Home > berita > Awal Mula dan Apa Saja yang Dilakukan Cecile di Jatiwangi?
Bagaimana awal mula Cecile dan apa saja yang dilakukan? Via Pandu Rahadian

Awal Mula dan Apa Saja yang Dilakukan Cecile di Jatiwangi?

Bagaimana awal mula Cecile jualan di Jatiwangi,  dan apa saja yang dilakukan? Via Pandu Rahadian

besoksenin.co – Sebagai mahasiswi Design Academy Eindhoven, Cecile Espinasse ikut hadir di event design internasional di Belanda pada 2015 silam, dan satu-satunya presentasi yang membuat perempuan Perancis ini “jatuh hati” adalah dari seniman Indonesia, Jatiwangi art Factory, Alghorie. Adalah keberhasilan Jatiwangi membuat sebuah performa seni dengan melibatkan masyarakat, orang banyak. Itu sangat memukau Cecile, hal yang menurutnya sangat penting, tetapi juga bakal sangat sulit diterapkan di Eropa. Selepas acara, ia coba menggali informasi lebih dalam, mencoba nongkrong, dan terlibat beberapa diskusi dengan Alghorie dan kawan-kawan, dan itu malah membuatnya semakin kesemsem dengan Jatiwangi. Setelah itu, Cecile menggunakan waktunya agar bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat Jatiwangi.

Sistem akademik Belanda ternyata memiliki program seperti KKN di Indonesia, ketika nyaris seluruh temannya memilih mengunjungi Afrika. Perempuan asal kota Strasbourg ini sudah tahu ke mana bakal pergi, tentu ia menggunakan kesempatan ini untuk menjawab rasa cintanya pada Jatiwangi, “Kenapa saya memilih Indonesia? Kamu sudah tahu jawabannya, tentu itu karena JaF!” jelasnya.

3 tahun menanti, 3 bulan lalu perempuan kelahiran 1994 ini akhirnya bisa mengunjungi Indonesia! Menurutnya, negara ini sedikit di luar ekspekstasi, “Di sini atmosfernya sangat luar biasa, bagaimana semua orang menyambut saya. Iya, saya seperti superstar di sini (menyinggung kebiasaan orang Indonesia yang suka berswafoto dengan bule). Di Eropa, kita hanya bisa meminta pertolongan pada orang yang sudah kita kenal, tapi di sini kamu bisa mendapatkan bantuan dari semua orang!” Cecile juga menganggap orang Indonesia itu lebih ramah, easy going, walaupun ia sempat menyoroti tentang kebiasaan merokok dan penggunaan plastik di mana-mana. Namun, itu tidak apa-apanya dibandingkan energi positif yang ia dapatkan dari seluruh penjuru, orang Indonesia yang melakukan banyak diskusi non formal untuk selesaikan masalah, semuanya memungkinkan. “Kalau lapar, tinggal makan. Kamu tak akan merasakan kelaparan di Indonesia, bahkan bisa makan di rumah tetangga!” Secara keseluruhan, Jatiwangi semakin melekat di hati Cecile, ia mengaku mendapatkan banyak sekali ilmu baru di sini.

Pandangan tentang makanan bisa sangat kompleks via Pandu Rahadian 

Design prodi food and non-food, Cecile memilih makanan sebagai objek yang ia teliti.
Setelah beberapa lama, dan puas melakukan penelitian tentang perilaku orang Indonesia terhadap makanan. Pada satu waktu, ia sudah sampai pada kesimpulan bahwa orang Indonesia menggandrungi street food. Lalu, memanfaatkan momentum ramadan dan budaya ngabuburit, ia ingin melakukan observasi sebagai pedagang, yang hadir jualan ketika orang-orang sedang nongkrong menunggu buka puasa. Jadi, motivasi Cecile berjualan bukan seperti cerita pemain asing sepakbola kita yang gajinya tidak dibayar klub, mencoba menyambung hidup dengan berjualan, melainkan ini semata-mata demi kepentingan penelitian yang sedang ia kerjakan. Apalagi jika dikatakan Cecile adalah orang asing dampak hadirnya Bandara, yang segera menggeser warga lokal dan menguasai Majalengka.

Kadang Cecile mendesain pisangnya seperti ini via Pandu Rahadian

“Kamu adalah apa yang kamu makan, misalnya, mata kamu bakal sehat, ketika kamu rajin mengonsumsi wortel. Makanan juga kebudayaan, saya melihat orang Indonesia terbiasa memasak bersama-sama. Makanan juga melibatkan emosi, kadang-kadang karena makanan kamu bisa merindukan ibu, kan? Perilaku kamu juga bakal berubah ketika ada dan sama sekali tak ada makanan. Atau, mengapa kalian berpuasa? Itu juga berkaitan dengan makanan,” jelas Cecile, ketika kami bertanya apa hubungannya makanan dengan design, sebab kebanyakan dari kita menganggap makanan hanya sekadar makanan.

Soal pisang bakar, perempuan yang pernah 2 tahun tinggal di Paris ini mengatakan, memilih pisang karena, menyukai bentuknya, aneka jenisnya, warna kulitnya sebelum hingga jelang matang. Kadang ia mengeksplorasi membuat pisang menjadi beraneka bentuk, seperti mengiris kecil-kecil, baru kemudian dibakar. Jelas itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan design.

Belajar bahasa Indonesia, bahkan sunda, berinteraksi langsung dengan warga lokal, bertanya banyak hal tentang makanan, mengayuh becak, menjual pisang bakar. Sebagai mahasiswi Design Academy Eindhoven, salah satu akademi terbaik di dunia, Cecile Espinasse sudah melakukan yang terbaik. Semoga berhasil, dan memberikan kontribusi untuk ilmu pengetahuan!

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history

Check Also

Youbi Crispy, Sensasi dan Inovasi Menikmati Ubi dengan Cara Baru!

besoksenin.co – Kita sebagai orang Majalengka, generasi zaman now atau old, pasti akrab dengan ubi. …