Home > opini > Mengolok-olok Arief Yudi (Bagian 1)
Mengolok-olok Arief Yudi

Mengolok-olok Arief Yudi (Bagian 1)

Mengolok-olok Arief Yudi via Dewi Magazine

besoksenin.co – Izinkan saya memanggilmu Baba dalam surat ini, seperti saya biasa memanggilmu. Saya mengerti orang seperti Arief Yudi tidak akan pernah membuka website ini, namun sesuatu tentangmu seharusnya bisa menarik minatmu. Saya juga tidak berharap kamu membaca ini, apalagi tulisan ini bakal penuh kalimat dengan nada mengolok-olok. Belum ada, kan? Mana ada media yang berani mengolok-olokimu, mengungkapkan aib-aibmu. TEMPO, KOMPAS, bahkan media-media di luar negeri, selalu saja membahas hal-hal baik tentangmu. Mereka semua mudah ditipu. Bukan hanya media, semua orang telah ditipu, oleh orang yang paling nggak ada kerjaan di Jatiwangi art Factory. Orang yang hanya ngobrol dengan orang-orang, dengan obrolan yang bahkan sendirinya tidak mengerti. Orang yang terus menerus merokok, bahkan ketika memimpin sebuah forum. Orang yang tidak bisa bahasa inggris, tapi memiliki relasi di lebih 40 negara seantoro bumi.

Jujur saja, saya juga tertipu. Pertama, salah satu alasan saya memutuskan untuk pulang kampung, karena melihat ada Jatiwangi art Factory, sekelompok orang yang terlihat mengeluarkan effort sekuat tenaga untuk menyelamatkan Jatiwangi. Belakangan diketahui, baik kamu, Pak Ginggi, atau semua orang di JaF; tidak pernah benar-benar ingin menyelamatkan Jatiwangi. Jadi, untuk apa saya balik ke sini? Kalau saja, saya tetap di Cikarang, gaji 6 juta, tentu saja saya tak mungkin hidup terseok-seok seperti saat ini. Ke dua, kamu pernah menjanjikan memberangkatkan saya ke Swiss? Namun, Yogya masih jadi tanah terjauh yang pernah saya injak, 24 tahun hidup ini. Tapi, okay, saya kalah, kosong-satu.

Bersiaplah, Ba. Saya akan tampil all out di sini. Baba, kalau kamu melihat saya ketika menulis ini, kamu akan menemukan saya menulis ini sambil tertawa, menggosok-gosokan ke dua telapak tangan, layak orang kedinginan. Sekali ini saja, saya adalah pemburu, dan kamu mangsanya.

Saya dan kamu pernah begitu dekat, saya bahkan pernah merasakan kasih sayang, yang rasanya tak pernah diberikan oleh Bapak saya sendiri. Kita juga pernah menghadiri sebuah seminar di Bandung hanya berdua saja. Ingat, salah satu hal brengsek yang kamu lakukan ini ke saya, Ba? Kamu menyetir mobil sendiri. Di acara itu pun, saat kamu menjadi pembicara, saya hanya duduk mendengarkan bersama peserta lain, lalu kita langsung pulang. Jadi, coba katakan, untuk apa kamu mengajak saya, kalau saat itu, saya sama sekali tak berguna?

Namun, ibarat pacaran, hubungan kita berhenti ketika kamu berkata, “Besoksenin.co tak akan pernah menjadi apa-apa. Besoksenin.co tak akan membawamu ke mana-mana!” saya geram, marah, memutuskan untuk tidak mau melihat wajahmu lagi. Kamu bilang itu di depan saya langsung. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengatakan tak berguna pada sesuatu yang saya bangun dari nol, pada sesuatu yang saya rela begadang hingga jam 5 pagi setiap harinya, tanpa peduli 3 jam kemu