Home > rubrik > besokbaper > Aku Tak Tahu kepada Siapa Hati ini akan Memilih. Apakah Aku Benar-benar Menempatkan Hatiku Untukmu?

Aku Tak Tahu kepada Siapa Hati ini akan Memilih. Apakah Aku Benar-benar Menempatkan Hatiku Untukmu?

besoksenin.co – Aku sudah tak ingat berapa kali bibirku tersenyum tanpa alasan semenjak aku bertemu denganmu. Pria dengan mata separuh terbuka serta senyuman manis yang selalu terngiang suaranya. Pria yang beberapa minggu ini, selalu menjadi purnama ketika senja datang menangkap semua cahaya. Kurasa, aku menyukaimu pada pertukaran aksara pertama kita.

Teruntuk pria yang selalu menjadi purnama ketika senja menangkap semua cahaya via pexels

Tak ada yang istimewa tentangnya, dia tidak seperti Dilan-nya Milea, apalagi Juang-nya Ana. Dia hanya seorang pria yang masih mencintai masa lalunya, dan tak pernah tahu bahwa ada puan yang ingin menjadi separuh dari dunianya. Dia bukan pria hebat yang biasa disebut pangeran. Pekerjaannya hanya menggubah sajak dan meramu aksara. Tetapi dalam pandanganku, dia sempurna.

Aku baru mengenalnya tiga bulan lalu. Hitungan waktu yang terlalu cepat untuk menyukai seseorang, katanya. Tetapi lamban ketika siang dan malam, kuhabiskan untuk menunggu. Menerka, barangkali suatu saat ia akan mengirim pesan singkat terlebih dahulu. Nyatanya menunggu memang tak segampang itu, dia tak kunjung tiba membawa pesan singkatnya, dan waktu terasa lebih lamban lagi dari biasanya.

Kita bertemu secara kebetulan dengan alasan yang sama, yaitu aksara. Kebetulan yang memukau untuk ukuran puan mati rasa sepertiku. Ia datang sebagai separuh pemimpin dalam pertemuan itu. Dengan irama yang tulus, yang belum pernah kudengar sebelumnya, ia bertanya, “Sudah mengerti belum, dek?” lucu memang, hanya sekedar kalimat itu, seorang pria mulai mengubah duniaku.

Untuk kali pertama, aku terkagum melihat senyumannya. Itu membuat perasaanku menjadi tak terkendali, terlebih sunggingannya tak beralih ke arah yang lain lagi. Air mukaku memang sangat baik-baik saja, seperti biasanya. Namun debaran jantungku, ia tak henti-hentinya membuat kesalahan dengan bergerak kesana kemari tak beraturan.

Setelah hari itu, aku mencarimu. Mencari tahu tentangmu, bahkan sampai tidak bisa tertidur karenamu. Kau tiba-tiba terjebak dalam imajinasiku. Suaramu jelas terekam di dalamnya. Seperti melodi permanen yang terus berulang-ulang, suaramu tak bisa di pause apalagi dihentikan.

Seperti melodi permanen yang terus berulang-ulang, suaramu tak bisa di pause apalagi dihentikan via pexels

Teruntuk pria dengan mata separuh terbuka, bukalah mata “hatimu” selebar-lebarnya. Lihat dengan seksama, siapa yang suatu saat dapat menunggumu begitu lama. Jangan sampai masa lalu menjadikan hatimu sedingin salju, menutupnya rapat-rapat hingga menjadi beku.

Aku pun tak tahu mengapa hatiku tiba-tiba memilihmu, tetapi, apakah aku benar menempatkan hatiku untukmu? Salahkah bila aku terus memohon kepada Tuhan agar kembali bertemu denganmu dilain waktu? Aku harap, dipertemuan kita selanjutnya, kau tak hanya pandai berbicara, tetapi juga pandai menafsirkan rasa.

Editor: Riksa Buanadewi

Facebook Comments

About Elvira Mentari A

A girl who lives among the words.

Check Also

Denganmu, Aku Ingin Membangun Rumah Tangga di Majalengka

besoksenin.co – Entah siapa kamu, bagaimana cara kita bertemu, aku hanya percaya kita terus saling …

Tinggalkan Balasan