Kisah Kita Memang Tak Lagi Ada, tapi Kenangannya Abadi di Majalengka

Ini tentang saya yang masih bisa melihatmu di Majalengka via Stock Snap

Ini tentang saya yang sempat begitu membenci Majalengka, karena segala bentuk kenangan yang pernah kita ciptakan di sana. Ini tentang saya yang kerap mencari jalan memutar, hanya demi tidak melewati tempat-tempat favorit yang saya dan kamu sering kunjungi, saat kisah kita masih ada.

Cerita kita sudah lama berakhir, tetapi waktu seakan berjalan pararel, saya benci ketika mata ini masih mampu menemukan siluet kita berdua, di setiap sudut kota. Saya benci ketika memori ini terus-terusan menghubungkan semua tempat yang saya lewati sekarang, dengan satu momen yang dulu kita lakukan di tempat yang sama. Majalengka sudah merenggut kebebasan saya.

Bukan bermaksud membuatmu besar kepala, namun, benar bahwa setelah kamu tiada, di Majalengka saya lumpuh, berjalan tertatih, dan setiap hari selalu berjuang melawan luka yang semakin lama semakin menganga. Di sini selalu hujan lebat, bahkan tak pernah lagi kulihat pelangi. Saya benar-benar membenci Majalengka.

Saya merasa seperti terjebak di Majalengka via Pexels

Seiring waktu, saya terus melangkah, berjalan meski lamban, saya memiliki kesadaran bahwa semua ini pasti ada ujungnya, bahwa di sini tidak akan selamanya hujan. Terus meyakininya hingga jauh.

Sekarang saya sudah menang. Entah bagaimana kenangan itu akhirnya kalah, padahal saya terlebih dahulu menyerah dengan menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Saya ingat, tak lama setelahnya – Tuhan memasukan butit-butir cahaya ke dalam jiwa, kemudian memori diputar ketika saya masih diam-diam menyukaimu, memendam rasa-rasa yang perlahan mengambil alih isi kepala.

Saya ingat, bertahun-tahun lalu, saya pernah menjadi hamba paling bersyukur karena saya dan kamu sama-sama dilahirkan di Majalengka, sehingga kita bisa bertemu.

Saya ingat, bertahun-tahun lalu, saya pernah menjadi hamba paling beruntung karena bisa mengenal kamu, pribadi tanpa celah, mahluk yang bisa menghancurkan segala-gala dengan hanya satu saja senyum, seorang manusia yang punya semua kriteria yang saya impikan.

Saya ingat, bertahun-tahun lalu; saya pernah menjadi seorang manusia paling bahagia karena ternyata kamu memiliki perasaan yang sama, kemudian tak satu akhir pekan pun kita lewatkan untuk mengunjungi tempat-tempat terbaik di Majalengka.

Saya ingat, bertahun-tahun lalu, di Majalengka saya pernah merasa sempurna, ada kamu di sisi saya, kemudian kita berdua menulis mimpi di kota ini, berusaha menuntaskannya satu-per-satu.

Pada akhirnya, bisa saya pahami, Majalengka sudah memberikan sesuatu yang berarti dalam hidup saya. Jadi, apa kabar kamu? Saya sudah tak lagi melulu merindukanmu, meskipun jejak-jejak kita di sana. Jejak itu tidak akan pernah tak dapat dihapus, tetapi akan saya ganti dengan jejak baru, suatu saat nanti.

Saya sama sekali tidak berpikir untuk bisa mengajakmu lagi berkeliling di Majalengka. Sebagai gantinya, berbahagialah, di mana pun kamu berada.

 

Facebook Comments

Post Author: Tommi Pringadi

Seorang jomblo profesional yang bercita-cita bikin sunatan massal. I am not player, i am the game. :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.