Perihal Kamu Mencintaiku, Mungkin Bisa Menjadi Keajaiban Dunia yang Baru

Aku adalah penggemar doraemon, dengan menontonnya pikiran imajinatifku muncul dengan sendirinya. Ketika berumur tujuh tahun, aku selalu berharap isi dari kantong doraemon adalah mainan yang bisa aku miliki semuanya. Ketika menginjak usia remaja, sekitar 17 tahun, aku berpikir untuk meminjam pintu kemana saja agar bisa keliling dunia. Sekarang, ketika sudah dewasa aku berpikir untuk meminjam mesin waktu agar bisa memperbaiki kesalahanku dulu, terutama saat merelakan seseorang yang selalu ada dipikiran ini menangis pilu, Kamu.

 

“Orang yang membuatmu tersenyum setiap hari, akan kalah oleh orang yang sejak awal kamu cintai.”

 

Quotes tersebut adalah tamparan keras bagi seseorang yang selalu berharap untuk bisa mendapatkan cinta dari orang yang sudah memiliki pasangan, sekalipun hubungannya dalam masa yang renggang.

 

Aku adalah salah satunya.

 

Singkat cerita, Renata adalah murid pindahan di sekolah menengah atas Jakarta ke Majalengka. Renata cantik, tinggi, putih, bulu mata lentik, rambut diikat ke belakang, bulu idung dikuncir, bulu ketek diponi *abaikan fix, sorry, lagi galau malah ngaco*.

 

Suasana kelas terasa berbeda saat Renata berada di kelas, aku yang biasanya hanya tidur atau maen game, sekarang mulai berubah menuju arah yang lebih baik. Ketika guru menerangkan, aku memperhatikan …. Renata. Ketika guru berkata “Ada yang ingin ditanyakan?” maka aku adalah orang yang pertama kali mengangkat tangan

 

“Bu, apakah ada yang bisa melebihi kecepatan cahaya?”

 

“Tidak ada”

 

“Ibu salah, ada bu”

 

“Memangnya apa?”

 

“Degup jantung ini ketika melihat senyum Renata, lebih kencang dari kecepatan cahaya bu.” Jawaban ini disambut suara “Cieeeee” dari teman sekelas, senyum malu-malu dari Renata, dan lemparan spidol yang berujung dihukumnya aku setelah pelajaran oleh ibu guru.

 

Semenjak “kebodohan” hari itu, aku dan Renata semakin dekat.

 

Kami adalah pasangan teman yang kompak, menurut teman sekelas aku dan Renata cocok, saling melengkapi. Renata putih, aku coklat, aku tinggi Renata kurang tinggi, aku suka membuat Renata tertawa dan Renata suka tertawa, Renata cantik dan aku …. lebih cantik *Ini bukan LGBT, sorry sorry fokus ke permasalahan*.

 

Arah pembicaraan yang biasanya ringan, hanya sebatas melontarkan lelucon dan keseharian berubah menjadi topik yang berat, berkaitan dengan perasaan.

 

Renata berkata, setelah pindah hubungannya dengan Andre mulai renggang. Chat Renata jarang dibalasnya, jika ditelpon Andre bilang sibuk dan yang lebih parahnya adalah beberapa kali teman Renata yang di Jakarta melihat Andre dengan wanita lain.

 

“Udah sabar aja, lebih baik tau kejelekan Andre sekarang kan ketimbang nanti hubungannya lebih jauh?” Aku mencoba menenangkan hatinya.

 

“Iyaaa, makasih.. Aku sayang kamu Le” Ajaib! Tiba-tiba keluar kata-kata yang sama sekali tidak pernah terpikir olehku akan Renata katakan secepat ini.

 

“Aku gak salah denger ka Re?” tanyaku dengan bingung.

 

“Enggak kok Le, apa aku harus pake toa masjid biar semua denger kalau aku sayang kamu?” lalu Renata senyum sembari mengusap air matanya sendiri.

