Jangan Mendekat Jika Tak Berniat Menetap, Ini Hati bukan Halte

Berhentilah bersikap seakan-seakan kamu memiliki perasaan lebih. Berhentilah membuat saya jadi pecundang, dan memandang kamu sebagai malaikat yang ditugaskan sebagai juru selamat. Yang dengan rendah hati mengumpulkan bulu-bulu angsa dari sekitaran danau, lalu menyulapnya menjadi sayap di punggung saya. Berani bertaruh, kemudian kamu mengajari saya terbang, kemudian kita mengawang bersama-sama, lalu kamu meninggalkan saya

“Berhentilah bersikap seakan-akan kamu memiliki perasaan lebih.”

Maaf, saya bukan berprasangka buruk. Awalnya memang kedatangan kamu yang tiba-tiba mampu membuat daya khayal berbicara, bahwa kita bisa melakukan segalanya asal berdua. Hingga kemudian saya melihat seseorang yang kehujanan, berhenti di depan halte, ia berada di sana selama hujan, kemudian pergi setelah hujan berhenti. Saya mulai berpikir, apa hati saya kamu anggap halte?

Selama ini, kamu hanya datang membawa berita duka. Alih-alih ikut terbebani dengan semua masalahmu itu, saya justru menyambutmu dengan suka cita. Tak peduli apa, dan datang dengan cara apa, asal itu denganmu, senyum dari bibir saya selalu berhasil berada di sana juga. Tetapi di mana kamu saat sedang berbahagia? Tetapi di mana kamu saat badai di hidupmu reda?

Untuk beberapa waktu memang tidak menjadi masalah, tetapi saya juga manusia yang bisa berpikir dan lelah. Karena kamu saya selalu merasa hidup di Roller Coaster: perasaan bahagia yang membahana, merasa berada di puncak ketinggian, ketika kau datang, namun turun ke bawah sangat cepat ketika kamu menghilang, dan ditarik lagi ke atas ketika kamu datang lagi. Selalu seperti itu. Adrenalin yang selalu dipacu, semua rasa ketakutan, pikiran yang bercabang-cabang menerka berbagai kemungkinan terus bermunculan di kepala.

Kamu tidak tahu kan, saat kamu menghilang? Bumi dan isinya seakan menjadi tokoh antagonis dalam cerita kehidupan, bahkan saya tak mampu berdamai dengan isi kepala sendiri. Kamu juga tidak tahu bagaimana rasanya saat kamu datang lagi, itu bukan perasaan bahagia atau lega biasa, mungkin ini karena kamu yang selalu mengambil sikap untuk datang dan hilang dalam hidup saya. Kamu memang berhasil buat saya takluk, bahkan dalam tahap tergila-gila. Tapi saya juga manusia, yang bisa merasa lelah.

Sudah cukup saya menutup hati dan tak mengizinkan orang lain mendekat, hanya karena mengira kamu ingin berada di sini.

Menetaplah jika kamu mau, saya akan melindungimu, menjawab semua pertanyaan-pertanyaanmu. Untukmu saya tidak akan hanya sekadar siap sedia, tetapi selalu sukarela dan pasti bisa menjadi seseorang yang berada di sampingmu, menghadapi belasan kemungkinan di depan, tawa maupun kesedihan, kita bersama-sama. Dan jangan datang lagi, jika kamu tak berniat menetap, karena ini hati bukan halte.

Facebook Comments

Post Author: Tommi Pringadi

Seorang jomblo profesional yang bercita-cita bikin sunatan massal. I am not player, i am the game. :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.