Home > rubrik > besokeling > Bus Widia Adalah Kita
Kita tahu bus Widia adalah bus yang selow via iamiwan_n

Bus Widia Adalah Kita

Bus Widia adalah kita via Didi Koesmajadi

besoksenin.co – Meski “menyebut merek”, tetapi pihak Bus Widia sama sekali tidak menyeponsori tulisan ini. Hanya saja, Majalengka bersama kita masyarakat di dalamnya: Rasanya dapat direpresantasikan oleh Bus Widia dan penumpangnya.

Pertama, kita pasti bersepakat bahwa kehidupan ini serupa perjalanan. Di Widia ada berbagai macam latar belakang penumpang, ada tukang kredit, pekerja pabrik, pedagang, hanya ada yang ingin mengunjungi sanak saudara saja. Pun kita, kita berbagai macam background, ada pengusaha, pemilik kafe, musisi, aktivis, atau media seperti kami. Kita sama-sama menggunakan bus bernama “Majalengka” ini untuk mencapai sebuah tujuan

Di Bus Widia, ada yang mau ke Subang, Karawang, atau Bekasi, setiap pemumpang memiliki tujuan berbeda.  Pun pengusaha, musisi, atau aktivis di Majalengka sebenarnya punya tujuan yang berbeda.

Jika naik bus umum, kita sudah terlalu terbiasa dengan atmosfer di dalam bus yang bermacam-macam, dari penumpang yang beraneka ragam, yang menggunakan bahasa atau logat berbeda. Namun, jika kamu naik Widia. Paling yang duduk sebelah kamu itu orang Rajagaluh, di bangku depan orang Cikijing. Ya, saat di pemberhentian di Kadipaten, bus selalu penuh, artinya nyaris di tiap keberangkatan isinya orang Majalengka semua. Jadi bukan hal yang aneh jika atmosfer Majalengka terbangun sendirinya, rasanya seperti piknik keluarga.

Baca juga: 10 Hal yang Hanya Dapat Dirasakan Penumpang Bus Widia

Bis Widia yang jenis ¾ memaksa kamu untuk berdekatan dengan orang lain, tak peduli seberapa pun kamu ingin sendiri, kamu harus tetap berdekatan dengan orang lain. Bus ini memaksa kita berinteraksi, tak peduli seberapa tak inginnya diam saja, kamu harus tetap bicara. Di Majalengka juga, rasanya kedekatan emosional selalu terbangun sendirinya, dan akhirnya kita orang-orang yang sama-sama ingin berkontrobusi untuk kota ini, akhirnya merasa menjadi sebagai keluarga.

Ketika mencapai Indramayu atau jelang pintu masuk Cikampek, pasti ada saja pengamen yang menyanyikan lagu pantura, atau tukang asongan yang menawari barang/makanan yang sebenarnya kita tak butuhkan itu. Di Majalengka, memang selalu ada orang-orang yang masuk ke dalam lingkaran kita, orang yang sebenarnya tak memiliki tujuan seperti kita, hanya demi memanfaatkan situasi orang banyak demi mengumpulkan pundi-pundi uang. Ya, ketika kita membayar ongkos untuk menaiki Bus Widia, orang-orang ini masuk gratis, dan bahkan bisa keluar mendapatkan uang, meski di dalam hanya sebentar.

Kita tahu bus Widia adalah bus yang selow via iamiwan_n

Kita tahu bahwa Widia adalah bus yang selow, terlalu selow. Namun, kita tetap menaikinya. Majalengka juga sama selownya, namun kita tetap menaikinya. Bus Widia bukan bus yang mewah, bahkan ada beberapa yang terkesan kumuh, namun kita tetap memilihnya, seperti kita memilih Majalengka.

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history

Check Also

Sengaja sampingnya diblur, biar bingung kampus mana via Yogi Nantha

Saya Ingin Menggampar Mahasiswa!

besoksenin.co – Waktu SMP saya pernah digampar. Hampir setiap ada turnamen basket, pelatih selalu menggampar …