Aku Menunggumu di Kota Angin (lagi)

dokumen pribadi penulis
dokumen pribadi penulis

Hai, Angin. Bawalah ia kembali ke kotamu. Ada satu jejak yang ia tinggalkan disini setelah ia pergi dari kotamu. Angin, tolong sampaikan padanya jejak itu tlah mengganggu fikiranku dan membuat hatiku selalu tertuju padanya. Berulang kali aku mencoba untuk menepisnya, tapi apa daya ku tak bisa melawan gravitasi hati yang slalu berhasil membuatku terjatuh pada jatuh yang membuatku berasa terbang di angkasa. Jatuh yang membuat taman hatiku berbunga-bunga dan dialah satu-satunya kumbang yang secara gantle man datang ke rumahku dan menghadapi tegasnya ayahku. Tak hanya rupanya yang membuatku jatuh berulang kali, sikapnya pun demikian.

Aku suka lelaki yang memiliki mimpi yang jelas, mimpi yang membuatnya tau masa depannya hendak dibawa kemana, dan mimpi itu tak hanya sekedar bunga tidur yang lenyap kala terbangun, namun mimpi yang mampu ia realisasikan dalam kehidupan nyata saat ia terbangun. Aku suka lelaki baik-baik yang tahu bagaimana cara memperlakukan wanitanya dengan baik-baik. Aku suka lelaki yang bertanggungjawab secara laki dan setia pada satu wanita. Ya, Setia. Karena tak ada satupun wanita yang ingin diduakan lelakinya. Aku juga suka lelaki yang terbuka menceritakan segala ceritanya kepadaku, karena keterbukaan dan komunikasilah yang mampu mempertahankan keharmonisan hubungan dua insan yang berbeda. Dan semua yang ku suka ada di dalam satu sosok lelaki cuek setengah pendiam yang menepati janjinya untuk datang ke rumahku kala ia berkunjung ke tanah kelahiran kita.

Angin, sampaikan padanya jejak yang ia tinggalkan di hatiku tlah berhasil membuatku gila. Ya, membuatku tergila-gila dalam diam mencintainya.

Angin, sampaikan padanya ia harus bertanggung jawab atas peninggalan jejak di hatiku yang tlah membuat hatiku menjadi arena bermain roller coaster. Ia juga harus bertanggung jawab atas rindu yang selama ini bersemayam di lubuk hatiku yang terdalam.

Dan Angin, sampaikan padanya kapan ia akan kembali kesini ? ke tanah kelahirannya yang juga tanah kelahiranku (re: Majalengka). Saat tlah kau sampaikan pesanku padanya, bawalah ia kembali ke kotamu, Angin.

Aku menunggumu disini, di Kota Angin (lagi).

 

Dari aku,

Lembayung Senja.

Facebook Comments

Post Author: Fitri Kinasih Husnul Khotimah

Aku adalah sepenggal diksi yang siap kau jadikan puisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.