Kepada Pemilik Senyum Paling Manis di SMA, Kebersamaan Kita Mungkin Tak Lagi Lama

Barangkali kebersamaan kita sudah tak lagi lama, aku menjadi sibuk memandang bola motamu via Pexels.com

Waktu SMP aku tak percaya atas eksistensi Alien, tetapi setelah bertemu kamu di SMA nampaknya mereka betul-betul nyata. Kau bilang suka padaku, manusia macam apa yang bisa menyukai seorang urakan sepertiku? Awalnya aku memang tidak percaya dan membiarkan mengalir saja, namun setiap kita pertama bertemu kau selalu memasang wajah yang lebih dari sekadar bahagia, manusia macam apa yang bahkan hanya bertemu denganku bisa sebahagia itu? Kau memang Alien.

Aku tak habis pikir mengapa aku begitu menyukai senyumanmu, kupikir itu sangat manis, meski harus kuteliti apa penyebabnya; kamu benar-benar manis atau karena senyum itu tulus ditujukan untukku?

Alien, terimakasih atas senyum-senyum itu, baik itu di bibirmu maupun di bibirku. Terimakasih atas pendampinganmu di setiap deras hujan maupun pelangi setelahnya. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepadamu, karena kebersamaan ini mungkin sudah tak lama lagi.

Sejujurnya aku masih ingin menggenapimu, tidak ingin berpisah denganmu via pexels.com

Betapa membahagiakan bisa tumbuh di sampingmu, mengumpulkan tawa-tawa masa SMA kita yang renyah. Menyenangkan denganmu melewati berbagai keajaiban tak terduga, beriringan menjemput satu-persatu mimpi yang kau dan aku cipta. Tetapi menahan laju takdir tentu kita tidak kuasa.

Kau harus tahu; meskipun hari ini kita masih bisa duduk berdua, rasa perpisahan itu kerap datang menerjang, suatu hari nanti ia akan benar-benar tiba. Jangan heran jika akhir-akhir lalu aku sibuk menatapmu, tenggelam pada senyumanmu.

“Kenapa? Ada hal yang salah dariku hari ini?” Tanyamu dengan tersenyum.

Kubilang: “Bukan apa-apa,” aku juga masih bisa membalas senyum yang sama denganmu, tetapi diakhiri menelan ludah.

Nyatanya aku sedang berusaha merekam segala keindahan, mengumpulkan kebiasaan-kebiasaan baik dan burukmu, menguncinya di dalam ingatan; sehingga saat kita sudah jauh, seluruh hal dari dirimu sudah mengendap di kepala.

“Ini sudah april,” kataku.

“Lalu? Masih banyak waktu untuk mempersiapkan,” jawabmu, waktu itu.

Dengar, meski aku sudah berusaha mengoleksi hal-hal tentangmu, setiap detail hal manis ketika kita duduk berdua. Aku yakin itu semua tidak cukup. Tidak pernah cukup, pasti selalu gagal dalam upaya perlawanan melawan rindu. Hari-hari di belakang aku sudah terlalu terbiasa berada di dekatmu.

“Kita akan berada di Universitas yang sama, atau paling tidak kampus kita satu kota,” jawabmu dengan gampang. Aku memang selalu suka cara tenangmu mengatasi masalah, tapi entah mengapa kali ini tidak, sebab siapa yang menjamin kalau kita bakal diterima, kalau semua ini akan sesuai rencana?

Di depan kapan saja harapan dan realita berbenturan, jarak dan waktu jelas punya peran untuk mengubah perasaan. Kamu akan berada di tempat baru, bertemu orang-orang baru, dan ah.

Aku membayangkan suatu hari nanti kita dihadapkan persimpangan, terombang-ambing diantara melanjutkan atau berpisah jalan. Kalau saja saat itu tiba, aku tidak akan melangkah duluan, dan memilih tinggal lebih lama untuk menyaksikan punggungmu yang perlahan hilang. Aku sangat yakin tidak sepenuhnya kau atau aku meninggalkan, kadang-kadang kita akan melewati dan berhenti di persimpangan ini; kemudian semakin lama semakin jarang, hingga antara kau dan aku ingin kembali, tetapi sudah lupa jalan pulang.

Barangkali nanti kita sepakat berpisah jalan. Aku pasti selalu ingat tentang kita yang pernah sama-sama berjanji untuk terus saling memperjuangkan.

Barangkali nanti kau akan mengecapku si tegar yang tak punya kesedihan, atau menganggapku si jahat yang telah tega membunuh cerita indah yang pernah kita tuliskan. Dengar, aku hanya harus terus berjalan, yang kau tidak tahu adalah aku yang selalu ingat tentang kita yang pernah berjanji saling memperjuangkan. Aku sedikit berharap, di sana kau masih memperjuangkan aku, mengejar dan mengakui kesalahan. Meskipun aku tidak melakukan hal yang sama, bukan karena aku egois; hanya takut jika aku tetap memperjuangkanmu, tetapi kau sedang memperjuangkan orang lain. Cukup bagiku pernah diperjuangkanmu.

Barangkali nanti kita saling berpisah jalan, ingatlah bahwa kita pernah saling memperjuangkan via pexels.com

Suatu saat, kita berbeda jalan, aku bukan remaja lagi yang suka berkoar-koar, menuliskan segala keinginan di sosial media. Suatu saat aku dewasa yang suka berdoa, yang gemar memendam. Jika aku boleh berharap, harapan yang tidak terlalu besar; agar kita berdua kembali saling menemukan, dengan keadaan yang sudah sama-sama matang, dan siap untuk melanjutkan. Aku akan melakukannya sembari berjalan, tidak menutup kemungkinan menemukan orang baru dan membuat cerita baru. Bukan karena kau telah dilupakan, tapi takut kalau harapanku kepadamu terlalu besar, sedangkan kau di sana tidak punya harapan yang sama.

Belasan kemungkinan membentang, barangkali nanti kita gagal: aku tidak akan memiliki waktu untuk bersedih. Kita akan sama-sama menerima apa yang digariskan-Nya. Namun berbahagialah kamu, setidaknya kau pernah memiliki orang yang begitu mencintaimu, memperjuangkan kita dengan lelah, hingga akhirnya dikalahkan rasa menyerah. Banggalah kamu, karena pernah ada yang mendampingi, rela menyerahkan seutuhnya diri, saat kau masih mencari jati diri.

(Tommi Pringadi)

Facebook Comments

Post Author: Tommi Pringadi

Seorang jomblo profesional yang bercita-cita bikin sunatan massal. I am not player, i am the game. :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.