Home > rubrik > besokeling > Menjadi Netral Tidak Serta Merta Menjadi Si Penolak Untuk Memilih

Menjadi Netral Tidak Serta Merta Menjadi Si Penolak Untuk Memilih

besoksenin.co – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), netral dapat diartikan sebagai tidak berpihak (tidak ikut atau tidak membantu salah satu pihak), atau dalam arti kata lain, netral berarti bebas atau tidak berpihak. Menjadi netral bukan perkara yang mudah bagi sebagian orang. Sebab, kebanyakan, ketika seseorang itu sudah memilih salah satu, maka mereka akan dengan sengaja membutakan diri untuk tidak melihat kepada hal yang lain.

Menjadi Netral Tidak Serta Merta Menjadi Si Penolak Untuk Memilih via pexels

Apakah netral dapat direpresentasikan sebagai arti lain dari golput (golongan putih)? Menurutku, tidak. Bahkan keduanya mendekati kata sama pun tidak. Netral ya netral, dan golput berbeda jauh dengan itu. Walaupun didalam golput, memang salah satu unsurnya ada sebuah kenetralan, tetapi golput dan netral tetap saja berbeda, menurutku.

baca juga : Pesan untuk Orang Sunda yang Ragu Menikah dengan Orang Jawa

Netral dapat berarti suatu ungkapan seseorang untuk menilai. Menilai secara jernih sebelum benar-benar memilih. Netral juga dapat berarti mengukur. Mengukur kelebihan atau kekurangan sesuatu yang akan mereka pilih. Sedangkan golput, dapat berarti tidak berpihak. Namun tidak berpihak disini bukan untuk menjadikannya salah satu pilihan. Namun, tidak berpihak sebab menolak memilih.

 

via pexels

Perlukah suatu kenetralan dalam memilih sesuatu? Tentu saja perlu. Mengapa demikian? Sebab, kebanyakan, saat ini orang-orang menilai suatu masalah hanya dari satu sudut pandang saja, atau dari sudut pandang seseorang yang mereka percayai. Padahal, hal itu kurang patut disebut sebagai menilai, tetapi lebih layak dinamakan sebagai menerka. Dan itu bukan netral namanya.

Mengapa disebut sebagai menerka? Sebab, mereka hanya menebak, mengira atau membenarkan salah satu persepsi, tanpa betul-betul mengobservasi atau meninjau kembali. Dan itu salah satu duduk dari permasalahan orang-orang di negeri ini. Membaca sebagian, namun menyimpulkan seluruhnya.

 

via pixabay

Kata mereka, kita tidak dapat menyamakan isi kepala, dan aku membenarkan bahwa memang itu kenyataannya. Tetapi, kita dapat menarik kesimpulan dari tiap isi kepala, menurutku. Dan untuk menarik kesimpulan, yang dibutuhkan bukan keegoisan, bukan pendapat A lebih baik dari B atau C. Tetapi logika, keikhlasan dan kenetralan. Karena, suatu organisasi tidak mungkin berjalan dengan baik ketika anggotanya tidak mau menarik kesimpulan, ketika anggotanya hanya ingin salah satunya saja yang didengarkan, atau menarik kesimpulan tanpa ada kata sepakat yang dibubuhkan.

Pun dengan sebuah negara. Negara tak akan berjalan, jika masyarakatnya sendiri tidak ingin berkembang, tidak ingin ada kemajuan, dan tidak ingin ada kritik yang disematkan. Tetapi, tidak perlu juga banyak menyalahkan negara jika diri sendiri pun belum dibenahi. Pengelola negara bukan penampung aspirasi pribadi yang hanya akan memberi dampak pada dirimu sendiri. Tetapi, mereka berpikir dampak pada berjuta-juta orang yang tinggal di negeri ini. Jadi, bagaimana? Apa kau yakin dengan pilihanmu? Apa kau tidak akan misuh sendiri ketika pilihanmu tidak memenuhi ekspektasi?

Facebook Comments

About Elvira Mentari A

A girl who lives among the words.

Check Also

Mau Dibawa Kemana Majalengka di Masa Depan?

besoksenin.co – Pergantian kepemimpinan secara esensi adalah proses menuju perubahan ke arah lebih baik yang …