Pergi ke Majalengka Adalah Caraku Menertawakan Kesibukan Orang-orang di Kota

Beberapa waktu lalu aku mengajak teman-temanku dari salah satu kota maju di Indonesia untuk pergi ke Majalengka.  Awalnya mereka menolak dan bersikukuh tidak mau, salah satu alasannya adalah “Disana kan gak ada apa-apa, mending disini banyak tempat main sama mall”. Mendengar itu, aku malah semakin memaksa, karena ingin “mematahkan” pendapat mereka tentang Majalengka. Akhirnya setelah berjanji akan menanggung semua biaya ongkos dan makan mereka di Majalengka mereka mau.

Siap menuju Majalengka

Hari pertama sampai di Majalengka aku ajak mereka langsung ke tempat paling hits “Panyaweuyan”. Mereka takjub melihatnya

“Kalau di tempat kita sana, mau lihat pemandangan kayak gini susahnya minta ampun, terhalang macet lah, bayar lah. Kalau disini

panyaweuyan via ziezfamily.blogspot
Panyaweuyan via ziezfamily.blogspot

sepanjang jalan bisa kita nikmatin gratis dan gak ribet” Ujar salah satu temanku yang sedang sibuk mengambil foto.

Memang seperti itulah Majalengka. Tempat yang pantas untuk dijadikan tujuan kabur. Kabur dari kesibukan, keramaian, dan beratnya beban pikiran.

Seperti julukannya, Kota Angin. Majalengka mampu membuatmu terbang, melayang ke tempat bernama kesederhanaan. Melayang jauh untuk pergi meninggalkan kesibukan orang-orang di kota.

Setelah puas menikmati keindahan panyaweuyan, aku mengajak mereka berkeliling ke beberapa tempat seperti Curug Maja, Curug Sawer, Paralayang, dan terakhir mencicipi mie ayam toye. Ternyata tempat terakhir yang dituju ini membuat teman-temanku geleng-geleng, pasalnya harga mie ayam tersebut hampir setengahnya dari harga mie ayam pada umumnya di kota. Soal rasa? Mie ayam toye juaranya!

Mie ayam toye via Gandhi Gumelar
Mie ayam toye via Gandhi Gumelar

“Mangga kang, punten teh” diikuti dengan senyum sapa yang tulus adalah hal yang sulit ditemukan di kota besar. Terlebih bagi orang yang lebih sering bercumbu dengan layar komputer untuk mengejar deadline.Bukan hanya mie ayam toye, tapi kebanyakan tempat makan di Majalengka pada umumnya memang tidak memakai penyejuk ruangan, tapi soal cita rasa, harga dan jasa yang diberikan bisa membuat pengunjung ketagihan. Itu semua karena keramahan yang selalu ditunjukan oleh pedagang/masyarakat Majalengka.

Setelah selesai berkeliling Majalengka, aku memilih mengajak teman-teman beristirahat di rumah. Takutnya mereka sakit jika tidak istirahat, namun temanku tiba-tiba berkata,

“Bosan yaa kalau di rumah terus, aku pengen kesini nih, pengen kesini juga. Anjir keren ini dimana sih? Kenapa gak ngajak kesini tadi?” sambil menunjukan foto-foto pemandangan di Majalengka yang dia dapatkan di salah satu akun instagram.

Ya, Majalengka itu membosankan. Membosankan jika hanya dinikmati dari foto, membosankan jika kamu hanya mendengar berita tentang keindahannya tanpa mengunjunginya secara langsung.


Pergi ke Majalengka adalah caraku untuk menertawakan kesibukan orang-orang di kota, mungkin kali ini berlaku untuk teman-temanku juga. Kalian bagaimana? Mau mencoba menertawakan kesibukan orang-orang di kota dengan pergi ke Majalengka? Mengapa tidak?

(Riza)

Facebook Comments

Post Author: Riza D. Januar

Cowok yang pernah nolak cewek dengan alasan, "maaf aku terlalu ganteng buat kamu".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.