Bikin Sakit Hati! Ternyata Owner Waroeng Dialogue Masih Berusia 19 Tahun

Owner Waroeng Dialogue yang bisa jadi bikin kamu sakit hati via Yusyron Muhamad

besoksenin.co – Satu-satunya hal yang membuat tidak nyaman dan membuat hati kami berlubang; ketika pertama kali mengunjungi Waroeng Dialogue, adalah mengetahui bahwa pemiliknya lebih muda dari kami, 19 tahun, sob! Di usia segitu, kita mungkin masih di suruh emak, galauin mantan, atau nongkrong main gitar nggak jelas. Muhammad Yusyron sudah me-manage kafenya yang beralamat di jalan Siti Armilah No. 666.

Padahal pemuda asal desa Talaga Wetan, kecamatan Talaga ini; memiliki latar belakang pendidikan kehutanan dan alumnus SMKN Kehutanan Kadipaten. “Kalau sekolah di sana, kita digojlok setelah keluar berpenghasilan dengan orientasi pegawai. Kalau jadi pegawai nggak bebas, saya pengen nyantai. Saat PKL saya menemukan berbagai macam kafe di luar kota, dan berpikir kenapa saya nggak bikin saja di Majalengka?” tutur pemuda yang lahir pada 2 Agustus 19 tahun silam ini.

Jangan heran jika kita menemukan unsur kehutanan di Waroeng Dialogue. “Saya pingin sinkronkan dengan basic saya. Pingin ada yang berbau kehutanan. Kita bikin alam, nggak mau melepaskan. Soalnya kehutanan itu sesuatu yang penting,” tambahnya.

Meski saat ini berhenti dengan perjalanan edukasi hidupnya, pemuda yang pernah bersekolah di SMPN 1 Talaga ini mengaku ingin melanjutkan pendidikan suatu saat nanti. Ia ingin fokus pada karirnya terlebih dahulu. Pulang ke Talaga pun hanya setiap 1 atau 2 kali seminggu, dan sesekali ke Tasik. Seperti diketahui, Waroeng Dialogue memang membuka kafe juga di Tasikmalaya.

Urusan asmara Yusyron memang masih jomblo, jadi sobat bsco yang menaruh minat untuk menjadi Nyonya Dialogue masih ada kesempatan tuh. Tenang Yusyron, admin-admin bsco, juga jomblo semua. Orang keren emang selalu jomblo.

Yusyron ingin sekali memberi kontribusi pada Majalengka via Yusyron Muhamad

Latar belakang Yusyron membuat Waroeng Dialogue salah satunya juga adalah rasa cinta terhadap Majalengka, ingin memberi kontribusi pada kota tercinta. “Saya sering PKL ke kota-kota lain, di tiap kota, ambilah Cirebon. Di kota lain minat generasi muda sudah tertampung, tapi di Majalengka masih sedikit. Padahal ketika mereka bisa terus berkarya, itu akan membuat mereka mendapatkan income dari karyanya dan itu akan menambah motivasi mereka untuk lebih bersemangat lagi dalam berkarya,” selebihnya, ia mengajak kita untuk terus berbicara (dengan berkarya), karena Majalengka di gadang-gadang bakal menjadi kota besar, dan ini momentum. “Ketika sebuah kota berkembang, orang-orangnya (generasi mudanya), dan budayanya juga harus ikut berkembang,” tegas Yusyron, ia juga sempat menyinggung tentang keberhasilan yang dilakukan oleh JaF, karena mengembangkan budaya.

“Potensial banget, hanya saja pecuma kalau mereka potensial tapi ga di-follow up, dan tidak ada yang mewadahi. Kalau (anak muda) Majalengka yang memiliki bakat, terus ada yang mewadahi, itu baru dapat membuat orang untuk melirik (anak muda) Majalengka. Yang saya lihat hari ini, mereka belum ada yang mewadahi,” jawab pemuda kelahiran 1997 ini, ketika besoksenin.co bertanya pendapatnya mengenai generasi muda Majalengka. Yusyron berpesan agar kita harus terus berkarya, sebab setiap karya memiliki nilai jual. Kita dapat merasakan hasilnya suatu saat.

Meski di usia yang tergolong dini, pemuda dengan akun instagram @yusyronmuhamad ini mengaku amat menikmati hidupnya. Dengan umur yang baru 19 tahun, pengalaman yang belum terlalu banyak, ia bertemu dengan banyak batu sandungan. “Saya rasa itu risiko. Ibaratnya kita sudah anclup, maka teruslah berenang, agar bisa survive.

Waroeng Dialagoue baru saja merayakan anniversarry-nya yang pertama, Yusyron mengaku sangat bahagia, dan berharap kafenya bisa memberikan pelayanan lebih baik, dan terus menjadi ruang agar generasi muda Majalengka bisa terus berkarya. Ia berencana dalam waktu dekat, ingin membuka angkringan baru di Talaga demi membuka ruang kreatif untuk anak-anak muda di sana. “Saya berasal dari Talaga, lahir sampai SMP di sna, saya juga ingin berkontribusi pada kampung kelahiran. Doakan saja.” Tutup Yusyron.

Bagaimana? semoga kisah Yusyron ini bisa membuat kamu terisnpirasi ya, dan lahir Yusyron-Yusyron lainnya di Majalengka. (Tommi Pringadi)

Facebook Comments

Post Author: Tommi Pringadi

Seorang jomblo profesional yang bercita-cita bikin sunatan massal. I am not player, i am the game. :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.