Majalengka, Sampai Jumpa di H-Lebaran

Hai Majalengka!

Kau baik-baik saja kan? Sebelum aku berjuang dengan soal-soal UAS dari berbagai mata kuliah, izinkan aku menyapamu lewat tulisan ini. Oiya, terimakasih atas waktumu yang telah menemaniku dalam beberapa hari di awal ramadhan tahun ini. Sejujurnya aku tak ingin pergi lagi dari kotamu. Aku ingin ramadanku genap bersamamu. Namun keadaan memaksaku untuk kembali pergi darimu. Jadwal ujian tlah menantiku di kota hujan. Lorong-lorong asrama tlah memanggilku untuk kembali bersamanya. Kasur, lemari, dan meja belajarku tlah meronta merindukan tuannya. Aku dipaksa kembali ke asrama, Majalengka. Kembali meninggalkanmu dan terpaksa aku harus melanjutkan ramadhanku di tanah rantau. Tanpa obrog-obrog yang senantiasa membangunkanku kala Sahur dan tanpa masakan Mama yang memanjakkan lidahku di kala sahur dan buka puasa.

Majalengka,

Untuk beberapa hari ke depan selama aku ujian, maafkan aku jika aku tak sempat menyapamu lewat tulisan-tulisanku. Satu hal yang harus kau tau, setiap kali aku pergi darimu, rindu terus menggerogotiku. Rindu selalu berhasil menyapaku lewat hembus angin yang menyelinap lewat baris sepi di relungku. Rindu selalu bisa menembus jarak dan waktu yang senantiasa mengharapkan temu. Rupanya, puasaku di tanah rantau tak hanya menahan lapar, haus dan hawa nafsu saja, aku juga harus menahan rindu padamu dan pada orang-orang tercinta di kotamu. Tak hanya itu, aku juga harus menahan rindu pada setiap kenangan yang pernah terlukis di setiap sudut kotamu. Jika rindu padamu dan pada orang-orang tercinta di kotamu dapat terobati dengan sebuah temu, rindu pada kenangan takkan pernah bisa terobati karena waktu takkan pernah bisa kembali. Aku hanya mampu menyapa satu persatu kenangan itu dalam ruang nostalgia yang acap kali memadati lobus anteriorku.

Majalengka,

Selama aku pergi, kau baik-baik yaa disana. Jangan nakal. Tunggu aku pulang dan kembali bermain bersamamu menghabiskan waktu yang kita punya. Aku ingin melukis tawa pada setiap cerita kita. Aku janji, aku akan pulang di hari-hari terakhir ramadhan agar aku bisa ngabuburit bersamamu lagi. Menikmati takjil teristimewa yang kau sajikan di kotamu. Lalu, di malam lebaran, kita lantunkan gema takbir bersama di kotamu. Menyambut hari yang Fitri bersama orang-orang terkasih di kotamu.

Majalengka, sampai jumpa di H-Lebaran.

Dari lokomotif kereta, aku menyapamu.

(Lembayung Senja)

Facebook Comments

Post Author: Fitri Kinasih Husnul Khotimah

Aku adalah sepenggal diksi yang siap kau jadikan puisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.