Home > opini > Pengalaman Jadi Alumni Sekolah Favorit dan Bodo Amat Sistem Zonasi

Pengalaman Jadi Alumni Sekolah Favorit dan Bodo Amat Sistem Zonasi

besoksenin.co – Sebagai orang hoki yang pernah belajar di sekolah favorit, kayaknya saya perlu berbagi pengalaman. Apalagi ditengah polemik soal zonasi sekolah.

Sebelum lebih jauh membacanya, kalian harus ingat. Ini pengalaman saya lho, ya. Gak merepresentasikan pengalaman anak lain yang pernah sekolah di sekolah favorit. Jangan kaget kalau kalian nanti liatin artikel ini ke temen, saudara, bapak, atau emak, responnya “gak kok, gak gitu.”. Yha namanya pengalaman sendiri.

Kalau anggapan kalian sekolah favorit isinya murid yang pinter, tertib, soleh, dan baik semua. Itu semua gak bener.

Sekolah favorit juga sekolah biasa. Murid yang suka bolos alias madol? Ada. Siswa yang suka mabok? Ada. Murid yang suka nyontek? Banyak. Murid yang suka terlambat? Banyak. Murid yang suka ninggalin pas sayang-sayangnya juga ada.

Sekolah Favorit via Facebook SMAN 1 Majalengka
Sekolah Favorit via Facebook SMAN 1 Majalengka

Eetapi, bukan berarti sekolah favorit gak ada murid benernya. Murid yang gak pernah terlambat? Ada. Murid yang kalau disuruh ngerjain PR ngerjainnya di rumah, bukan di sekolah? Ada. Murid yang juara olimpiade berbagai tingkatan, mulai dari kecamatan sampe nasional juga ada.

Saya? Kalau saya mah masuk murid yang biasa. Biasa ngerjain PR di sekolah. Biasa nyontek pas ujian. Biasa kabur pas jam pelajaran buat ke kantin. Biasa suit-suitin cewek cantik. Yaaa pokoknya murid biasa lah.

Masuk ke sekolah Favorit gak serta merta merubah seseorang jadi lebih baik.

Kalau harapan orangtua pengen anaknya masuk sekolah favorit karena pengen nilainya bagus, tapi sehari-harinya gak ngingetin anaknya yang kecanduan maen game yaa ramashok!

Semua ada proses yang harus dilalui. Gak bisa ujug-ujug. Indomie aja yang instan kalau mau dimakan harus diseduh atau dikremek-kremek dulu.

Ingat ya, sob pengawasan dan dukungan orangtua terhadap anak tetap nomor satu. Persepsi yang salah adalah ketika orangtua menganggap tugasnya selesai saat anaknya sudah masuk ke sekolah favorit. Emangnya sekolah tempat penitipan anak!

Jika kalian menganggap sekolah favorit bisa mendukung minat dan bakat semua murid. Saya gak setuju.

Baca Juga : Kang Fiho, Jajaka Soleh yang Mencari Pasangan

Waktu sekolah dulu, saya menggilai olahraga bola basket. Hampir setiap hari, usai pulang sekolah saya selalu berlatih bersama teman-teman yang sama-sama gila. Selain cewek-cewek yang pulang sekolah lewat dan melihat kami bermain basket, hal lain yang paling kami tunggu adalah kejuaraan antar sekolah.

Suatu hari, kita dapat informasi akan ada kejuaraan bola basket antar sekolah di wilayah tiga. Saya senang bukan kepalang, teman-teman juga sama. Namun jawaban dari pihak sekolah tidak seperti yang kami duga.

Dengan alasan dana yang terbatas. Dengan berat hati sekolah favorit tidak mengizinkan kami untuk ikut kejuaran. Udah latian hampir setiap hari, bagian ada kejuaraan gak diizinin. Emangnya kami main basket buat pamer depan cewek sekolah yang lewat aja? Ya iyaa engga!

Meskipun sekolah gak ngasih dana, kami punya orangtua yang selalu support anaknya. Dengan cara udunan, kami mampu mengumpulkan uang untuk pendaftaran. Meskipun dengan agak terpaksa sekolah memberi izin, akhirnya kami berangkat.

Hal yang patut diacungi jempol dari sekolah saya dulu adalah kedisiplinan dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Sekolah favorit ini punya jargon “dalam keadaan apapun KBM tetap berjalan”. Atau istilah kerennya Anti pulang-pulang duluan club.

baca juga : Dirgahayu Majalengka, Kota Manisku, akan Tetap, dan Selalu Manis

Pernah suatu hari, teman saya di sekolah lain menyebar isu bahwa semua sekolah di Majalengka akan dipulangkan karena akan ada rapat. Saya sampaikan di kelas. Semua orang teriak kegirangan.

Eetapi, sampai siang kita gak pulang-pulang. Gurunya gak masuk, tapi tetep ada tugas. Tugasnya gabisa ditinggal lagi, harus dikerjain dan dikumpulin hari itu juga. Ketika saya tanya teman dari sekolah lain, mereka emang dipulangin lebih cepet. Nasib-nasib.

Meskipun gurunya rajin, tapi tetep. Murid selalu mengharapkan ada jam kosong dan pulang lebih awal.

Ujung-ujungnya istilah sekolah favorit akan tertuju pada alumninya. Bagaimana mereka setelah lulus? Kemana mayoritas mereka melanjutkan pendidikan? Ke PTN, PTS atau mungkin langsung menikah?

Selain itu jurusan apa yang diambil? Kalau mayoritas dokter ataupun teknik pertambangan. Otomatis semakin yakin orangtua jejel2in anaknya masuk ke sekolah Favorit.

Tapi, Pak, Buk, dan sobat bsco semuanya meskipun sekolah favorit menjadi salah satu faktor anak bisa masuk PTN/PTS di jurusan yang diinginkan orangtua anak yang saat ini terganjal karena adanya sistem zonasi. Hal ini tidak serta merta membuat kita mengabaikan faktor lainnya.

Saya setuju dengan tulisan Mbak Niken di Mojok.co. ketimbang jejel-jejelin anaknya masuk sekolah favorit, mending fokus untuk bikin keluarga favorit.

Bikin suasana yang bikin anaknya semangat belajar, rajin menabung, dan rajin ke masjid. Jadi gak perlu pusing dan bisa bersikap bodo amat dengan sistem zonasi sekolah.

Facebook Comments

About Riza D. Januar

Cowok yang berwajah susah | Susah dilupain

Check Also

Apa yang Baru dari Acara Bazar SMAN 1 Majalengka Kali ini? Yang Jelas, Tradisinya mah Pasti Sama dari Tahun ke Tahun

besoksenin.co – Tahun ini, SMAN 1 Majalengka mengadakan bazar rutinan dengan tema acara Pesona Indonesia. …