Home > berita > Jatiwangi Mulai Gunakan Mata Uang Sendiri. Ada Apa?

Jatiwangi Mulai Gunakan Mata Uang Sendiri. Ada Apa?

besoksenin.co – Di era modern ini, kreativitas sudah menjadi komoditi paling dicari. Bahkan, akan bernilai lebih jika sebuah kreativitas dikolaborasikan dengan budaya. Di Majalengka, keberadaan budaya tanah di Jatiwangi, dikreasikan hingga mengenalkan ‘mata uang’ dari tanah. Sebelum ke sana, kita simak dulu awalnya.

Pada 1905, kebudayaan genteng di Majalengka -tepatnya di Jatiwangi- sudah mulai digalakkan hingga berkembang sampai sekarang. Kehadiran genteng ini, mengubah pola pikir dan transaksi masyarakat Jatiwangi pada saat itu.

kreasi tanah liat
Kreasi tanah liat via fancycrave

Kadus Illa, narasumber kami, menceritakan beberapa kejadian.

Misalnya, dulu ketika Persib datang ke Jatiwangi, mereka tidak dibayar dengan uang, melainkan dengan satu truk genteng. Ketika mendatangi toko bangunan, membutuhkan cat misalnya, mereka bisa membayar menggunakan genteng, tentu saja sesuai dengan kesepakatan yang disetujui bersama si penjual.

Ketika meminta uang ke orang tua, namun mereka sedang tidak punya, maka mereka berkata, “Geus bae mawa kenteng (Ya sudah, bawa genteng saja)”. Saat ini, kita pasti membawa sedikit uang jika ada keperluan ke mana-mana, barangkali di jalan ada apa-apa. Namun di masa lalu, ketika tak ada uang sepeser pun, genteng yang berlimpah, bisa memberikan rasa aman.

Menarik sekali, bukan? Lalu bagaimana caranya Jatiwangi bisa menggunakan mata uang genteng di masa sekarang?

APAMART adalah bazaar bulanan yang diprakarsai oleh Jatiwangi Art Factory. Minggu kemarin (27/5), adalah gelarannya yang ke -5 dengan tema Pasar Kopi Indonesia. Salah satu hal paling menarik ketika kamu memasuki APAMART, kamu tidak bisa transaksi menggunakan rupiah, tetapi harus menggunakan Mpleng.

Nominal Mpleng
Mpleng dengan nominalnya via Pandu Rahadian

Mpleng adalah alat transaksi dari tanah liat yang dicetak menyerupai koin dengan ukuran diameter beragam sesuai angka nominalnya. Harga 1 Mpleng sama dengan Rp 3000.

“Kami ingin mengukuhkan diri sebagai pemilik kebudayaan tanah. Jatiwangi bukan tempat antah-berantah, kami memiliki kebudayaan. Orang-orang seharusnya tidak boleh hanya datang, lalu mendirikan pabrik-pabrik modern di sini.” Ujar Kadus Illa, “Begitu pun, pada pemerintahan, seharusnya mereka selalu membuat kebijakan sesuai dengan identitas kami. Semoga ini bisa kembali mengingatkan tentang identitas masyarakat Jatiwangi yang mulai hilang,” terangnya, ketika kami tanya latar belakang dan tujuan dari project Mpleng ini.

Mpleng melimpah
Mpleng melimpah via Pandu Rahadian

“Jika Genteng tak lagi seksi, kita akan tetap menjaga (kebudayaan) tanah liat.” Kadus Illa juga tidak menutup diri, tentang kualitas genteng Jatiwangi. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa genteng dan tanah liat sudah menjadi alasan warga Jatiwangi untuk bersosial, kreatif, termasuk bertransaksi. Jika dua hal tadi sudah tak ada, maka dengan alasan apa lagi?

Bazaar Bulanan Apamart
Bazaar Bulanan Apamart via Pandu Rahadian

Rencananya, Mpleng juga akan digunakan ketika wisatawan datang berkunjung ke Jatiwangi, mereka harus menggunakan Mpleng agar sensasi sedang di Jatiwangi lebih terasa.

 

Editor: Fakhrul Azharie

Facebook Comments

About Fakhrul Azharie

ke sana ke mari membasmi kejahatan

Check Also

Rampak Genteng Jatiwangi Meriah, Begini Cerita Menakjubkan di Baliknya

besoksenin.co – Rampak Genteng Jatiwangi 2018 berlangsung meriah. Para warga dari penjuru Majalengka memadati lapangan …