Home > rubrik > besokbaper > Mengajakmu Mengelilingi Majalengka
Mengelilingi Majalengka via Pexel

Mengajakmu Mengelilingi Majalengka

besoksenin.co Elena, beberapa tahun lalu, kamu memutuskan untuk meninggalkan Majalengka, demi mengejar mimpi, sekaligus meninggalkan mimpi yang lain. Saya memang selalu berusaha agar tetap dapat terhubung denganmu. Pernah juga, satu kali, saya pergi ke kotamu. Namun, kamu tahu sendiri, El; entah bagaimana, pada akhirnya semuanya mengasap di udara, hilang bersama bias cahaya lampu kota, menjadi fatamorgana.

Beberapa tahun lalu kamu memutuskan meninggalkan kota ini via Pexels
Beberapa tahun lalu kamu memutuskan meninggalkan kota ini via Pexels

Barangkali, saya sudah masuk dalam kategori melupakanmu, karena sibuk mengisi segala ruang kosong dengan apa pun kegiatan untuk pertumbuhan diri. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Majalengka tumbuh pesat. Itulah alasan mengapa sesekali saya punya angan tentang kamu kembali ke kota ini, banyak tempat-tempat nongkrong baru di sini, saya ingin sekali mengajakmu untuk mencicipinya bersama, satu persatu.

Ingin pergi ke Bukit Panyaweuyan? Saya bisa mengantarmu, sebentar lagi tempat itu sedang hijau-hijaunya. Penasaran dengan BIJB? saya akan meminta teman, agar mengizinkan kita pergi ke lantai paling atas di sana. Setidak-tidaknya, memberi tahu kamu tentang segala hal baru, yang belum ada ketika kamu pergi.

Saya tidak menolak segala kemajuan Majalengka hari ini, namun saya tak pernah suka dengan kota yang tanpa ada kamu di dalamnya.

Sebenarnya, El, tulisan ini lahir dari mimpi semalam, mimpi yang begitu nyata. Jadi begini, dalam mimpi itu, kamu tiba-tiba saja kembali berada di Majalengka, saya ke rumahmu, dan kamu sudah menunggu. Pujian-pujian pada Tuhan adalah hal paling pertama, sebab kamu telah dijaga-Nya, sehingga hari ini masih baik-baik saja.

Sekali lagi, barangkali saya sudah melupakanmu, tetapi kembali melihatmu lagi, membuat rasanya seperti seseorang menampar saya dengan telak, lalu tanpa permisi ia memutarkan puluhan gambar dari memori, menyeret pada dimensi berisi penuh segala hal tentang saya dan kamu.

Selanjutnya, di mimpi itu, di atas kendaraan, kita beradu pendapat tentang ke mana sebaiknya kita harus pergi, asal bersamamu, sesungguhnya saya tidak terlalu peduli pada hal itu. Tentu, saya juga sempat sedikit tentang beberapa penetrasi pertumbuhan Majalengka di bidang tertentu, walaupun saya yakin kamu juga mengetahui informasi-informasi ini dari media sosial.

Sesampainya di tujuan, saya menjadi sibuk dengan isi kepala sendiri, menebak seluruh gestur yang kamu tunjukan; Tentang apa saja yang kamu lewati selama ini? Luka jenis apa yang kamu terima? Bahagiakah kamu sekarang? El, saya yang sekarang masih persis sama dengan saya yang dahulu kamu tinggalkan.

Ceroboh, emosional pada hal-hal kecil, dan segala hal buruk lainnya. Ya, kehidupan memang tak pernah seindah cerita peri, namun saya merasa bahwa kamu itu peri keberuntungan saya, sebab sejak kamu pergi, rasanya semua hal yang saya lakukan menjadi sulit.

Mengelilingi Majalengka via Pexels
Mengelilingi Majalengka via Pexels

Lalu, di mimpi itu, di perjalanan pulang, bersama bias lampu kendaraan di depan, saya ingin sekali meminta maaf, sebab membiarkanmu berjuang sendiri atas apa yang kamu inginkan, sebab membiarkanmu akrab dengan sepi. Namun sebelum sempat menyampaikan, saya malah terbangun.

Meskipun hanya dalam mimpi, tapi saya bahagia. Suatu hari nanti, datanglah pada mimpi saya lagi, masih banyak sajak di matamu yang belum selesai saya baca. Saya akan menunggu hari itu tiba.

Jika definisi rumah adalah sebuah tempat yang berisi orang-orang yang selalu merindukanmu, maka saya bisa memastikan kepadamu, bahwa Majalengka bakal selalu menjadi rumah untuk kepulanganmu. Menetaplah, El. Tinggal lah di sini selamanya, jangan pergi lagi!

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history

Check Also

3 Karya Edukatif Mahasiswa Universitas Majalengka yang Majalengka Banget!

besoksenin.co – Majalengka tak habis akan karya. Selain diisi oleh adek-adek gemay orang yang kreatif, …