Home > opini > Kepada Bupati Majalengka Selanjutnya: Aku Ingin Mendengar Suara Maria Oentoe di Majalengka
Bioskop via @cinema.21
Bioskop via @cinema.21

Kepada Bupati Majalengka Selanjutnya: Aku Ingin Mendengar Suara Maria Oentoe di Majalengka

besoksenin.co – Siapa yang tidak suka dengan hujan? Setiap genangnya pasti akan membaca kenang. Kebiasaan mengenang akan selalu ada ketika genangan terbentuk saat hujan. Dan manusia, bebas memilih caranya masing-masing untuk mengenang. Ada yang mengenang dengan musik, bacaan, gambar, atau pun sebuah film. Ada yang hanyut dalam lirik sebuah musik, ada yang tenggelam dalam kalimat-kalimat setiap halamannya, ada pula yang asik menikmati perubahan emosi dari setiap bagiannya.

Untukku,

Film adalah wujud nyata dari sebuah pemikiran. Entah itu hal-hal aneh di luar nalar, atau pun hal-hal yang memang ada di dunia ini. Ada banyak ketidakmungkinan yang selalu menjadi mungkin dalam sebuah film. Seperti seorang buruk rupa yang mencintai gadis cantik, seperti kodok yang berubah menjadi manusia. Seperti aku yang selalu menjadi peran figuran dalam kisah percintaanmu.

Aku tak suka film. Namun denganmu, aku menyukai film. Dalam film, hal favoritku adalah dialog. Aku selalu menikmati setiap dialog dalam film. Terlebih pada kata-kata yang menyakitkan. Seperti pada senja itu, kau melontarkan “aku mencintaimu” bukan padaku. Beruntungnya, aku bukanlah tokoh yang gegabah dalam bertindak. Aku tidak mengakhiri hidup hanya karena cintaku berakhir. Aku percaya, hidupku lebih indah dari sebuah film romantis.

Setelah kamu mengucap dialog —aku mencintaimu, pada seseorang yang bukan aku—itu, sebuah teater dalam otakku runtuh. Begitu pula dengan teater yang ada di kota ini hancur karena bangkrut. Banyak orang tak lagi datang ke bioskop dan tak bisa merasakan teraduknya emosi bersama dengan adegan yang silih berganti pada adegan film-film yang diputar. Banyak pula orang yang tak merasakan kecewanya kehabisan tiket untuk menonton, menghirup wangi berondong jagung saat masuk ruang pemesanan tiket, atau mendengar merdunya suara Maria Oentoe yang menginformasikan bahwa pintu teater telah dibuka.

Bioskop via @cinema.21
Bioskop via @cinema.21

“Ayah, tempat menonton film di Majalengka kira-kira di mana, ya?” Sebuah suara membuyarkanku.

“Bioskop, Nak.”

“Ayah pernah ke sana? Memangnya, Majalengka memiliki bioskop?”

“Pernah karena dulu, Majalengka bioskop. Sekarang, sudah tidak beroperasi karena bangkrut.”

“Sayang sekali.”

Aku melihat ekspresinya berubah dengan cepat. Dia menunduk, kecewa.

“Ayah, apakah Ayah tahu?” Pemuda itu membetulkan posisi kaca matanya, “Diusiaku sekarang yang seperti bioskop, aku bahkan sama sekali tak pernah menginjakkan kaki pada suatu tempat bernama bioskop untuk menonton film sambil menggenggam bungkus berondong jagung juga segelas minuman, di kotaku sendiri: Majalengka.”

Kepada Bupati Majalengka Selanjutnya,

Aku hanya bisa tersenyum rikuh dan berharap #KepadaBupatiMajalengkaSelanjutnya untuk memberikan anakku—juga para pemuda yang lain—sebuah kesempatan. Kesempatan untuk mengaduk emosi bersama dengan adegan yang silih berganti pada adegan film-film yang diputar. Atau, kesempatan merasakan rasa kecewa karena kehabisan tiket untuk menonton. Kesempatan untuk menghirup wangi berondong jagung saat masuk ruang pemesanan tiket, juga kesempatan untuk  mendengar merdunya suara Maria Oentoe yang menginformasikan bahwa pintu teater telah dibuka. Ah, aku juga merindukan suaranya: suara Maria Oentoe pada setiap teaternya.

Facebook Comments

About Nadila D.

Aku adalah puisi; silakan tafsirkan sendiri.

Check Also

lomba menghias gapura

Sambut HUT RI dan Asian Games, Kominfo Selenggarakan Lomba Sarat Makna

besoksenin.co – Tahun 1962, Indonesia terpilih menjadi tuan rumah Asian Games untuk kali pertama. Waktu …