Home > berita > Program City Branding, Majalengka Gandeng New York

Program City Branding, Majalengka Gandeng New York

Majalengka Gandeng New York? via pixabay

Program City Branding, Majalengka Gandeng New York

besoksenin.co – Mengapa New York harus disandingkan dengan Majalengka? Barangkali, karena ke dua kota ini memiliki motif yang nyaris sama, dalam penerapan konsep City Branding. Pada akhir 1970-an New York terancam, terjadi penurunan pengunjung super-drastis ke kota ini, terutama dari kalangan pebisnis. Terjadi banyak sekali pusat kantor perusahaan yang pindah ke Connecticut, karena pajak yang lebih murah, padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Kota berjuluk The Big Apple ini benar-benar diambang batas, ketika beberapa waktu kemudian terjadi krisis ekonomi global. Sampai-sampai, Walikota saat itu, Abraham Beame meminta bantuan pada pemerintah pusat Amerika, untuk membantu krisis keuangan yang dialami kota yang dipimpinnya ini. Namun, tercatat di New York Daily News edisi 30 Oktober 1975; Gerald Ford, Presiden AS ketika itu, menolak untuk menyelamatkan New York. Artinya, The Big Apple kala itu benar-benar berjuang sendirian, sementara masalah mereka sudah begitu kompleks; mulai dari kehilangan lapangan pekerjaan yang sudah berjalan bertahun-tahun, penghasilan pajak menurun, hingga peningkatan jumlah pengangguran. Mengesampingkan berhasil masuk 4 besar Kota Kreatif, dan program worksop City Branding dari Bekraf, masalah yang dihadapi Majalengka pun mirip New York, kota tercinta dinilai kalah saing dengan kota-kota tetangga, padahal Bandar Udara berada di sini. Sehingga orang yang datang dianggap hanya singgah di Kertajati, seoalah tak punya daya tarik, dan karena sama sekali tak menerapkan City Branding. Perbedaan paling kentara, hanyalah; New York pernah berada di puncak, lalu terperosok, sementara kita hanya hendak mendaki dari titik nol.

Apa yang menyelamatkan New York dari kehancuran? Apa yang membuat saat ini kita mengenal New York sebagai kiblat fashion, hiburan, dan bisnis dunia? Jawabannya adalah karena mereka berhasil menerapkan konsep City Branding! Jejak-jejak City Branding yang pernah mereka lakukan masih dapat kita lihat hari ini, ketika kita masih melihat kaos putih dengan logo I love NYC (love menggunakan simbol hati), kita masih mengadaptasi itu dengan mengganti tiga karakter huruf terakhir dengan kota masing-masing, seperti; bdg (Bandung), atau jkt (Jakarta). Selain punya pengaruh yang sangat besar, City branding pun nyatanya bisa bertahan begitu lama.

baca juga: http://besoksenin.co/begini-awal-mula-majalengka-masuk-4-besar-kota-kreatif-indonesia/

Oh ya, bagi sobat yang belum tahu, City branding kurang lebih adalah perangkat yang dipinjam dari praktik pemasaran, oleh  para perancang kota beserta semua pemangku kepentingan. Sebagaimana prodok atau jasa. Kota juga membutuhkan citra yang kuat dan khas, untuk mengatasi persaingan regional, nasional, dan global.

Sabtu 20 juli nanti, akan diadakan Workshop City Branding bersama bekraf. Meskipun hal-hal berbau City Branding ini bukan pertama kali masyarakat Majalengka lakukan, kali ini nampaknya lebih serius, karena Bekraf juga sudah bergabung. Namun untuk penerapan konsep ini, dibutuhkan banyak sekali pengorbanan, juga kekompakan dari seluruh elemen kota. Sepertinya kita memang butuh untuk menggandeng New York, mengingat kota itu adalah kota yang paling berhasil untuk urusan City Branding. Tak perlu “gandengan” secara resmi, cukup hanya belajar dari pengalaman dan mempelajari apa saja yang dilakukan New York.

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history

Check Also

Tanggapan untuk Penulis “Alasan Mahasiswa UNMA Kurang Kritis” yang Sok Tahu

Mahasiswa via Tribatapolresmajalengka besoksenin.co – Ketika poster artikel “Alasan Mahasiswa UNMA Kurang Kritis” di posting …