Home > berita > Mari Menertawakan Majalengka Bersama-sama

Mari Menertawakan Majalengka Bersama-sama

besoksenin.co – Kemarin malam, lantai dua Oaks cafe dan resto dipenuhi dengan Tawa. Bukan tawa yang sembarangan, melainkan tawa yang syarat makna.

Mereka tertawa karena melihat penampilan dari peserta yang mengikut open mic “Mentertawakan Majalengka”. Sebuah acara hasil kolaborasi obrolan Majalengka dan Co-Working Projet untuk memberikan kesempatan kepada warga Majalengka menyampaikan keresahannya mengenai kota tercinta.

Selain berbagai komunitas dan pengunjung yang datang ke Oaks, acara ini juga dihadiri oleh Pak Wakil Bupati, Tarsono D. Mardiana. Dengan gaya casual, dia tidak canggung untuk ikut duduk dan membaur dengan pengunjung yang hadir.

Materi yang disampaikan oleh opener seolah mewakili perasaan pengunjung yang hadir. Seperti keresahan yang disampaikan oleh salah satu opener yang bertanya-tanya, “kenapa sih bunderan Munjul hampir setiap periode ikonnya selalu diganti?”

Hal ini langsung ditanggapi oleh Pak Wabup, menurutnya ikon bunderan munjul akan diganti dengan ikon berupa bola dunia yang dinamis, jadi tidak statis seperti yang ada di Panglayungan.

Mendengar hal tersebut saya membayangkan nantinya ikon tersebut mirip globe yang biasanya ada celengan. Siapa tahu nanti di munjul juga gitu, selain ada globe yang bisa muter-muter, di bawahnya ada celengan untuk warga Majalengka yang suatu waktu bisa diambil untuk mancing ikan.

Digantinya ikon ikan didukung oleh Pak Ginggi. Menurut pentolan Jatiwangi Art Factory ini, sudah seharusnya ikon bunderan munjul diganti.

Bisik Majalengka patuker jeng Lamongan. Kusabab ikona lauk lele, nunjukeun loba nu dagang pecel lele Lamongan.” Ujarnya, yang disambut gelak tawa penonton.

Akun instagram @obrolanmajalengka juga tidak mau kalah. Diwakili oleh Gelar S. Ramdhani, dia mengatakan hal pertama yang akan ditertawakan olehnya tentang Majalengka adalah masalah sungai yang dijadikan tempat pembuangan sampah.

“Lucu coba, waktu kecil dulu saya sering bermain di sungai. Kadang mandi, main, atau nyari ikan karena sungainya bersih. Sekarang mah sungai malah dipakai untuk membuang sampah. Yang lebih ekstrem, ada sungai yang dijadikan tempat untuk membuang anak.” Ujarnya, diikuti dengan senyum tipis menunjukan rasa miris.

baca juga : Bank Sampah Ala Pemuda Banjaran Hilir

Saya juga tidak mau kalah dengan senior milenial yang dari tadi bergantian mengisi panggung.

“Alasan maskapai belum banyak di Bandara Kertajati adalah karena faktor keterisian penumpang yang kurang. Dulu pernah ada satu maskapai rute ke Semarang hanya diisi satu orang penumpang. satu orang mah, mau main basket aja kurang.” Ujar saya, diikuti ledakan tawa dari penonton.

“Kita hitung, misalnya harga tiket 500 ribu. Dikali 3 penumpang berarti 1 juta 500 ribu. Dengan jumlah segitu jangankan untung, untuk sekedar menyaingi omzet buhe atau RW aja gak sampai.” Lanjut saya, diikuti ledakan tawa yang lebih kencang dari pertama.

Sebagai penutup, saya menyampaikan bahwa jika Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, maka Majalengka diciptakan ketika Tuhan sedang tergesa-gesa. Buktinya, pembangunan Bandara di Kertajati, kendaraan umum favorit Majalengka buhe, dan kita bisa jatuh cinta dan patah hati seketika.

Pernyataan saya langsung di respon oleh Pak Wabup. Terutama mengenai Majalengka diciptakan tergesa-gesa. Menurutnya, sejarah Indonesia pun menunjukan bahwa kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan tergesa-gesa. Soekarno didesak oleh pemuda untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Hal tersebut harusnya bisa berubah menjadi optimisme.

baca juga : Rahasia GenPI Majalengka dibalik suksesnya My Create Fest 2019

Nu penting prung heula. Coba kalau misalkan kebanyakan mikir, kira-kira Bandara Kertajati bakal aya jiga ayeuna moal, A?” Ujarnya sambil senyum dan matanya melihat ke arah saya, diikuti tepuk tangan dan suara riuh penonton.

Dia melanjutkan, tinggal tugas kita sebagai warga Majalengka untuk melanjutkan apa yang sudah terlanjur ada. Dalam kasus Bandara Kertajati, tugas kita adalah bagaimana membuat orang luar tertarik untuk ke Majalengka, baik itu dari segi pariwisata, kuliner, ataupun keunikan lainnya.

Waktu semakin malam, penampilan terakhir datang dari pemilik akun instagram @majasono.id, Yulian. Meskipun tinggal di Tomo, dia memiliki ketertarikan untuk menggali sejarah Majalengka. Pada zaman dulu, Tomo merupakan tempat berdirinya pabrik kopi yang besar milik Majalengka. Oleh karena itu, dia menginginkan agar Tomo bisa menjadi bagian dari Majalengka. Bahaya Yulian ini, dia menginginkan Majalengka menginvasi Tomo yang merupakan bagian dari Sumedang.

Vedi Sumantri selaku ketua pelaksana menyatakan bahwa rencananya acara seperti ini akan rutin digelar pada minggu pertama setiap bulannya.

Mencatut dari apa yang dikatakan oleh perwakilan dari Kampung Impian, Imam, “lebih baik kita menertawakan kekurangan Majalengka lalu tersadar (hudang) apa yg harus kita lakukan, sebelum para pendatang menertawakan kekurangan kita.”.

Jadi, yuk, menertawakan Majalengka.

Facebook Comments

About Riza D. Januar

Cowok yang berwajah susah | Susah dilupain

Check Also

Majalengka Bukan Kota yang Ramah untuk Anak Muda

besoksenin.co – Sejak banyak berdirinya pabrik-pabrik, mengakhiri kota pensiun–terciptanya banyak sekali lapangan kerja, sehingga para …

WhatsApp chat