Hati-hati dengan Janji, karena “Insya Allah” Bukan Cara untuk Menolak secara Tidak Langsung

 “Betapa banyak orang yang dengan entengnya berjanji untuk bertemu namun tak pernah menepatinya. Dan betapa banyak pula orang yang berhutang namun menyelisihi janjinya. Bahkan meminta udzur pun tidak. Padahal, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam telah banyak memberikan teladan dalam hal ini, termasuk larangan keras menciderai janji dengan orang-orang kafir”- Ust. Abu Muhammad Abdul Mu’thi

 

Janji bukan untuk diingkari, tapi untuk ditepati, via www.muslimdaily.net

 

Besoksenin.co – Sob, janji memang ringan diucapkan dan berat jika dilakukan, tapi kehadiran janji tetap harus ditepati. Menepati janji  merupakan salah satu dari deretan jenis akhlak terpuji  yang harus dimiliki oleh semua orang, khususnya bagi seorang muslim. Kenapa? Secara kasat mata, menepati janji dapat membuat seseorang semakin dipercaya oleh orang lain. Dalam hal ini pula, menepati janji merupakan akhlak terpuji yang dapat membuat seseorang menjadi mulia atau mendapat predikat orang baik di pergaulannya dan tentunya bahagia dunia dan akhirat. Misalnya, janji untuk bertemu di alun-alun jam 10 pagi. Nah kalau kita janji dengan seseorang, lalu orang itu datang tepat waktu, maka dalam hati kita pun akan berdecak kagum “Masya Allah, orang ini bisa dipegang janjinya, bisa dipercaya”. Walaupun demikian, janji untuk berbuat maksiat itu justru harus ditinggalkan. Misalnya janji bolos bareng atau janji nikung bareng. Gak boleh itu, pelanggaran!

 

“Tidak boleh menepati nadzar dalam maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahihul Jami’ no. 7574).

 

Jangan biarkan orang lain menunggumu terlalu lama, jika menunggu adalah sesuatu yang membosankan, via warungkopi.okezone.com

 

Lalu apa aja aturan yang harus kita lakukan ketika berjanji? Aturan pertama, membuat suatu kesepakatan yang baik dan dapat dipenuhi oleh kedua belah pihak (asal jangan ada pihak ketiga aja, soalnya yang ketiga itu kan syetan *eh). Aturan kedua, dalam membuat janji atau rencana yang sudah matang harus diikuti dengan perkataan “Insya Allah”.

 

“Janganlah kamu sekali-kali mengatakan, ‘Sesungguhnya saya akan melakukan hal ini besok, kecuali dengan mengatakan Insya Allah.” (QS Al-Kahfi :23-24)

Insya Allah adalah penegas ucapan kepastian dan keyakinan. Bukan keragu-raguan. Dari situlah tubuh kita mengeluarkan semacam kekuatan dan kepasrahan total yang tidak kita sadari sebagai syarat utama tercapainya sebuah keberhasilan. Manusia hanya berencana dan berikhtiar, Allah yang menentukan hasilnya. Manusia terlalu lemah untuk mengucapkan ‘pasti’, karena Allah sebagai Sang Pemilik tubuh ini dapat berkehendak lain.

 

Jika kita tidak yakin atau tidak dapat memastikan suatu perjanjian itu akan ditepati atau tidak, maka jangan pernah mengatakan Insya Allah, cukup katakan saja “Maaf, saya tidak bisa” atau “Maaf, saya tidak dapat menghadiri …”, karena sesungguhnya Insya Allah bukanlah hal untuk menolak secara tidak langsung, merupakan penyertaan Allah di setiap langkah menuju keberhasilan kita.

 

“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)

 

Tulisan di atas adalah kiriman dari akun instagram @liyanailmiyati dan disunting oleh editor Besoksenin.co. Mau tulisan kamu dimuat juga? Kirim aja ke [email protected]. Jangan lupa sertakan user instagram kamu, yaa!

Facebook Comments

Post Author: Riksa Buanadewi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.