 

“Kamu bisa buat aku ketawa, senyum, bahagia dan nyaman sekaligus”

 

Mendengar kata-kata itu, aku hanya bisa bingung dan diam ….. diam-diam bahagia.

 

Tak terasa waktu dua tahun dilewati dengan menangis, bertengkar, berselisih paham, berbeda pendapat, tertawa bersama, bercanda dan saling bertukar cerita antara kami berdua.

 

Masalah mulai muncul ketika kami harus berpisah, setelah lulus aku melanjutkan study arsitektur di Universitas ternama di Yogyakarta, sedangkan Renata memilih jurusan kedokteran di Bandung.

 

Seperti seseorang yang kesurupan, Renata tiba-tiba berubah. Pesan dariku mungkin Renata anggap dari provider kartu, langsung hapus tanpa perlu dibaca. Setiap kali aku menelpon, Renata mengabaikannya begitu saja. Kondisi seperti ini berlangsung hingga beberapa bulan.

 

Ketika aku mencoba bertanya kepada Renata masalah apa yang terjadi dan mencoba untuk menyelesaikannya, Renata seolah menghindar. Nihil, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hasil yang aku dapat.

 

Tak nyaman dengan kondisi tersebut, aku pergi ke Bandung untuk memberi kejutan dengan datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu.

 

Namun bukannya aku yang memberi kejutan, malah Renata yang membuatku terkejut, dengan mata kepala sendiri aku melihat Renata dengan Andre sedang duduk manis di pojok cafe. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk dan menghampiri meja tersebut, Renata ternyata sadar aku datang menghampiri mejanya, lalu dia izin sebentar kepada Andre untuk meninggalkannya sendirian di meja. Setengah berlari Renata menghampiri dan memegang tanganku, dengan sedikit memaksa membawaku keluar dari cafe.

 

“Ngapain sih kamu kesini?!” Nada membentak keluar dari mulutnya

 

“Lah, kok kamu yang marah? Harusnya aku yang marah, kamu gak ada kejelasan, gak ada kabar, taunya jalan sama Andre.”

 

“Hemmmmpppphhhh” Renata menghela nafas lalu berkata

 

“Sorry Le, aku gak bisa lanjutin hubungan ini, kita putus.”

 

“Kenapaa? Jadi selama ini aku cuman pelarian kamu dari Andre?”

 

“Maaf le, kamu emang bisa bikin aku seneng tiap hari, tapi Andre adalah laki-laki yang dari awal aku cintai”

 

“……” kali ini aku diam … diam-diam menyesakan. Tanpa membalas perkataan Renata aku pergi, karena aku sadar bahwa perkataan apapun yang aku keluarkan tidak akan bisa merubah pikirannya untuk kembali mencintaiku, maaf mungkin lebih tepat jika kata “kembali” dihapus, dari awal Renata tidak mencintaiku, apa yang dia katakuan dulu itu, Palsu!

 

Ketimbang belajar mencintai Renata lagi, lebih baik aku fokus untuk belajar arsitektur.
Suatu hari, dosen memberikan sebuah pertanyaan “siapa yang bisa menyebutkan beberapa bangunan yang masuk keajaiban dunia, dan mengapa bisa dikatakan demikian?” aku langsung mengangkat tangan dan menjawab

 

“Taj Mahal, Candi Borobudur, dan …. “ ucapanku terhenti

 

“dan apa Ale? Lanjutkan, keajaibannya apalagi?” sebenarnya aku ingin menjawab 

 

“Renata mencintai saya pak” namun, biarlah jawaban itu tersimpan dalam hati.

 

Kembali pada paragraf pertama tulisan ini, andai saja doraemon hidup di dunia nyata, bangunan seperti Candi Borobudur, Taj Mahal, Piramida, dan bangunan lainnya yang termasuk tujuh keajaiban dunia akan mudah dibangun, begitu pula dengan mengubah perasaan Renata terhadapku.

 

 

Facebook Comments

Post Author: Riza D. Januar

Cowok yang pernah nolak cewek dengan alasan, "maaf aku terlalu ganteng buat kamu".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.