Jiwa Kesatria, Tercermin di dalam Kesenian Sampyong Majalengka. Yuk Kita Lestarikan!

besoksenin.co – Sobat bsco, ada yang tahu Sampyong gak? Kalau sampai gak tahu sih keterlaluan, masa sama doi aja hafal sama kesenian asli majalengka gak hafal sih.

Emang sih, di era digital seperti saat ini globalisasi telah merasuki setiap sendi-sendi kehidupan di berbagai penjuru negeri. Globalisasi memang bukan lagi hal baru namun generasi digital masih saja bertindak hiperglobalis yang menganggap bahwa terlihat jadul dan kuno jika tidak mengikuti tren global. Padahal tidak selamanya tren global itu baik dan sesuai dengan norma-norma yang berlaku di Indonesia, kebanyakan dari tren global justru mengikis karakter bangsa. Jika upaya pelestarian budaya lokal tidak diperkenalkan pada generasi Y yang mudah terpengaruh tren global, bukan tidak mungkin suatu saat nanti budaya lokal akan sirna tergantikan oleh budaya global yang dominan kebarat-baratan.

      kesenian sampyong via dokumen pribadi

Mayoritas generasi muda saat ini tidak begitu mengenal budaya nusantara bahkan budaya lokal setempat yang ada di daerahnya pun tidak tahu, contohnya saja di Majalengka selaku tanah kelahiran penulis, eksistensi kesenian sampyong sebagai budaya asli Majalengka tidak begitu dikenal masyarakat, khususnya generasi Y yang lahir tahun 2000an. Dalam perkembangannya kesenian sampyong telah mengalami pergeseran fungsi dari kesenian yang bersifat sakral sebagai media penyeleksian prajurit pengawal Raja dan sebagai sarana beladiri dalam melawan penjajah, berangsur-angsur berubah menjadi kesenian pertunjukan hiburan semata yang kondisi kelangsungannya sangat memprihatinkan. Keadaan seperti ini jika dilanjutkan terus menerus bukan tidak mungkin jika kesenian sampyong akan hilang dari peradaban Majalengka. Padahal nilai-nilai karakter bangsa serta visi dan misi yang membangun tercermin dalam kesenian sampyong karena selain perpaduan seni musik dan seni tari, seni beladiri pun ada di dalam kesenian sampyong. Karakter tangguh dan jiwa kesatria yang dibutuhkan sebagai karakter bangsa dalam menghadapi persaingan global sangat kental terkandung di dalam kesenian sampyong. Itu baru satu budaya lokal yang ada di kota kecil bernama Majalengka, bagaimana dengan budaya lokal yang lain di seluruh Nusantara? Apakah akan dibiarkan saja terkikis budaya global sehingga budaya di seluruh dunia ini homogen? Atau akan diselamatkan melalui pendidikan berbasis budaya lokal?

suasana belajar di SMKN Palasah via dokumen pribadi

Di sisi lain, pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meng-upgrade sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki suatu negara. Revolusi karakter bangsa dan kebhinekaan melalui pendidikan yang berbasis budaya lokal sangat mungkin untuk dilaksanakan. Pendidikan berbasis budaya lokal yang dimaksudkan disini bukan berarti menutup diri dan tidak open-mind terhadap dunia global, melainkan pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan kearifan lokal dan nilai-nilai nasional namun tetap open-minded dan berfikir global untuk meningkatkan daya saing bangsa di kancah internasional. Pendidikan berbasis budaya lokal dapat dilaksanakan dengan menyelipkan pengetahuan tentang budaya lokal, fakta unik dan karakter yang tercermin dalam budaya nusantara, serta pandangan mengenai pentingnya karakter bangsa dan kebhinekaan dalam menghadapi persaingan global di dalam rubrik ice breaking di setiap mata pelajaran. Selain itu penekanan teori budaya lokal yang sudah disajikan dalam rubrik ice breaking di setiap mata pelajaran dapat dilakukan dengan praktik mengajarkan budaya nusantara dan budaya lokal setempat di dalam mata pelajaran seni budaya. Pembelajaran seni budaya yang dilakukan lebih ditekankan pada practical approach. Hasil dari pembelajaran budaya lokal dapat dipentaskan pada festival budaya nusantara maupun acara-acara yang diselenggarakan pihak sekolah, seperti pentas seni (pensi), Hari Ulang Tahun (HUT) sekolah, perpisahan dan kenaikan kelas. Tujuan dari pementasan budaya lokal yang diajarkan adalah untuk memperkenalkan budaya nusantara dan budaya lokal setempat kepada khalayak serta memacu semangat siswa untuk belajar seni budaya dengan serius dan menanamkan rasa bangga dan kecintaan terhadap kebhinekaan budaya Nusantara.

Jati diri bangsa Indonesia terletak pada kebhinekaan budaya lokal yang mengandung nilai-nilai nasional untuk dapat bersaing secara global.  Sudah seharusnya melalui pendidikan nasional, generasi penerus bangsa dipersiapkan untuk memiliki daya saing global tanpa melupakan kearifan lokal. So, sobat bsco siap gak buat melestarikan budaya asli Majalengka? masa melestarikan mantan aja sanggup, melestarikan budaya enggak sih?

(Fitri Kinasih Husnul Khotimah)

 

Facebook Comments

Post Author: Fitri Kinasih Husnul Khotimah

Aku adalah sepenggal diksi yang siap kau jadikan puisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.