Home > rubrik > besokeling > Mari Berpura-pura Tidak Lupa, Tentang Ajip Rosidi yang Lahir dan Besar di Jatiwangi
Ajip pernah hadir kembali ke kepala kita, saat ia menikahi Nani Wijaya via Kompas

Mari Berpura-pura Tidak Lupa, Tentang Ajip Rosidi yang Lahir dan Besar di Jatiwangi

Mari Berpura-pura Tidak Lupa, Tentang Ajip Rosidi yang Lahir dan Besar di Jatiwangi via Republika

besoksenin.co – Permisi untuk judul ini, tapi milenial Majalengka mana yang ingat kalau The Living Legend, sastrawan besar negeri ini, lahir dan besar di Jatiwangi? Kita aktif, mendirikan berbagai komunitas, mengadakan acara tentang buku, berkeliling dan membuat acara agar anak-anak kecil suka membaca buku, etc. Berbesar kepala, membusungkan dada, seolah sebagai seseorang yang menjadi pahlawan, menyelamatkan dunia literasi di kota ini. Tai, lah. Semua itu tai, kalau kita selalu lupa pada Ajip Rosidi. Anak-anak UNPAD  yang diwakili DASENTRA sana, bahkan mengelilingi, membuat narasi musikal berjudul Lalaki ti Jatiwangi jadi Wawangi Jati ning Nagri, di perayaan ulang tahun terakhir penulis “Manusia Sunda” ini. Lah, kita di Majalengka? Ingat saja tidak. Katakan, kurang tai apa lagi kita ini?! Kita selalu meingat-ingat kematian tokoh sastra, tapi yang masih hidup, yang masih bisa kita cium tangannya, mendengar langsung bicaranya, malah dilupakan! Kita selalu melihat ke tokoh/penulis dari luar negeri sana, tapi buta pada Gajah di depan mata! Maka mari kita bertemu, saling menggampar dengan buku.

Gampar saya paling keras, alih-alih sebagai pengikut Ajip dari SMA, saya malah tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya. Kalau saja kemarin tidak bertemu dengan Ika Nasution di sebuah forum, maka tahun ini juga pasti melupakan, dan tanggal 31 Januari nanti (ulang tahun Ajip) tak akan melakukan ritual apa-apa.

Ajip Rosidi pernah hadir kembali ke kepala kita, saat ia menikahi Nani Wijaya via Kompas

Sebenarnya, Ajip Rosidi pernah hadir kembali di isi kepala kita. 2017 lalu, saat ia menikahi artis kawakan yang juga legenda di industri layar kaca, Nani Wijaya. Namun kita malah fokus pada Ajip; seorang kakek  berusia 79 tahun, yang ingin menikahi salah satu pemeran di Tukang Bubur Naik Haji. Menghakirimi seolah-olah ia hanya kakek berhasrat tinggi, yang tetap ingin menikah di usia senja. Melupakan fakta, bahwa pendampingan seorang perempuan, adalah salah satu kunci keberhasilan dari tiap keberhasilan kaum adam. Toh, mereka sama-sama saling mencintai, kok. Perempuan mana, tanpa peduli bahwa itu adalah Nani Wijaya yang bisa menolak pesona sastrawan besar Indonesia? Nenek tua itu justru lebih mampu melihat Ajip Rosidi. Sementara kita; anak muda Majalengka selalu menutup mata. Kita membaca, memuja, “Manusia Indonesia” Mochtar Lubis, tapi lupa pada buku “Manusia Sunda.” Kita lupa Ajip Rosidi suka sekali membaca buku sejak belia, dan tulisan pertamanya, dimuat di Kabar Indonesia Raya saat dia masih kelas enam SD. Kita lupa, Ajip Rosidi dengan berani memilih tidak lulus SMA, hidup tanpa ijazah, jadi penulis, pengasuh rubrik di berbagai Majalah setelah keluar sekolah. Kita lupa, Ajip Rosidi berusia 17 tahun sudah berani menikah, di usia ini juga ia menjadi Redaktur di Majalah Prosa, dan buku pertamanya “Tahun-tahun Kematian” berhasil terbit. Kita lupa bahwa Ajip Rosidi mendirikan Kiwari di Bandung, dan Tjupumanik di Jatiwangi. Kita lupa bahwa Ajip Rosidi, manusia tanpa ijazah ini, menjadi guru besar di UNPAD, ITB, UNDIP, bahkan juga di 4 Universitas Jepang. Kita lupa pada penghargaan-penghargaan nasional-internasional yang diterimanya. Kita lupa pada buku-buku yang ia tulis, yang jumlahnya melebihi seratus itu, dan beberapa diantaranya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di seluruh dunia.

Sebelum saling menggampar, mari saling memohon ampun, mencoba berpura-pura tidak lupa bahwa Ajip Rosidi lahir dan besar di Jatiwangi. Rencananya, Ika Nasution, Ahmad Sujai bersama Baca Buku di Utara akan membuat seremonial di kediaman Ajip di Jatiwangi, 31 Januari nanti. Semoga saja, dari acara itu, kita dapat terampuni, kembali hidup tanpa tai.

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history

Check Also

Ngobrol  Segitiga Rebana Bareng Kepala Bappelitbangda Majalengka

besoksenin.co – Sebelum pergi, saya menyeduh kopi dulu. Kopi yang diaduk menggunakan bungkusnya ini saya …