Kamu Tak Pernah Berjuang Sendiri! Kita Pergi ke Tujuan yang Sama, meskipun di Arena Berbeda

Hidup serupa arena balap lari via Pexels

besoksenin.co  Pertama-tama, mari kita sepakati bahwa hidup serupa arena balap lari.

Saya mengerti, kadang kamu merasa berlari sendiri, menoleh ke sekeliling, tak ditemukan apa-apa atau siapa-siapa.

Sebenarnya, saya ada, saya selalu ada! Walaupun raga ini tak ada di sampingmu, tetapi saya benar-benar ada! Saya ada untuk menjaga, melindungi, menenangkan, membunuh keragu-raguan, dan tentu saja memastikan; bahwa kamu terus berlari. Jika dibutuhkan, kamu boleh percaya; kemarin, esok, lusa, dan hari-hari setelah itu; saya masih ada untukmu.

Saya paham, ada waktu tenggorokanmu rasanya seperti terbakar, kamu juga mulai menangis karena hatimu diserang keragu-raguan; “Untuk apa, ke mana, dan sampai kapan aku harus berlari?”

Dengar, kamu hanya harus terus berlari!

Beberapa meter di depan saya sudah menyiapkan sebotol air mineral, minumlah, itu cukup untuk mengobati dahaga hingga kamu menemukan botol berikutnya. Di kilometer yang lain, sudah tersedia selembar puisi untukmu, sebab kata-kata bisa menjadi apa saja, ia bisa digunakan sebagai senapan ketika kamu bertemu hewan buas, atau menjadi payung ketika matahari terlalu panas.

Meskipun saya juga sedang berlari di arena pertarungan yang lain, dan persaingan di sini lebih ketat. Namun, kadang-kadang saya berhenti, membeli air mineral atau menulis puisi. Sebenarnya, ini berisiko tinggi, sebab bisa jadi saya tertinggal terlalu jauh dari yang lain, lalu tersingkir dari kompetisi. Waktu yang saya miliki amat berharga, tapi kamu itu jauh lebih berharga. Saya tidak peduli, menjadi nomor pertama atau bukan. Asal, pada akhirnya, kita dapat menyelesaikan dan menginjak garis finish bersama-sama.

Tidak, saya juga melakukan ini untuk diri sendiri, sebab dengan ikut membantumu, saya tak perlu jauh-jauh mencari, melainkan kita bertemu di sebuah persimpangan, jadi berjanjilah tetap ikuti jejak dan petunjuk yang saya tinggalkan di sepanjang jalan!

Ketahuilah, sesungguhnya kita sedang melangkah dan pergi ke tujuan yang sama, hanya saja di arena yang berbeda. Jadi teruslah berlari, hingga saya temukan.

Nanti, kita akan berlari bersama via Pexels

Di sebuah persimpangan, nanti. Saya berjanji akan merengkuhmu dalam wujud nyata. Dengan tangis deras, dan terisak, kamu berkata; “Hey, ke mana saja selama ini? Mengapa kamu membiarkan aku berlari sendiri?”

Saya tak akan menjawabnya, melainkan menyusut air mata, lalu mengambil tanganmu. Kita harus segera berlari lagi. Tak apa, setelah berhasil saya temukan; kamu tak perlu lagi mengeluarkan terlalu banyak energi, tentu saja sesekali saya bisa menggendongmu. Jika perlu, kita beli kendaraan supersonic, kamu hanya perlu berpegangan pada saya, dan meskipun kita berada di dalam kecepatan super-tinggi, entah bagaimana kamu akan tetap merasa aman. Jika sudah bosan dengan mesin, saya akan membuktikan kepadamu, bahwa pepatah “Setiap manusia bisa terbang, kita hanya butuh seseorang yang dapat menumbuhkan sayap di punggung,” sayalah seseorang itu di hidup kamu.

Saya tak akan menjawabnya, melainkan melakukan apa saja, yang bisa membuatmu merasa; bahwa keringat dan air matamu selama ini sudah tuntas terbayar.

Adakah kamu percaya, bahwa saya selalu ada? Ke dalam perasaan inilah, kamu akan pulang dan bertemu saya lagi. Dan perasaan ini sudah bisa kamu nikmati sekarang, sebagai bekal perjalanan, tetes air ketika kehausan, dan cahaya dalam kegelapan.

Sayang, kesulitan apa pun yang sedang kamu hadapi, kamu hanya harus terus berlari!

Tommi Pringadi

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan