Kita, Luka, dan Sesak yang Bersemayam di Majalengka

besoksenin.co – Pada gempitanya malam hari ini, sunyi terasa sesak mengkungkung dada, dan bahagia dibiaskan oleh getirnya beban semesta yang datang dengan tetiba. Padahal, Majalengka tengah indah merekah dengan keelokannya. Tetapi aku masih saja mengurus duka yang kamu tinggalkan pada malam penuh nestapa. Semua itu bergelantungan dalam setiap deret temaram lampu kota, membawakan sebuah kenangan yang berisikan jejak kita dahulu kala.

lampu majalengka
lampu majalengka via pexels

Banyak kisah yang kita rajut dalam kota nan asri ini. Semua kenangan mengepul dalam dinginnya atmosfer malam, menggenang kelam dalam kopi yang sengaja kuracik hitam. Ingatan tentang kamu, tentang kita yang dahulu pernah bahagia pun, muncul bersamaan dengan tangis yang membasahi pelupuk mata. Nyatanya, aku tak pernah benar-benar serius untuk mengikhlaskan kamu. Sebab disini –di Majalengka, jejak kita membekas pada tempat-tempat yang kita jadikan sarang kenagan. Dahulu.

Baca juga: 9 Hal ini Akan Dilakukan Orang Ketika sedang Bersedih. Nomor 8 yang Sobat Bsco Banget nih!

majalengka
majalengka via @ikhwansukma

Kamu masih ingat dengan obrolan kita didepan pesawat tak berawak? Kamu masih ingat dengan diamnya kita dalam keramaian alun-alun minggu pagi? Kamu masih ingat dengan terpukaunya aku sebab melihat keindahan Majalengka dari tingginya Paralayang? Kamu masih ingat dengan makan siang kita –yang seringkali memilih menepi pada kedai makanan pedas? Masih ingat?

Aku ingat.

Segala rekam jejak akan kamu yang tertinggal dalam badan Majalengka tak sepenuhnya aku buang. Meski kini kamu telah hilang. Namun, aku tak bimbang dengan getirnya kehilangan yang menerpa seluruh angan. Sebab, banyak yang harus disyukuri selain meratapi perihnya hati. Pun ada yang harus dibuat mati, dari aku yang menolak untuk berdiri. Yaitu, ingatan tentang kamu. Dan Majalengka selalu memberi arah pada hati yang tengah patah. Kota ini selalu memberikan pelajaran, bagi raga yang sedang ditemukan oleh perihnya kesedihan.

            Kota ini. Kota dimana aku berubah menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Meski tanpa kamu, Majalengka tetap indah dalam pandanganku.
Meski tanpa kamu, Majalengka tetap memiliki malam yang syahdu.
Meski tanpa kamu, Majalengka selalu menyuguhkan cerita yang lebih baru.

Kini, biarkan aku mengecap pilu sembari mengenang kisah masa lalu, tentang kita. Biarkan aku bercumbu dengan sendu yang malam bawakan agar aku tak patuh pada jatuh. Setelah ini –setelah aku mengenangmu sekaligus membunuhmu dalam hatiku. Aku akan mulai bangkit dan mengukir senyuman baru pada langit biru yang mendekap kota Majalengka. Aku yakin, meski tanpa kamu, Majalengka akan tetap indah dan menyimpan banyak kisah yang belum sempat aku jamah.

 

Tulisan ini merupakan kiriman dari sobat bsco, Arief Aumar Purwanto (@ariefaumarp). Ingin tulisan kamu di publish juga? kirim karyamu ke [email protected]

Facebook Comments

Post Author: Riza D. Januar

Cowok yang pernah nolak cewek dengan alasan, "maaf aku terlalu ganteng buat kamu".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.