Home > rubrik > besokeling > Generasi Idiot Majalengka

Generasi Idiot Majalengka

Generasi Idiot Majalengka

besoksenin.co ­– 2015, saya memutuskan resign dari Kantor, meskipun kontrak kerja masih menyisa 6 bulan. Bukan untuk ingin dekat dengan keluarga, atau tak kuat LDR; satu-satunya alasan untuk berhenti, adalah karena melihat bahwa Majalengka sedang “terancam” dan membutuhkan banyak bantuan, sehingga saya bisa tinggal, leluasa, juga banyak waktu, demi berbuat sesuatu untuk menolong kota ini. Saya yakin, mayoritas sobat juga mendapat penglihatan ini. Kalau tidak, mana mungkin kita membahas upaya penyelamatan di forum-forum, city branding-lah, kampanye tentang produk lokal-lah, dan upaya-upaya lainnya. Beberapa orang, mulai dari pejabat pemerintahan hingga aktivis sosial pernah berbicara pada saya, kalimat yang berbunyi mirip-mirip seperti ini, “Majalengka saat ini mengalami berbagai kemajuan, karena beruntung memiliki generasi emas anak muda; yang mau muncul ke permukaan, yang mau terjun ke lapangan, dan menciptakan berbagai inovasi di kota ini.” Sejenak, ungkapan “Generasi Emas” ini, mengingatkan saya pada timnas Belgia 2018; saat Eden Hazard, Romero Lukaku, Kevin de Bruyne, Thibaut Cortuis berada dalam satu skuad, itukah pengertiannya? Benarkah kita generasi emas? Atau, justru generasi idiot?

Kita bukan timnas Belgia, bukan pula pasukan Muhammad Al-Fatih yang dijanjikan oleh Allah menaklukan Konstatinopel. Kita ini bukan hendak memulai penaklukan sebuah kawasan, teritori kita justru sedang terancam ditaklukan, oleh kekuatan besar dari sebrang. Bukan pihak yang menyerang, justru kita ini pihak yang dipaksa bertahan!

Kita ini generasi idiot, dalam kasus Kertajati, saat pembangunan hingga Bandara sudah jadi, kita berbesar kepala dan mengatakan kalau BIJB adalah kebanggaan. Saat melihat Petani setempat mencoba melawan, kita malah risih, mulai mencap mereka sebagai orang-orang yang tak mau menerima kemajuan zaman. Namun, ketika Bandara bermasalah dan disebut dengan Infrastruktur pemborosan yang tidak diperlukan, kita malah menyalahkan pemerintah. Walaupun saat ini bandara mulai kembali aktif, namun apakah ada peran kita sebagai masyarakat Majalengka mengenai aktif atau non-aktinya Bandara Kertajati?

baca juga : http://besoksenin.co/hidup-lagi-77-penerbangan-terbang-di-kertajati/

Kita ini idiot, kita membuat banyak sekali forum, namun bertahun-tahun kita hanya dapat membuat forum. Saya ingat, 2016 kita pernah membahas tentang City Branding, 3 tahun berikutnya kita masih saja mengulas masalah yang sama. Jadi apa yang salah? Jangan-jangan, kita melakukan kesalahan terbesar dalam komunikasi;  kita mendengarkan pendapat orang lain agar bisa menyanggah, bukan agar mengerti apa yang dia sampaikan.

Beberapa waktu lalu, kita membesar-membesarkan masalah sampah di Cilongkrang, hingga memention Ridwan Kamil. Bukankah sebaiknya kita memanggil beliau atas prestasi kita, atas penyelenggaraan festival yang tak pernah ada di kota lain, atau keindahan alam Majalengka? Kita membuat gerakan Aksi Cinta Sampah, dan memungut sampah-sampah yang berserakan seolah babu. Bukankah lebih baik kita menciptakan sistemnya? Yang membuat masyarakat tidak lagi buang sampah sembarangan. Orang Indonesia pun kemungkinan akan buang sampah pada tempatnya jika sedang berada di Singapura, itu karena perbedaan sistem kan?

Kita ini idiot kan? via pixabay

Di berbagai aspek yang lain, tentu saja kita produktif, sangat produktif. Banyak dari kita menciptakan lagu, fashion, youtube, bisnis, juga festival. Bahkan beberapa diantaranya, pemerintah ikut serta.  Namun kita selalu menjadikan Bandung sebagai role model. Kalau semuanya sudah ada di Bandung? Mengapa mereka harus datang ke Majalengka? Untuk alasan apa bandara ramai? Kita ini, idiot, kan?

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history

Check Also

Program City Branding, Majalengka Gandeng New York

Majalengka Gandeng New York? via pixabay Program City Branding, Majalengka Gandeng New York besoksenin.co – …