Hari Biasa untuk Mereka yang Istimewa

besoksenin.co – Jika kau tanya, adakah yang istimewa hari ini? Biarkan aku menjawab: T I D A K. Andai memungkinkan, ingin kukirim juga suara paling lantang dalam tulisan ini, biarlah sedikit serak atau kalau bisa biarkan saja sampai tak lagi keluar bunyi. Karena aku ingin kalian semua benar-benar mengingat bahwa hari ini bukan hari istimewa dan hanyalah hari biasa seperti hari kemarin atau bahkan esok lusa. Karena tanpa ada kekhususan tanggal sekalipun, mereka senantiasa istimewa.

Sejarah hanyalah setitik kisah heroik tanda eksistensi mereka. Meskipun tak semua andil di hari itu, mereka secara keseluruhan sudah sangat istimewa. Kehadiran kita adalah bukti tak terelakkan. Pun jikalau kita gagal, tak sejengkalpun menghapus nilai dirinya. Bukan karena mereka makhluk ajaib, hanya saja tangannya yang senantiasa terbuka untuk mendekap menjadikan mereka seolah malaikat. Meski bergetar, berbalut amarah, bahkan bercucuran darah, jemarinya senantiasa melenyapkan sakit dan menyelimuti ketenangan. Tapi ingat, mereka dilindungi janji sang Maha Tinggi, murka mereka menjadi kemurkaan-Nya.

Barang sekejap saja kita lukai hatinya, lantas air mata tak terbendung hingga menyesakkan dada, langit dan bumi akan menggaungkannya pada Tuhan tuk segera memberi pembalasan. Kalau legenda mengisahkan kutukan batu yang amat popular, itu hanyalah pengingat untuk kita belajar berbakti secara ikhlas kepada mereka. Boleh jadi kita sehat sentosa hingga bergelimang harta sementara mereka menggigil rindu menanti kabar. Setinggi apapun tahta yang diraih, lupakanlah keangkuhan memamerkannya di hadapan mereka. Siapa bisa jamin semua itu murni usaha kita tanpa campur tangan doa tulus mereka?

Pada akhirnya kita harus sadar bahwa mereka makhluk yang seketika bisa menjadi rapuh. Dibalik senyum ketegarannya ada ribuan tangis lirih yang terbungkus. Nyawa tlah digadaikannya tuk menanam asa kepada kita bak fatamorgana di tengah lautan pasir kehidupan. Tak heran jika surga disisipkan di bawah kaki mereka. Bukan berarti kita harus menyembah mereka, namun sebagai rambu tuk senantiasa merendah dan menuntun mereka kala kakinya sudah terlalu banyak gemetar meski terdiam di atas dipan. Hari ini hanya 1 dari 365 hari yang senantiasa istimewa untukmu, wahai ibu.

Editor: Riksa Buanadewi

Facebook Comments

Post Author: rekhoni

penikmat langit tak banyak bicara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.