Home > rubrik > besokeling > Budaya Kita adalah Ngajak Bukber, tapi Cuman Wacana
Ngajak Bukber tapi wacana
Ngajak Bukber tapi wacana

Budaya Kita adalah Ngajak Bukber, tapi Cuman Wacana

besoksenin.co – Indonesia adalah negara yang memiliki banyak budaya. Bukan hanya banyak ding, tapi juga keren. Saking banyaknya, kita sendiri sebagai warga mungkin lupa atau tidak sadar ada budaya ngajak bukber, tapi cuman wacana.

Entah siapa pencetus budaya ini, yang jelas ini berlangsung turun temurun dari generasi ke generasi. Kalau gak percaya, coba tanya orang tua kalian, di grup whatsapp-nya ada ajakan bukber tapi ujungnya gajadi alias wacana gak? Pasti ada.

Ngajak Bukber tapi wacana
Ngajak Bukber tapi cuman wacana via @bscocafe

Lalu, ini menurun ke kita. Di awal bulan Ramadan sampai beberapa hari lagi menuju lebaran, banyak chat yang isinya ajakan bukber. Mulai dari grup kantor, kampus, angkatan SMA, grup kelas SMA, eskul SMA, angkatan SMP, kelas SMP, eskul SMP, SD, Kober, Madrasah, gebetan, mantan, mantan gebetan, pokoknya banyak deh kayak janji caleg pas kampanye, eyak.

Walaupun gak semuanya berakhir dengan wacana, tapi ada saja yang berakhir tidak jelas. Biasanya ada chat berupa menginisiasi untuk mengajak bukber lalu berujung seperti ini,

“Kuy, ah bukber.”

“Hayu..”

“Y X G = KUY”

“Agendakan.”

“Eh, Minal aidzin walfaizin ya semuanya”

“Iya, aku juga minta maaf kalau ada salah.”

“Kalian semua saya maafkan.”

Eh tiba-tiba udah lebaran.

Banyak hal yang membuat bukber berakhir dengan wacana, diantaranya adalah :

Sulit menentukan Waktu

Saya sendiri sering mengalami hal ini Misalnya jumlah penghuni grup ada 30 orang. Ketika melakukan votting untuk menentukan tanggal bukber, hasilnya adalah 10 orang memilih tanggal 20, 10 orang tanggal 21, 2 orang tanggal 22, 8 orang tanggal 23. Kalau udah gini kan serba salah, sob. Kayak ngadepin cewek pas PMS. Mau milih tanggal 22 yang dating cuman 2 orang, mau milih tanggal 23 yang gak datang ada 22 orang. Solusinya mungkin dibuat seperti cinta fitri, dibagi ke beberapa part. Part 1 tanggal 20, part 2 tanggal 21, begitupun seterusnya. Nanti, fotonya diedit supaya dalam satu frame. Terus upload deh, captionnya “Anti wacana-wacana klub!”.

baca juga : 5 Tempat yang Ramai Dikunjungi ketika Bulan Ramadan

Masalah Finansial

Bahasa kerennya mah teu gaduh cicis.  Sebenarnya kalau kamu mengalami hal ini, penulis punya solusinya, Sob. Kalian bisa pergi ke bscocafe, tempatnya ada di jalan bhayangkara nomor 134a dekat lapang basket SMAN 2 Majalengka. Ada paket bukber murah tapi berkah. Dengan 20 ribu, kamu bisa dapat makan, minum, dan pisang goreng untuk takjil.  Tsadaap.

Solusi bukber tapi wacana via bscocafe
Solusi bukber tapi wacana via bscocafe

Solusi lainnya kalian bawa sendiri makanannya dari rumah, tinggal bawa misting alias tempat makan. Gak usah gengsi atau malu-malu, kan tujuan bukber itu foto-foto terus update kumpul-kumpulnya. Kalian gak sendirian kok kalau melakukan ini, soalnya penulis juga sering.

NATO (No Action Talk Only)

Biasa kita kenal dengan istilah Babangus hungkul, tapi teu gerak. Kalau ini penulis kurang yakin yang ngajak emang serius bukber, karena cuman ramai di awal tapi ketika ditanya pergerakan mah gak ada.

“Bukber yuk”

“Kuy”

“Gas”

“Sikat”

“Kapan?”

Terus, gak ada yang jawab. Sampai beberapa hari kemudian.

“Hayu, jadi gak bukber teh?”

“Kuy”

“Gas”

“Sikat”

“Kapan?”

Terus ilang lagi. Siklusnya berulang sampai Lebaran tahun 2080.

Bucin alias Budak Cinta

Kalau kalian pernah ngalamin kayak gini, sama. Penulis juga belum pernah.

Tapi ada loh, sob yang alasan bukbernya berakhir wacana gara-gara bucin. Sebut saja nama si bucin ini Anto. Grup kelas SMA Anto rencananya bakal bukber tanggal 20. Lalu dia  memberi konfirmasi bisa ikut, “Kuy lah” tulisnya, di grup chat. Namun dia lupa belum minta izin ceweknya yang sangat protektif kayak, kayak apa? Kayak itulah pokoknya.

“Yang, aku mau bukber sama anak kelas pas SMA, ya.”

“Kelas berapa?”

“Kelas 10.”

“Gaboleh! Enak aja, itumah modus kamu biar bisa ketemu mantan kamu si Sulastri!”

Nahas, Anto gak dikasih izin. Mau gak mau, dia kembali konfirmasi di grup bahwa gak bisa ikut. Karena gengsi kalau jujur, dia beralasan ada acara keluarga. Namun tetap saja, ini bisa mempengaruhi psikologis anggota grup yang lain. Mereka menjadi ragu-ragu untuk datang, apalagi kalau Anto punya geng semasa SMA. Ujung-ujungnya bukber kembali menjadi wacana.

Dari sekian banyak budaya yang dimiliki oleh Indonesia, beberapa ada yang diklaim oleh negara lain. Mulai dari batik, tari piring, alat music gamelan, angklung, hingga lagu bengawan solo. Kita semua ramai-ramai bikin petisi bahwa budaya tersebut adalah milik Indonesia.

Dear negara-negara yang mau klaim budaya Indonesia, kalau mau ambil nih budaya ngajak bukber, tapi sebatas wacana. Dijamin gak bakal ada yang bikin petisi.

Eh, atau kalian tetap mau bikin kalau itu budaya Indonesia?

 

 

 

 

 

Facebook Comments

About Riza D. Januar

Cowok yang berwajah susah | Susah dilupain

Check Also

Program City Branding, Majalengka Gandeng New York

Majalengka Gandeng New York? via pixabay Program City Branding, Majalengka Gandeng New York besoksenin.co – …