Home > rubrik > besokeling > Kartini, Lambang Emansipasi Wanita Indonesia. Tapi, Kenapa Harus Kartini, Ya?

Kartini, Lambang Emansipasi Wanita Indonesia. Tapi, Kenapa Harus Kartini, Ya?

besoksenin.co – Bicara soal Kartini, kalau kamu sempat baca-baca sejarahnya, ternyata ramai banget! Mulai dari kenapa nama yang diangkat harus Kartini? Kenapa bukan Dewi Sartika? Atau bahkan kenapa bukan pahlawan-pahlawan wanita lainnya yang sama-sama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Padahal, mereka sama-sama menumpahkan darah.

Lalu, apakah di zaman sebelum Kartini tidak ada wanita sehebat Kartini pemikirannya? Padahal, liriklah Malahayati, Laksamana Laut muslimah pertama di dunia dari Aceh!

Coba bayangin, sob. Kenapa, ya kira-kira?

R.A. Kartini
R.A. Kartini via wikipedia

 

Pada Hari Kartini ini, relevan banget buat baca ulasan besoksenin.co lewat artikelnya DR. Tiar Anwar Bahtiar, M.Hum, sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia, tentang pertanyaannya ‘Kenapa Harus Kartini?’. Beliau tulis dalam Jurnal Islamia (INSISTS – Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Yuk, simak sambil siapin cemilannya!

Baca juga: Jangan Sampai Salah Memahami Arti Emansipasi Wanita, Sobat! Ingat, Ini Emansipasi Bukan Hatinya!

Antara Kartini dan Mr. J.H. Abendanon

Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya.

Dibanding Kartini, Ada Dewi Sartika dan Rohana Kudus yang Tak Kalah Hebat

Dewi Sartika
Dewi Sartika via alcherton

Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita.

Baca juga: Dewi Sartika, Wanita Hebat dari Tanah Sunda yang Memperjuangkan Pendidikan Wanita Layaknya Kartini

Bukti Nyata Kalau Mereka Lebih Hebat

Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Rohana Kudus
Rohana Kudus via wikipedia

Dewi Sartika dan Rohana Sudah Lebih Jauh Melangkah

Kalau Kartini hanya menyampaikan dalam surat, Sartika dan Rohana sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Wanita-wanita Hebat Lainnya pun Datang dari Aceh

Kalau saja ada yang sempat menerbitkan pikiran-pikiran Rohana dalam berbagai surat kabar itu, apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan Kartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita.

Kenalin Juga, Malahayati!

Keumalahayati
Keumalahayati via malahayati

Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan wanita) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima jelas bukan posisi rendahan.

Cut Nyak Dien, Sosok Tak Pernah Menyerah pada Penjajahan Belanda

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu?

Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan – Rohana Kudus

Bayangkan, jika sejak dulu anak-anak kita bernyanyi: Ibu kita Cut Nyak Dien. Putri sejati. Putri Indonesia…, mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka. Tapi, kita bukan meratapi sejarah, ini takdir. Hanya, kita diwajibkan berjuang untuk menyongsong takdir yang lebih baik di masa depan. Hal itu bisa dimulai dengan bertanya, secara serius: Mengapa Harus Kartini?

“Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar tokoh lain yang menggugat, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University, dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979)

Wah, ternyata banyak banget nama-nama ‘Hari Kartini’ yang lain. Bagaimana tanggapan kamu, sobat bsco?

Tulisan oleh DR. Tiar Anwar Bahtiar, M.Hum dengan perubahan.

(Fakhrul Azharie)

Facebook Comments

About Fakhrul Azharie

ke sana ke mari membasmi kejahatan

Check Also

Aku Belajar Dari Kartini, Bahwa Kita Harus Berhenti Saling Menyakiti Bukan Berhenti Saling Mencintai

besoksenin.co – Aku terbangun dengan tulisan besar yang aku tempel semalam di tembok kamarku. Itu …

2 comments

  1. Kamagra Holland Valtrex Online Cheap canadian cialis Where To Order Stendra Pfizer Prezzo Kamagra Propecia Virginia

  2. Ordering Diflucan Without A Prescription Cialis Online Rezeptfrei Bestellen cialis 20mg price at walmart Buy Clomid Cheap Buy Propecia Online Isotretinoin find

Tinggalkan Balasan