya kasih nama samaran, karena kalau kita sebutkan nama orangnya, maka orang lain akan tahu aib dari orang itu. Misal, “Tahu gak, kemarin si Jessica minjem duit 2 rebu, terus belum bayar, mau nagih malu, masa duit 2 rebu aja ditagih-tagih, tapi da 2 rebu ge hutang, bener teu?” Nah loh, jadi aja orang lain tahu aib Jessica yang punya hutang dan belum dibayar. Coba kalau kalimatnya diganti jadi gini, “Aku teh punya temen yang minjem duit 2 rebu dan belum dibayar, cara nagihnya gimana ya? Malu euyyy”. Insya Allah terhindar dari ghibah kalau caranya begini.

 

  1. Jangan Curhat ke Banyak Orang
http://www.indoforum.top
http://www.indoforum.top

Apa manfaatnya jika kita curhat ke banyak orang? Bukankah hal tersebut hanya akan menjadikan kita sebagai distributor pengedar narkoba aib orang? Jangan sampe ke temen kostan curhat, ke temen kelas curhat, ke temen satu himpunan curhat, bahkan ada tukang sayur lewat pun curhat. Untuk apa? Kalau tidak punya topik pembicaraan yang lebih menarik, lebih baik diam, karena diam itu emas bro.

 

  1. Curhat mah ka Allah
bijikecil.wordpress.com
bijikecil.wordpress.com

Kadang orang yang curhat itu tidak selalu membutuhkan solusi, tapi hanya ingin mengeluarkan unek-unek kekesalan, kemarahan, dan kekecewaan, terus nangis, udah. Dengan begitu, ia akan merasa plong dan sedikit terobati. Toh orang yang curhat, kalau dikasih solusi, ia lebih banyak menyangkal dan membantah daripada menerima dan mengaplikasikan masukan dari kita. Bener gak, atau cuma perasaanku saja? Kalau begitu, alangkah lebih baik jika kita meluapkan unek-unek itu hanya kepada Allah, daripada kepada orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang kerahasiaan aib orang lain tidak terjaga.

 

(Buanariksa)

Facebook Comments

Post Author: Riksa Buanadewi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.