Home > kontribusi > Melestarikan Kesenian Lokal Majalengka, Mulai dari Kita!

Melestarikan Kesenian Lokal Majalengka, Mulai dari Kita!

besoksenin.co – Majalengka memiliki kebudayaan yang sangat kaya. Dari letak geografis, Majalengka dipengaruhi oleh wilayah Pantura di utara dan Parahyangan di selatan. Wajar, jika kesenian Majalengka beragam dan menjadi wilayah yang diapit oleh dua budaya berbeda.

Dari keberagaman itu, beberapa kesenian yang ada di Majalengka di antaranya;

Sampyong

sampyong
Sampyong via suaramajalengka

Sampyong adalah permainan rakyat asal Majalengka. Permainan ini, terdiri dari dua orang pemain dan dipimpin wasit yang bernama Maladang. Permainan sampyong adalah permainan ketangkasan dan kekuatan memukul-dipukul menggunakan kayu atau rotan berukuran 60 cm.

Gaok

Gaok adalah kesenian yang berkembang di Majalengka berjenis mamaos (membaca teks). Kesenian gaok sendiri berasal dari kata gorowok yang berarti berteriak. Karena gaok dibawakan dengan cara dinyanyikan dengan suara yang keras atau nada tinggi.

Kesenian Sintren

sintren
Sintren via sportourism.id

Sintren dikenal sebagai tarian tradisional masyarakat yang kental dengan aroma mistis/magis. Kesenian sintren diperankan oleh seorang gadis dibantu oleh pawang dengan diiringi gending sebanyak enam orang. Gadis tersebut diikat dan dimasukan kedalam kurungan yang ditutup kain. Pawang atau dalang kemudian berjalan mengitari kurungan sembari melapalkan mantra, setelah selesai dibukakanlah kurangan dan gadis tersebut sudah lepas dari ikatan dengan berdandan cantik lalu menari dengan diiringi Gending.

Realita Saat Ini

Realita yang berkembang sekarang, tentunya sangat patut disayangkan. Banyak sekali kebudayaan yang nyaris punah karena sudah tidak dilestarikan bahkan tidak dipakai lagi fungsinya. Di kota Majalengka hasil dari penelusuran pribadi saya, terdapat kebudayaan yang hampir punah, gaok misalnya.

Baca juga: Merasa Bahagia dengan Kehadiran Bandara Internasional di Majalengka? Pertimbangkan Dulu Ini!

Pewarisan kesenian Gaok terhambat dikarenakan kurang adanya perhatian dan pelestarian dari masyarakat dan pemerintah. Bagai peribahasa hidup enggan mati tak mau.

Selain dari permasalahan kurangnya perhatian dan pelestarian, pengaruh globalisasi pula turut serta mengikis kebudayaan lokal. Bahkan, mematikan budaya lokal tersebut. Perlu kiranya kita sebagai masyarakat yang berbudaya bergerak dan lebih perhatian untuk menjaga dan melestarikan budaya asli Majalengka.

Bila melihat ketiga kebudayaan tadi, kita sebagai generasi selanjutnya herus melestarikan kebudayaan tersebut. Demikian agar tidak punah karena ditinggalkan oleh masyarakatnya.

Masyarakat dan pemerintah harus terlibat

Cara untuk melestarikannya adalah dengan mengenalkan dan belajar menjadi pelaku kebudayaan tersebut. Selain itu, masyarakat dan pemerintah harus menjadi corong utama untuk lebih peduli. Bila kedua element tersebut ada di Majalengka, tentunya tidak akan punah ditelan zaman.

Jangan pernah lupakan kalau kearifan budaya lokal juga sebagai penguat pondasi kebhinekaan negara Indonesia. Nilai-nilai budaya lokal seperti nilai pendidikan, karakter, dan sosial, bisa dikembangkan lebih jauh sehingga bisa menjadi ciri khas masyarakat Indonesia yang berbudaya.

Melestarikan budaya berarti melanjutkan peradaban bangsa. Semoga kabudayaan asli Majalengka bisa tetap lestari.

Tabik!

Editor: Fakhrul Azharie

Tulisan ini merupakan kiriman dari sobat bsco, Tyas Agung Pratama. Mau tulisan kamu dimuat juga? Silakan kirim ke redaksi@besoksenin.co

Facebook Comments

About Fakhrul Azharie

ke sana ke mari membasmi kejahatan

Check Also

Pejabat ketika meninjau progress Bandara Internasional Kertajati

Tarik Ulur Penerbangan Haji di Bandara Internasional Kertajati

besoksenin.co – Jauh hari sebelum beroperasi, ada alasan mengapa pembangunan Bandara Internasional Kertajati dicanangkan agar …