Binaraga Jebor Jatiwangi Melibatkan 5 Negara. Kurang Keren Apa, Coba?

besoksenin.co – Hari yang cukup terik selepas salat Jumat (8/11/2017) tidak menyurutkan antusiasme masyarakat Jatiwangi, terutama di Desa Loji dan sekitarnya untuk menjadi saksi “Pertarungan Otot” antar para pekerja Pabrik Genteng (Jebor). Tak kurang dari 500-1000 orang terkonsentrasi di Tenang Jaya, daerah sekitar salah satu Pabrik Genteng terbesar di Desa Loji ini pun mendadak penuh oleh deret mobil, bahkan banyak pedagang asongan yang mangkal dan berkeliling. Ini memang pesta yang sebenarnya bagi masyarakat Jatiwangi.

“Kita bisa lihat beberapa kota besar di sekitar yang seakan tidak memiliki identitas, kita (Jatiwangi/Majalengka) juga diambang menjadi kota besar. Ini adalah bentuk kami mempertahankan kebudayaan,” tutur Illa Syukrillah, salah satu panitia yang ditemui besoksenin.co.

Seperti kita ketahui bersama, bahwa Jatiwangi memang terkenal dengan kebudayaan Genteng, bahkan pada masa kejayaannya pada sekitar tahun 1980 hingga tahun 2000, berhasil ekspor hingga Timur Tengah. Namun sekarang, tak kurang dari 20 Jebor atau Pabrik Genteng gulung tikar tiap tahunnya. Maka even ini memang bisa disebut sebagai perlawanan masyarakat Jatiwangi terhadap kerasnya zaman.

Perlawanan ini tidak sia-sia, sebab banyak sekali yang mengapresiasi salah satu even kreatif annual ini, banyak media yang kelas nasional yang datang. Kami melihat Kompas, dan Liputan6 di sana. Lebih menariknya lagi, acara ini mendapat perhatian langsung dari mancanegara. Perwakilan 5 negara datang; Jorgen dan Hanna dari Australia, Van Hoe dan Marielle dari Belanda, George dan Josette dari Inggris, Dominic dari Swiss. 7 orang itu terlibat dalam acara, Jorgen dan Hanna membantu MC, bahkan Van Hoe dan George sempat naik panggung untuk mencoba bagaimana rasanya mengangkat genteng. “Betul, kebetulan ada beberapa orang dari luar (negeri) yang sedang berproses di sini, dan tertarik pada acara ini juga,” komentar Illa, ketika ditanya perihal bule-bule yang terlihat tersebut. Beberapa kali mereka ikut bersorak hingga berjoged ria bersama warga Jatiwangi.

Acara ini dimulai setelah salat Jumat, selesai jelang Magrib, dan Pak Oman dari PG Pasaka Burujul lah yang keluar sebagai juara. Illa berharap dari acara ini, Warga Jatiwangi bisa memahami bahwa dirinya keren. Acara-acara seperti ini memang harus dilestarikan, dan yang lebih penting jangan sampai kita kehilangan identitas kita ini! Mari terus berjuang, sebab kita ini keren. (Tommi)

Ditulis oleh Tommi Pringadi

Seorang jomblo profesional yang bercita-cita bikin sunatan massal. I am not player, i am the game. :))

Lihat profil lengkap