Perih(al) Mencintai, Kau Pernah Jatuh Cinta, Kan?

Selamat malam tuan, kau sehat? via Pexels

Perih(al) Mencintai,

Oleh Ulya Uhirayra

 

Selamat Malam, Tuan. Kausehat?

Awalan yang klise, bukan? Tapi biarlah ini menjadi seperti surat kebanyakan. Guru-guru di masa sekolah agaknya telah berhasil menyelipkan satu potong informasi ini dalam ingatan. Hingga aku begitu kesulitan menemukan kata sapaan lain agar tak mesti melulu membosankan. Ah, tapi disudahi dulu saja basa-basi ini. Kita masih punya banyak waktu untuk bercakap, kan, nanti?

Pernah jatuh cinta, tidak? Maksudku, jatuh yang benar-benar terjatuh. Kusederhanakan dengan sebuah analogi, ada yang pernah bilang padaku bahwa ketika aku ingin jatuh cinta, maka jatuhlah seperti anak kecil yang terjatuh tiba-tiba, di mana saja, kapan pun semesta menggiringnya agar jatuh. Jatuhlah seperti anak kecil, yang melakukannya tanpa beban. Yang selalu bangkit lagi, lalu terjatuh lagi, dan berusaha bangkit untuk kembali bermain, berulang-ulang mengulangi siklus yang sama. Yang mungkin saja menangis kencang saat ia jatuh tepat di atas aspal hingga memberinya luka yang tak sedikit. Juga yang segera menghapus air matanya dengan tawa ringan dan seringaian polos setelah melihat cokelat kesukaan di tangan ibunya.

Kau pernah jatuh cinta, Tuan? Pada seseorang yang; saat melihatnya pertama kali, kau seketika yakin dialah orang yang tepat. Saat melihatnya meski dari jauh, langkahmu yang buru-buru secara refleks seolah berpacu dengan debar. Yang dengan melihatnya saja rasanya waktu berhenti, lalu berpikir bahwa dengan melihatnya, kau mungkin saja punyai keahlian menghentikan detak waktu.

Kau pernah jatuh cinta, kan? Jatuh pada orang yang tidak pernah kau duga. Jatuh cinta yang sama sekali tak mampu kausangkal, sekeras apapun kau mencoba membantah, sekuat apapun kau mencoba mengusirnya, ia bergeming, justeru menggenggam hatimu kian erat. Kau gagal mengingkari hatimu, bukan, waktu itu? Kau pernah merasakannya?

Kau pasti pernah jatuh cinta: pada seseorang yang mampu membuatmu lupa pada semua hobi dan segala kesukaanmu. Maksudku, tiba-tiba saja kau jadikan hobi utamamu itu sekadar selingan sebagai upayamu untuk menghilangkan seseorang itu dari pikiran.

Kau pasti pernah jatuh cinta, Tuan; pada seseorang yang sama sekali bukan tipemu. Pada seseorang yang tidak pernah kau sangka-sangka akan jatuh ke padanya. Pada seseorang yang belakangan selalu kau tunggu pesan-pesannya. Pada seseorang yang tanpa kau sadari membuatmu uring-uringan saat dia hilang. Pada seseorang yang membuat semua hal menjadi begitu istimewa dan melekat dalam ingatan, bahkan untuk hal-hal sepele yang kalian lakukan bersama.

Kau pernah jatuh cinta, kan? Kau pernah tanpa sengaja menemukan namanya lalu hatimu berdegup demikian cepat? Sama cepatnya seperti kau menemukan sosoknya secara nyata. Pernah merasakan seseorang itu mendiami hati dan pikiranmu setiap hari? Yang membuatmu ingin selalu melihatnya. Yang membuatmu ingin selalu terlihat sempurna di depannya. Pernah?

Atau mungkin kau pernah jatuh cinta seperti ini; ketika bersamanya kau selalu berharap takdir akan memberikan waktu lebih lama agar bisa bersama, sekadar untuk memandanginya lebih lama dari yang biasanya. Kau yang mungkin jarang berdoa, kini menjadi pendoa paling giat.

