Jangan Pernah Menggantungkan Harapan selain Pada-Nya, karena Boleh Jadi yang Kau Harapkan adalah Sebuah Fatamorgana

besoksenin.co – Entah sudah lewat berapa purnama kisah itu berlalu, tapi  malam ini masih sama seperti malam-malam sebelumnya. Hati yang basah oleh luka yang masih menganga, merintihkan sejuta kata rindu yang tak pernah bisa tersampaikan. Dia telah  melangkah jauh dari hidupku, tapi jejak perasaan yang ditinggalkan olehnya masih tersisa dan mengakar dalam relung hati.

Terkadang, aku ingin tidur tanpa terjaga. Demi menghapus semua memori dan jejak perasaan yang ditinggalkannya. Entah siapa yang bisa mengerti, siapapun tahu perasaan ini bukan untuk dibenarkan, tapi perasaan adalah sebuah kondisi hati yang seringnya tak terjangkau oleh logika siapapun, termasuk diri sendiri.

Saat itu, aku terlena dalam satu dimensi waktu bersamanya. Merangkai mimpi masa depan, menyusun setiap langkah dalam bait bilangan waktu  untuk hidup bersama hingga rambut memutih. Menikmati senja dan berbaur dalam seluruh asa, hingga lupa senja akan pergi tergantikan oleh malam. Aku suka saat dia tersenyum padaku, aku suka saat dia mendengarkan semua ceritaku dari hal yang paling sederhana sekalipun, aku suka cara dia menasehatiku, aku suka cara dia menghiburku, aku suka semua tentangnya. Singkatnya, bersamanya adalah sebuah dimensi waktu terindah yang pernah aku lalui.

www.pexels.com

Aku terlalu tenggelam dalam zona nyaman bersamanya, hingga aku lupa jika takdir selalu datang tanpa permisi. Tanpa bertanya suka atau tidak suka, siap atau tidak siap. Seperti saat itu, aku tertampar keras hingga terhempas pada titik terendah. Rupanya takdir sedang mengingatkan aku yang sering lupa. Aku lupa bahwa dalam hidup ini semua hal berpasang-pasangan, aku lupa bahwa terang berganti gelap, pagi berganti malam, manis berganti pahit, pertemuan berganti dengan perpisahan, hingga memiliki berganti dengan kehilangan.

Saat itu, tak ada yang lebih buruk yang aku rasakan daripada perkara kehilangan. Bahkan aku rasa, hujan pun tahu caranya mengucapkan permisi ketika ia turun, dan senja pun tahu caranya pergi dengan pamit. Tapi kisah ini, ia memilih berakhir tanpa bertanya terlebih dahulu pada tokohnya.

Lama aku terdiam dalam ruang sunyi, meratapi drama masa lalu yang terputar otomatis dalam otakku, dan menikmati bagian akhir cerita yang menyisakan luka. Aku tak pernah mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang memulai dan siapa yang mengakhiri, karena sejatinya semua kisah terjadi karena interaksi antar tokoh yang kemudian membangun alur hinga membentuk cerita.

Pada akhirnya, pelajaran kehilangan itu membuat aku sadar, bahwa semua keindahan yang telah tersusun rapi dalam setiap bait bilangan waktu masa depan bersamanya, adalah fatamorgana. Dan saat itu, aku benar-benar berada pada titik dimana aku hanya butuh diriku sendiri, memeluk diri sendiri, menenangkan kegelisahan, meyakinkan bahwa kecemasan akan segera reda, lalu mengajarkan bibir tersenyum atas apapun yang terjadi. Aku butuh kekuatan dalam diriku sendiri yang menguatkan aku dalam segala suasana, hingga semua berlalu dan aku bisa baik-baik saja setelah melewati semuanya.

www.pexels.com

Bukan hal mudah untuk berdiri tegak dan kembali melangkah seperti semula setelah pelajaran kehilangan ini. Tapi yang pasti, aku banyak menyadari berbagai hal tentang hidup, takdir, harapan, dan yang paling membekas adalah, aku sekarang paham tentang “Mengapa  Allah menyuruh untuk menjaga pandangan dan menjaga hati?” Karena Dia ingin melindungi setiap hati wanita agar tidak jatuh dan terluka, karena sejatinya ujian wanita itu ada pada hati.

“Mengapa Allah menyuruh untuk menjaga pandangan dan menjaga hati?” Karena Dia ingin melindungi setiap hati wanita agar tidak jatuh dan terluka, karena sejatinya ujian wanita itu ada pada hati.

Sementara  tentang rindu dan luka yang belum usai ini, biarlah menjadi tanggungjawabku atas kisah yang telah aku mulai sendiri. Jangan pernah tanyakan usahaku untuk melupakan, karena semuanya sia-sia. Sejatinya manusia tak akan pernah bisa menghapus satupun bagian dari episode masa lalunya, kecuali dia amnesia. Biarlah ini menjadi urusan waktu. Waktu memang tak bisa menyembuhkan, tapi dia bisa membiasakan. Dan yang terpenting yang aku pahami sekarang adalah “Jangan pernah menggantungkan harapan selain padaNya, karena boleh jadi yang kau harapkan adalah sebuah fatamorgana”. Biarlah kisah ini menjadi pelajaran untukku, pelajaran yang tak pernah dijual di arena akademik manapun.

“Jangan pernah menggantungkan harapan selain pada-Nya, karena boleh jadi yang kau harapkan adalah sebuah fatamorgana”

Tulisan ini kiriman dari Yosy Retnasari (akun instagram: @yosyretnasari_)

Facebook Comments

Post Author: Riksa Buanadewi

1 thought on “Jangan Pernah Menggantungkan Harapan selain Pada-Nya, karena Boleh Jadi yang Kau Harapkan adalah Sebuah Fatamorgana

    EllEnrody

    (7 Juni 2018 - 22:28)

    buy cheap accutane online Non cialis prices Order Tamoxifen No Prescription Dental Antibiotic Amoxicillin Protection Period

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.