Home > rubrik > besokbaper > Aku Belajar Dari Kartini, Bahwa Kita Harus Berhenti Saling Menyakiti Bukan Berhenti Saling Mencintai
Merenung via pexels

Aku Belajar Dari Kartini, Bahwa Kita Harus Berhenti Saling Menyakiti Bukan Berhenti Saling Mencintai

besoksenin.co – Aku terbangun dengan tulisan besar yang aku tempel semalam di tembok kamarku. Itu adalah sebah note yang ku temukan di media sosial. Siapa yang menyangka, itu merupakan salah satu note dari R.A. Kartini yang akhirnya menjadi penguat bagiku saat ini.

Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti- Kartini

Hubungan yang diharapkan akan mencapai puncak kebahagiaan, namun ternyata Tuhan punya tujuan lain yang lebih baik. Aku yang membuatkan kopi pagimu, menyambut hangat pagimu dengan senyuman, dan menjadi tempatmu pulang saat senja datang ternyata hanya mimpi. Angan-anganku saja, tanpa kamu mengamininya.

Kesedihanku via pexels

Malam itu, kamu memutuskan untuk pergi atau entah aku yang memutuskan untuk berhenti berjuang bersama. Akhirnya kesepakatan itu yang terjadi, meskipun alasannya masih samar, tak nampak jelas dalam pandangku. Suaramu saat mengatakannya terdengar lemah. Lagi-lagi aku tak tau apakah karena pendengaranku yang bermasalah atau suaramu yang berlomba dengan isak tangismu keluar bersamaan.

Kamu via pexelrtini

Namun, yang pasti aku menyetujuinya dengan anggukan dan senyuman. Meskipun setelah punggungmu hilang dari pandangku, tubuhku terasa melayang bagai kapas yang terbawa angin, air mataku tak ingin berhenti, tangan dan kakiku kebas untuk bergerak. Hingga aku tak mampu menenggelamkan diriku ke dalam tanah. Nyatanya, aku justru menenggelamkan diriku pada lubang hatiku yang ku buat sendiri. Dalam.

Baca juga: Untuk Calon Suamiku: Aku Memang Tak Sehebat Kartini, Tetapi Aku Bisa Berjalan Bersamamu Saat Gelap dan Terang Datang

Merenung via pexels

Lama aku mencoba berdamai dengan keadaan. Menghilangkan sedikit demi sedikit perasaan yang telah tercipta. Meskipun setiap benda, setiap kata, dan setiap rasa selalu bermuara padamu. Yang kemudian selalu diiringi dengan hujan yang jatuh tanpa permisi pada pipiku.

Kini, aku mulai mengerti alasan kita harus mengakhirinya. Bukan berarti rasa itu hilang sekejap, bukan aku tak mencintaimu lagi, ataupun kamu tak mencintaiku lagi. Tetapi, kita hanya harus saling berhenti menyakiti.  Berhenti membuat anak sungai dalam mata kita.

Kita harus belajar bahagia via pexels

Kita harus belajar membuat bahagia diri sendiri, sehingga saat kita memutuskan bersama kita akan berbagi kebahagaiaan, bukan malah saling mencipta luka. Kita harus menyadari, saat kita memutuskan bersama yang ada tentunya KITA bukan lagi aku, kamu. Bukan lagi tentang mimpiku saja, mimpimu saja, tapi mimpi kita yang harus diperjuangkan bersama.

Aku tak bisa memaksamu merasakan menjadi aku. Pun kamu tak bisa memaksa aku menjawab pasti semua pertanyaan perihal hati. Karena tak semua tanya memiliki jawaban yang pasti, terlebih tentang rasa.

Facebook Comments

About Kuntum Mutia Umami

Full of dream!- Candu merasa

Check Also

Pejabat ketika meninjau progress Bandara Internasional Kertajati

Tarik Ulur Penerbangan Haji di Bandara Internasional Kertajati

besoksenin.co – Jauh hari sebelum beroperasi, ada alasan mengapa pembangunan Bandara Internasional Kertajati dicanangkan agar …