Home > rubrik > besokeling > Jokowi atau Prabowo Presiden Kita, Majalengka Bakal Gini-Gini Aja
Jokowi atau Prabowo Presiden kita, Majalengka bakal gini-gini aja

Jokowi atau Prabowo Presiden Kita, Majalengka Bakal Gini-Gini Aja

Jokowi atau Prabowo Presiden kita, Majalengka bakal gini-gini aja

besoksenin.co – Tak terasa, pemenang El Classico Jokowi dan Prabowo; pemilihan Presiden Republik ini, akan ditentukan oleh kita 17 April 2019 esok. Tentu saja, pesta demokrasi membuat kita bahagia, bukan karena apa-apa, melainkan karena pemerintah menetapkan hari pemilu sebagai hari libur nasional. Lumayan untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan atau tugas-tugas kuliah. Hari libur ini, tak lebih dari kesempatan untuk push rank hingga ke mythic.

Benar, ramai sekali di sosial media, ketika salah satu paslon menyebut keyword Mobile Legend di acara debat terakhir. Ah, itu hanya tim mereka tahu bahwa game ini sedang digandrungi dan pasti menjadi lumbung suara kalau disebut-sebut di acara debat. Tetap saja, tidak ada yang berani membuat program untuk menurunkan harga diamond. Benar, kita memang tak menonton acara debat terakhir kemarin. Kalau BLACKPINK lirik MV baru “Kill This Love,” tanpa diminta pun, kita nonton duluan. Peduli apa kita soal program-program Jokowi dan Prabowo, toh keduanya pasti mengingkari janji-janjinya jika terpilih nanti.

Kita juga telah menutup mata dari berita tentang GBK yang penuh saat kampanye ke dua paslon. Sebagian orang berdebat tentang jumlah peserta seribu, sejuta atau berapa? bodo amat, yang paling penting adalah berapa jumlah followers kita.

Masih segar di kepala, “blunder” Prabowo – Sandi di statement yang menyatakan Jawa Tengah lebih besar dari Malaysia. Mereka mengupload foto data berapa luas Jawa Tengah, berdampingan dengan berapa luasnya Malaysia, anak SD pun tahu Malaysia lebih luas lah. Datang lagi para pembela, ia mengatakan “Please, Cebong. Prabowo menyebut besar, bukan luas. Mengapa Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung disebut kota besar, karena mereka punya penduduk yang banyak. Dan, penduduk Jawa Tengah memang lebih banyak dari Malaysia,” Sekali lagi, bodo amat berapa banyak penduduk sebuah Negara, yang paling penting adalah jumlah followers di instagram.

baca juga : Aksi Cinta Majalengka, Semangat Berpikir Solutif 

Majalengka, meski berada di pulau yang sama dengan Jakarta. Tapi jarak dari Ibu Kota yang kurang lebih 200 kilometer itu, dinilai akanmembuat kebijakan pemerintah pusat tidak akan pernah mampu menyentuh kita. Majalengka bakal gini-gini aja!

Dulu saya pernah memiliki keyakinan, dengan pembelaan analogi; orang Indonesia yang terbiasa carut marut di negeri sendiri, namun ketika pergi ke Singapura, maka ia akan ikut tertib atau buang sampah pada tempatnya. Saya sempat berpikir, bahwa ini disebabkan sistem. Dan kepala negara yang baik bisa menjadi solusi bagi segala permasalahan negeri ini, karena ia lah yang paling berpotensi untuk mengubah sebuah sistem, atau membuat kebijakan yang pas. Namun sepertinya, anggapan saya selama itu salah. Memikirkan sistem sebuah negara, ah terlalu berat! Bukankah lebih kita memikirkan diri sendiri saja, yang penting kita tak menyakiti siapa pun. Bodoamat pada kehidupan di luar kehidupan pribadi, lingkungan, masyarakat sekitar, apalagi kondisi negara!

Lagipula kita tak perlu pergi ke Singapura atau ke mana pun, Majalengka sudah menjadi tempat paling sempurna. Untuk apa pergi ke luar? Sementara di kota ini segalanya tersedia! Kita malah punya Ubud-nya Majalengka, Raja Ampat-nya Majalengka. Kita tinggal membuat Singapura-nya Majalengka, kan? Ini  jauh lebih gampang, hanya cukup membuat patung Merlion tiruan saja. Selama ini kita memang selalu bisa mencapai orgasme, bahkan tanpa bersenggama. Kita selalu bisa meraih klimaks, dari onani.

