Home > berita > Additional Guitar Giselle Ternyata Orang Majalengka! Begini Kisahnya

Additional Guitar Giselle Ternyata Orang Majalengka! Begini Kisahnya

besoksenin.co – Salah satu orang yang pernah menemani Giselle di atas panggung ternyata orang Waringin, Palasah. Sobat bsco banyak yang tidak tahu, kan? Ialah Gigin Ginanjar -yang sebelumnya kami kenal- dia adalah personil Ovax Band yang menjadi band lokal favorit kami ketika masih sekolah.

Dia juga adalah orang yang nyaris selalu terlibat di tiap kedatangan artis Ibu Kota ke Majalengka. Mulai Rosemarry, Imey mey hingga Cita-Citata pernah ia datangkan ke kota tercinta. Selain membuka les musik Kukuruyuk Music Course, Gigin juga sekarang menjadi guru di SMPN 1 Jatiwangi. Apa yang membuatnya memilih jalan ini? Bagaimana perjalanan hijrahnya?

Minat besar terhadap musik

Sejak masih SD, Gigin sudah memiliki minat yang besar terhadap musik. Masuk SMP mulai ngeband dan sewaktu SMA ia mengikuti les musik di Purwacaraka Cirebon, tanpa sepengetahuan orang-tuanya. Ketika ia terdaftar menjadi murid SMAN 1 Jatiwangi, sejarah baru dibuat. Di sini lah Ovax Band terlahir, yang kemudian terus meroket, sampai berhasil menjuarai festival musik tingkat Kabupaten, Wilayah 3 Cirebon, hingga ke Jawa Barat.

Sempat vakum

Sempat vakum 5 tahun karena kesibukan masing-masing. Pada tahun 2013 mereka mengeluarkan single pertama berjudul “Pesan Kehidupan” dan single Religi “Karuniamu” Puncaknya pada tahun 2014 lagu Kedua mereka “Terasa Indah” diputar serentak di 129 radio nasional.

Gigin bersama Giselle
Gigin bersama Giselle

Menjadi additional guitar giselle

Tahun 2007 Gigin melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Musik Bandung. Tinggal di Kota Kembang, membuatnya akrab dengan aneka kenakalan anak muda. Setelah itu, ia masuk ke dalam management artis dan Labellers (komunitas label seluruh Indonesia). Sisi baiknya, Gigin bisa terhubung dengan artis nasional, namun ia juga menjadi akrab dengan sisi gelap dunia hiburan tanah air.

Ada dua faktor yang menjadi titik balik, membuat Gigin memutuskan untuk hijrah, dan pulang ke kota tercinta. Pertama, ia tahu daerahnya mulai terkenal berkat musik keramik, sebagai orang yang memiliki minat terhadap musik, ia juga ingin ikut ambil bagian, yang belakangan terpikirkan di bagian pendidikan musik. Ditambah Majalengka dengan kehadiran bandara, membuat anak-anak muda harus memiliki daya saing dan perlu ada arahan bagi mereka yang memilih musik sebagai alat untuk bertahan hidup.

Yang kedua, faktor orang tua ingin Gigin membagi ilmu yang diperolehnya untuk anak-anak di daerahnya sendiri. Gayung bersambut, 2016 ia bertemu dengan Gurunya waktu di SMPN 1 Jatiwangi, lalu mendapat tawaran agar menjadi guru honorer di sana. Butuh 1 tahun Gigin memikirkan dan 2017 akhirnya ia menerima pinangan itu.

Gigin tersentuh dan menemukan kedamaian sejati, ketika melihat tawa anak-anak yang bermain musik. Dari sana, ia mulai memikirkan untuk bisa membagikan ilmu yang ia miliki ke khalayak lebih luas. Walaupun itu juga membangkitkan luka lama yang ia terima, ternyata di negeri kita hal ini masih terjadi

Ketika semua anak hanya dinilai dari nilai akademik, untuk berkesenian atau olahraga misalnya, justru anak yang mempunyai bakat itu, mereka masih dipandang sebelah mata. Hal itu yang hari ini sedang Gigin perjuangkan, bahwa musik juga bisa membuat kita berhasil dan membawa kebaikan.

kukuruyuk music course
kukuruyuk music course

Membuka les musik

Awal 2018 Kukuruyuk Music Course mulai berjalan, ternyata mendapat sambutan yang lumayan dari masyarakat. Bagaimana tidak, di Jatiwangi sebelumnya tidak ada tempat les musik. Apalagi sang Owner adalah orang yang kenyang dengan pengalaman panjang di dunia musik.

Terakhir, kami mendapat kabar kalau salah satu murid Gigin berhasil menyabet titel Jura 1 kontes gitar klasik untuk mewakili Majalengka di Jawa Barat. “Saya ingin sekali semua bisa mengerti, mari jadikan musik sebagai pengalaman, dengan bermain musik kita dapat belajar bekerja sama dan mengolah rasa.” Kata Gigin

 

Editor: Fakhrul Azharie

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history