Home > berita > Hal Mengejutkan Dibalik Spot Baru di Panyaweuyan

Hal Mengejutkan Dibalik Spot Baru di Panyaweuyan

besoksenin.co – Bulan ini adalah bulannya Panyaweuyan. Tanaman bawang yang sudah hijau, akses jalan yang semakin bagus, ditambah lagi ada dua spot baru yang mampu menarik ratusan bahkan ribuan orang datang ke tempat wisata yang ada di Argapura ini.

Dua spot foto terbaru ini berupa panggung dari kayu dan bangunan mirip rumah panggung menyerupai segitiga. Keduanya terlihat keren dan instagram-able banget. Tak heran jika banyak orang yang datang dari berbagai daerah untuk berburu foto di spot tersebut.

Ramai banget, kayak pasar Kadipaten kalau pagi-pagi via @ryan_andriyanto

Akun media sosial yang ada “embel-embel” Majalengkanya (termasuk @besokseninco) silih berganti memosting spot foto terbaru di panyaweuyan. Hal ini merupakan salah satu cara meningkatkan followers menggencarkan promosi wisata di Kabupaten Majalengka.

Namun, ada hal mengejutkan yang membuat saya geleng-geleng kepala tentang spot baru yang jadi primadona di Panyaweuyan.

Ceritanya begini, kemarin siang (jika kalian membaca tulisan ini tanggal 29 Januari 2020) saya pergi ke Panyaweuyan. Jangan ditanya dengan siapa, yang pasti bukan dengan pacar.

Tujuan saya jelas, ingin melihat spot baru yang viral di media sosial. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat pendakian rasa yang dulu sudah ada.

Jalur pendakiannya tidak terlalu jauh, namun cukup untuk membuat orang hahehhoh kecapekan. Apalagi jika sobat bsco naik sembari gendong kabogoh batur, dijamin capeknya bisa berkali-kali lipat dari biasanya.

Bagi sobat bsco yang belum pernah ke sana harus berhati-hati karena jalur tersebut sering dilalui petani bawang yang membawa sepeda motor. Kalau jalannya main hape, apalagi sambil stalking mantan, hati-hati bisa keserempet.

Sepanjang pendakian, saya merasa ada yang kurang. Bukan karena mendaki sendirian lho, ya. Tapi karena di sana belum ada tempat sampah sama sekali! tidak heran ada beberapa botol yang berserakan.

Sejauh mata memandang, belum ada tempat sampah

Meskipun tidak adanya tempat sampah bukan sebuah pembenaran dari buang sampah sembarangan. Namun, tempat sampah adalah salah satu fasilitas standar yang harusnya ada di tempat wisata. Jangan menuntut agar pengunjung menjaga kebersihan jika pihak yang bertanggung jawab saja seolah tidak peduli dengan kebersihan.

Setelah puas ngedumel karena gak ada tempat sampah mengunjungi dua spot baru, saya turun ke bawah. Ngobrol dengan Mang Maman, penjaga parkir sekaligus penjual rokok dan minuman.

Ngobrol bareng Mang Maman (pakai topi) dan temannya sesama petani bawang

Awalnya perbincangan kami membahas tentang pengunjung Panyaweuyan yang meningkat signifikan. Waktu itu, belum ada Kang Maman, sehingga parkir motor berantakan dan membuat kemacetan.

“Awal ramai mah jalanan sampai macet, a. Gak ada yang ngurus lahan parkirnya, orang nyimpen motor sembarangan.” Ujarnya, sambil sebat.

“Terus, a. Dulu sebelum ada plang dilarang masuk motor” sembari menunjuk sebuah plang tepat sebelum jalur pendakian.

“Banyak pengunjung yang bawa motor ke atas. Petani bawang protes, jadinya kehambat. Terus mereka takut nyenggol motor pengunjung. Kalau motor petani bawang mah gapapa, tapi kasian motor pengunjungnya nanti jadi lecet.” Lanjutnya.

Motor dilarang naik, mobil boleh. Mobil tamiya tapi

“Oiya, Mang. Di sini kok belum ada tempat sampahnya, ya? di sepanjang jalur pendakian kok belum ada tempat sampahnya, ya?”

“Kayaknya karena tahap pembangunannya belum selesai, A. Malah ini seharusnya belum boleh dulu dibuka untuk umum. Toilet aja belum ada”

“Lha, kalau emangnya belum boleh dibuka, kenapa Mang Maman jaga di sini dan tidak ada tanda larangan.”

“Dulu pernah ada tali samodel rapia warna koneng (maksudnya line) sebagai tanda gaboleh masuk, A. Tapi dirusak sama pengunjung.”

Saya kaget, kok bar-bar gini pengunjung yang datang. Untung gak terjadi apa-apa. Coba kalau terjadi sesuatu yang gak diinginkan seperti terpeleset karena jalan licin, pingsan karena kelelahan nanjak, motor dicuri, terjadi longsor, ataupun accident, siapa yang bertanggung jawab? Pemerintah? padahal sudah jelas ada line tanda gaboleh masuk, tapi tetep maksa.

Eh ralat, deng. Gak ada untungnya. Wong wisatawan bar-bar ini maksa masuk, merusak line. Sehingga orang lain yang datang ke sana jadi gak tahu bahwa seharusnya spot itu belum boleh dipergunakan, termasuk saya.

Belum adanya tempat sampah hanyalah satu dari banyak fasilitas lain yang belum tersedia di spot baru tersebut. Diantaranya papan petunjuk, jalur evakuasi, toilet, dll. Hal ini karena pembangunannya belum rampung.

Selain itu tiket parkir saja belum ada, Mang Maman menjelaskan hal tersebut,

“Soalnya memang belum resmi, A. saya saja di sini sebenarnya bukan niat mengawasi motor, hanya merapikan saja. Pungutan untuk uang parkir pun seikhlasnya, tidak dikasih pun gak apa-apa. Tapi, yaa masaa kendaraannya sudah dirapikan, tapi ngasih seribu aja gak ada.” Ujarnya, diikuti tawa kami berdua.

Jadi teringat salah satu komentar dari Wa @edasind di postingan @besokseninco tentang Panyaweuyan. Dia memberi tahu bahwa spot baru tersebut belum ada serah terima dengan Pemda. Intinya belum dibuka secara resmi.

Untuk lebih meyakinkan, saya menghubungi Pak Budi Adhinugraha, salah satu PNS di lingkungan DISPARBUD Majalengka. Dia membenarkan bahwa seharusnya dua spot baru itu belum boleh dipergunakan karena belum ada serah terima dan laporan ke Provinsi.

“Makannya kita belum publish apapun di medsos.” Ujarnya ketika dihubungi via WhatsApp.

Ketika saya cek, memang benar akun instagram @disparbudmajalengka belum ada posting mengenai spot baru di Panyaweuyan.

Untuk kedepannya, dia mengatakan akan berkoordinasi dulu dengan pimpinan. Apakah akan ditegaskan dengan menutup spot baru ini, sampai ada serah terima, atau ada solusi lain.

Semoga saja, tidak ada kejadian dulu baru ditegaskan.

Facebook Comments

About Riza D. Januar

Cowok yang berwajah susah | Susah dilupain

Check Also

5 Hal yang Harus Diperhatikan Agar Wisata Majalengka Dilirik Wisatawan

besoksenin.co – Menyebut Majalengka sebagai destinasi wisata menurut saya terlalu gegabah. Tidak ada yang menyangkal …