BIJB yang disebut-sebut Prabowo sebagai “Pembangunan yang gagal,” memang sudah berdiri di Kertajati, namun itu tak lebih dari tempat piknik belaka buat kita. Sudah berswafoto di sana, share media sosial, ikut euporia bangga Majalengka punya Bandara, ya sudah. Kita tak usah punya pikiran pergi ke luar negeri, biar yang ke luar negeri itu orang lain saja! Cukup bangun tembok pertahanan, mengkampanyekan “Dukung Produk Lokal Majalengka!.” Atau,  “Jangan jadi penonton di rumah sendiri!” nggak usah lah ada pemikiran tentang serangan balik; kita yang menjadi pemain, dan orang-orang di luar negeri adalah penontonnya. Kita tak pernah punya sejarah menyerang negara lain. Cerita Marcopolo itu fiktif, penaklukan oleh Sriwajaya abad ke 7, Majapahit abad ke 14 hanya sekadar menguasai kepulauan Nusantara, bahkan ASEAN pun bukan.

saya masih ingat dengan jawaban seorang teman lama, saat saya bertanya  “Mengapa politik (termasuk pilpres) menjadi penting buat anak muda?” via Pixabay

Sebenarnya sesaat sebelum menulis ini, saya masih ingat dengan jawaban seorang teman lama, saat saya bertanya  “Mengapa politik (termasuk pilpres) menjadi penting buat anak muda?” waktu itu, kurang lebih ia menjawab begini, “Saya pikir, nyaris seluruh unsur kehidupan kalian adalah hasil produk politik atau kebijakan orang-orang yang kita pilih di pemilu. Sejak kamu lahir, ada akte. Saat kamu sekolah, ada undang-undang pendidikan. Misalnya untuk ke depan, kamu nikah, bagaimana kamu bisa resmi menikah itu juga produk politik. Atau mungkin pekerjaan kamu, itu kan diatur juga dalam undang-undang ketenagakerjaan. Jadi, saya pikir, sangat penting.”

Kalau dipikir-pikir lagi, urusan menikah kan hanya urusan kita dan dia, kalau kami saling mencintai, disetujui keluarga, ya bisa menikah. Urusan berapa biaya, bagaimana mengurus dokumen, dan lain-lain, itu urusan belakangan.  Soal pendidikan atau pekerjaan, kita bisa sekolah di mana saja, asal punya ijazah S1. “Untuk S1 segala jurusan,” begitu di lowongan pabrik-pabrik. Tak penting kita punya kualifikasi di pekerjaan itu atau tidak, asal S1 dulu, kita punya kesempatan jauh melebihi orang yang di bidangnya, namun tak punya ijazah S1. Ya, kita sudah lihai berperan menjadi orang lain. Sejak SMA, kita masuk IPA demi memuluskan masa depan, walaupun tahu kita sangat menyukai hal-hal tentang Sosiologi. Kuliah, yang penting dapat S1, kita terbiasa bangun pagi, masuk kelas, berpura-pura mencintai hal yang sebenarnya tidak kita cintai bertahun-tahun. Maka saat bekerja, tak penting lagi kita mencintai pekerjaan itu atau tidak. Yang paling penting, dapat gaji untuk beli diamond yang bisa ditukar ke skin di game-game yang kita mainkan. Shopping, sehingga tampilan kita selalu mengikuti trend terkini. Atau, liburan-liburan yang kita rencanakan, agar feed di instagram kita mewah. Tak usah berpikir soal promosi naik jabatan, bagaimana mengembangkan karir, kita lebih bangga ketika mencapai tier mythic di mobile legend atau ace di PUBG, rela mati-matian begadang demi itu. Kita selalu mementingkan daily mission di game, daily mission dari Pencipta yang 5 kali sehari sih, bodo amat.

Jika seseorang bertanya, apa  kita merasa ditampar atau tidak oleh Syed Saddiq, menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, karena ia menjadi menteri negeri jiran di usia belia? Jawabannya, adalah, sama sekali tidak. Tsamara Amany, golongan muda yang aktif politik, sampai pada Justin Trudeau di Kanada, atau Emmanuel  Macron milik Prancis. Mereka semua terlihat menjijikan di mata kita.

Tadi, teman lama saya, orang yang mengatakan politik itu penting bagi anak muda. Ia adalah Pak Supriatna, eks ketua KPU, yang tahun lalu masih menjabat. Tahu apa dia soal politik? Bukankah kita yang lebih tahu segalanya, dan “Maha benar” tertulis di masing-masing jidat kita.

Jokowi atau Prabowo Presiden, Majalengka bakal gini-gini aja!

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history

Check Also

Generasi Idiot Majalengka

Generasi Idiot Majalengka besoksenin.co ­– 2015, saya memutuskan resign dari Kantor, meskipun kontrak kerja masih …