Home > rubrik > besokeling > Pulanglah ke Majalengka, Ibu Merindukanmu
Foto Rumah Keluarga

Pulanglah ke Majalengka, Ibu Merindukanmu

Foto Rumah Keluarga
Foto Rumah Keluarga

Nak, Ibu menulis ini di meja belajarmu, tengah malam dan dengan keadaan menahan air mata. Sebelumnya, Ibu menyelinap masuk ke kamarmu, pelan-pelan menyalakan lampu dan melihat ruangan ini, kamarmu yang kosong. Aku tertegun, sejenak merenung, rasanya aku masih bisa merasakan kehadiranmu di sini, kemudian Ibu menengok meja belajar lalu menghampiri buku-buku yang tersimpan rapi, yang paling atas adalah buku semasa SMA.
Apakah kau ingat? saat aku mencoba memasangkan sampul pada bukumu, namun kala itu dengan tegas kamu menolaknya. Ibu juga berhasil menemukan bukumu semasa SMP, dan SD yang aku pasangkan sampul berwarna cokelat, lalu membungkusnya dengan plastik. Saat SD dan SMP kamu belum kuasa menolaknya. Maafkan Ibu, saat kamu SMA aku masih menganggapmu anak kecil, bahkan sampai saat ini aku masih menganggapmu anak kecil. Rasanya waktu sangat cepat, terlalu cepat berlalu.

Nak, Ibu menulis ini sambil menengok tempat tidurmu, ada beberapa hal yang mungkin sampai saat ini kamu belum tahu. Dahulu Ibu juga sering menyelinap ke sini jika aku merindukanmu, aku selalu bisa menemukanmu tergeletak di sana, kemudian diam-diam menciumimu, dan membetulkan selimutmu yang sudah tidak sesuai pada tempatnya. Hari ini kamu sudah tumbuh besar.

Satu tetes air berhasil melarikan diri dari mataku, menyisakan satu titik basah pada kertas yang kugunakan ini, ketika aku teringat dahulu menjelang tidur Ibu selalu bisa disampingmu, membacakan cerita, bahkan terkadang dengan manja kamu meminta Ibu untuk mengusap-usap kepalamu. Sungguh Nak, Ibu tidak keberatan, Ibu masih ingin melakukannya lagi untukmu. Tetes air mata berhasil lagi kabur ketika aku mengingatnya lebih jauh lagi, ketika aku pertama kali melihatmu setelah susah payah melahirkanmu. Aku ingin melihatmu yang waktu digendong Ayahmu, ingin terus melihatmu, meskipun saat itu aku kepayahan, walaupun akhirnya Ibu dikalahkan lelah.

Tahukah kamu? Saat Ibu bangun, aku menanyakan keberadaanmu, dan dengan sigap Ayahmu langsung membawakan kamu. Dari awal rindu Ibu sudah milikmu, selalu milikmu.
Saat kamu beranjak balita dan mulai mempunyai kamar sendiri, rindu Ibu masih milikmu. Nyaris setiap tengah malam Ibu memeriksamu, memastikan nyenyak tidurmu. Kebiasaan itu berlanjut saat kamu mulai sekolah dan tiba-tiba saja kamu sudah SMA, hari ini kamu kuliah di kota lain, dan Ibu hanya bisa melihat kamarmu yang kosong beserta kenangan membesarkanmu.

Ibu tidak mengerti apakah Ibu harus bahagia atau justru sedih, tapi aku selalu merindukanmu. Hari ini aku mencoba menghubungimu dengan pesan singkat, namun nampaknya kamu sedang sibuk sehingga tidak bisa membalas pesanku.

Ada hal yang Ibu sedang pikirkan, Nak. Apakah kamu di sana juga merindukanku? Itu saja. Jangan khawatir, aku tidak pernah memaksamu, bahkan surat ini tidak akan pernah aku kirimkan kepadamu.

Apa kamu di sana juga merindukanku?
Dari Ibu, yang selalu memiliki rindu untukmu. (Tommi)

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history

Check Also

Hari Biasa untuk Mereka yang Istimewa

besoksenin.co – Jika kau tanya, adakah yang istimewa hari ini? Biarkan aku menjawab: T I …

Tinggalkan Balasan