Kau pernah jatuh cinta, kan? via Unsplash

Kau pernah jatuh cinta, kan? Jatuh yang benar-benar terjatuh. Yang ketika tanpa kau sadari, hatimu diam-diam mengamini semua doa keselamatan untuknya. Yang selalu kau rindukan ketika kau tak menemukannya di manapun. Yang tanpa sengaja membuatmu tersenyum hanya dengan mengingatnya atau bahkan secara tanpa sengaja menemukan namanya.
Kau pasti pernah jatuh cinta, Tuan. Pada dia yang ketika bersamanya, kau merasa tak butuh apa-apa lagi, yang dengannya kau merasa cukup. Yang ketika bersamanya, kau bisa meyakini bahwa bahagia itu sejatinya memang sederhana. Sesederhana menatap wajahnya. Sesederhana mendengar suaranya. Kau tentu saja pernah bahagia hanya dengan hal-hal kecil begitu, kan?

Aku yakin kau pernah jatuh cinta. Perasaan yang semakin hari semakin bertambah kadarnya. Namun sayangnya, di sisi yang lain… kau tahu bahwa dia tak menyimpan rasa yang sama. Kau tahu bahwa dia menyimpan orang lain dalam debar dan doa-doanya. Pernah? Sakit? Lalu kau mulai merasa ada yang salah pada dirimu. Kau, terkadang, bahkan merasa perlu memaksakan kehendak agar bisa bersama.

Kau pun pasti pernah dicintai oleh orang lain sebagaimana kau mencintai wanita itu. Yang darinya kau tahu bahwa sejatinya tak ada yang salah pada dirimu. Kau istimewa, dia pun sama. namun kau tak bisa memaksakan hatimu untuk membalas degup yang seirama, seperti pada wanita itu.

Dan itu keniscayaan, kautahu. Mereka bilang, kita akan dipertemukan pada tiga orang istimewa di hidup kita. Yang pertama, orang yang kita cintai—tapi mencintai orang lain pada saat yang sama. Dan yang kedua, orang yang mencintai kita— di saat kita menyimpan degup untuk orang lain.

Tidak ada yang salah dalam dirimu, Tuan. Percayalah. Sederhana, bukan, bagaimana tunas-tunas perasaan itu bisa tumbuh di hatimu tapi tidak bagi wanita beruntung itu. Dan bagaimana perasaanmu tak pernah bisa ada untuk si gadis malang yang mencintaimu, diam-diam juga, seperti kau mencintai wanita itu.

Karena semesta selalu tahu cara mempermainkan takdir kita masing-masing, Tuan. Dan sepertinya, sebagai permintaan maaf setelah puas bermain-main dengan hati masing-masing, semesta juga akan selalu berkonspirasi untuk membantumu menemukan orang yang tepat, nantinya.

Selamat jatuh cinta, Tuan. Semoga nanti, atau mungkin sebentar lagi, kau akan temukan satu jenis orang yang belum kusebutkan di atas. Kau akan menjatuhkan hatimu pada orang yang tanpa kau minta sudah menangkapnya lebih dulu, sembari berharap kau akan menangkap hatinya yang jatuh tiba-tiba juga, persis sepertimu.

Jenis orang ketiga, yang saat kau mencintainya, secara ajaib dia juga memiliki perasaan yang sama. Itu yang dinamakan ‘the one’, Tuan. Pertahankan orang ini, ya. Sebab Ibukku pernah bilang, kesetiaan hanya butuhkan kesediaan.

Selamat jatuh cinta, Tuan. Dan saat kau jatuh cinta nanti, jatuhlah tanpa perlu merasa takut.

Tertanda,
aku yang takut ketinggian, bahkan terlalu takut untuk sekadar terjatuh dan merasa kesakitan—meski, kusadari atau tidak, tetap saja perasaan ini tak tahu diri, seolah sengaja untuk (selalu) jatuh pada manusia jenis pertama. (Ulya Uhirayra)

Facebook Comments

Post Author: Tommi Pringadi

Seorang jomblo profesional yang bercita-cita bikin sunatan massal. I am not player, i am the game. :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.