Home > rubrik > besokbaper > Inilah yang Aku Rasakan, Ketika Jodohku bukan Orang yang Aku Cintai Sejak Awal
www.colourbox.com

Inilah yang Aku Rasakan, Ketika Jodohku bukan Orang yang Aku Cintai Sejak Awal

www.colourbox.com
                                  www.colourbox.com

Panggil saja dia Upin. Sejak awal aku sudah menyukainya. Aku suka dengan caranya berpakaian, terlihat bersih, rapi, dan tidak neko-neko. Aku suka dengan gaya rambutnya yang mirip dengan potongan rambut para tentara di medan perang. Aku juga suka dengan caranya berbicara, terdengar santun, ramah, dan pandai menyesuaikan dengan keadaan. Aku suka dengan semua yang ada pada dirinya. Termasuk saat ia tersenyum dan menyapaku setiap kali kita bertemu.

 

Tak terasa, waktu pun berlalu dengan begitu singkatnya. Sekarang aku sudah selesai kuliah dan sedang bekerja di salah satu perusahaan yang ada di Jogjakarta. Kalau dihitung-hitung mungkin sudah 7 tahun berlalu. Dan kamu tahu, sampai saat ini aku masih saja menyukainya. Entah mengapa. Padahal kita tak pernah bertemu lagi sejak perpisahan sekolah. Padahal di kampus dan di tempat kerjaku banyak pria yang lebih tampan dan (mungkin) lebih baik daripada dia. Tapi mengapa hatiku masih saja memilihnya.

 

Meski sudah cukup lama aku menyukainya, aku tak pernah memiliki keberanian untuk mengatakannya. Bagiku, rasanya tabu jika harus perempuan yang mengatakan duluan. Biarlah, mencintai dalam diam itu akan lebih aman. Toh cinta tak perlu diungkapkan, apalagi kepada dia yang belum halal. Semuanya akan percuma saja jika pada akhirnya bukan dia yang Allah jodohkan.

www.kabarin.co
                                                www.kabarin.co

Hingga pada suatu hari, Ipin, sahabat dekatnya Upin, teman Upin dari lahir, yang kemana-mana selalu berdua, bahkan ke toilet pun selalu barengan, berkunjung ke rumahku, sendirian. Kukira ia datang bersama Upin, harapannya sih begitu. Aku sebenarnya rada heran kenapa Ipin tiba-tiba datang ke rumah. Mau minjem duit gak mungkin, mau ngirim paket jual-beli online juga gak mungkin.

 

“Hai Ros, bapakmu ada? Aku ada perlu dengan beliau”, kata Ipin.

“Ada, nanti kupanggilkan dulu”.

 

Dalam hati aku bertanya, sejak kapan dia kenal bapak, mungkinkah mereka punya proyek bareng atau yang semacamnya? Entahlah, langsung saja kupanggilkan bapak yang sedang menonton TV saat itu, dan tak lama kemudian bapak keluar, lalu duduk di ruang tamu. Meski aku tak ikut bergabung, tapi jujur saja aku sedikit kepo, ingin tahu apa yang dibicarakan mereka berdua. Kemudian aku pura-pura duduk di balik tembok ruang tamu sambil memainkan hp. Dan kamu tahu apa yang dikatakannya?

 

“Pak, kenalkan saya Ipin temannya Ros waktu SMA. Saya sudah mengenal Ros cukup lama. Saya ke sini datang dengan niatan baik pak, saya meminta izin untuk melamar putri bapak yang bernama Ros. Jujur saja, saya sudah menyukai putri bapak sejak lama, sejak SMA. Mungkin Ros tidak tahu, karena saya sengaja tak pernah mengungkapkannya hingga hari ini tiba. Saya hanya tidak ingin memberikan harapan kepada siapapun, karena bagi saya mengatakan cinta kepada seseorang akan dengan otomatis membuat orang itu menggantungkan harapan kepada saya, dan saya tidak ingin itu terjadi. Tapi semuanya kembali lagi kepada bapak dan putri bapak, saya hanya ingin menyampaikan maksud dan niatan baik saya”.

 

Kamu tahu apa yang aku rasakan saat mendengar kalimat yang disampaikan Ipin saat itu? Shock, speechless, dan mendadak lumpuh. Tanganku bergetar, jantungku berdetak tak karuan, dan kakiku tak bisa digerakan. Entah apa yang terjadi denganku, tapi aku menyukainya.

 

Mendengar kata-kata Ipin saat itu, jujur saja aku merasa dihargai. Sebagai perempuan, aku menilai dia adalah laki-laki yang memiliki tanggung jawab tinggi. Tak semua laki-laki memiliki keberanian seperti Ipin yang langsung mengatakan niatannya, yang meminta izin terlebih dahulu kepada bapak sebagai waliku. Itu artinya dia menghargai bapak sebagai orang tua yang telah membesarkanku, itu artinya dia menghargaiku sebagai perempuan yang masih berada di bawah tanggung jawab bapakku.

 

“Setiap orang memiliki ceritanya sendiri ketika bertemu dengan jodohnya

Begitu pun denganku

Ini adalah ceritaku, ini adalah jalanku

Meski sejak awal aku tak pernah melihatnya, tak pernah menginginkannya

Tapi Allah punya skenario yang berbeda

Allah tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya”

 

(Buanariksa)

Facebook Comments

About Riksa Buanadewi

Check Also

Atlet yang sedang bertanding via Reyna Afifah

Cerita dibalik Tiga Hari Penyelenggaraan Kano Slalom di Bendungan Rentang

besoksenin.co – Ada cerita menarik dari tiga hari penyelenggaraan kano slalom di bendungan rentang, Jatitujuh. …

Tinggalkan Balasan