Home > rubrik > besokeling > Pusing jadi Pemerintah, Tetap belajar dari Rumah atau Belajar di Sekolah
Anak SMPN 1 Majalengka menerima pengarahan via @smpn1majalengka
Anak SMPN 1 Majalengka menerima pengarahan via @smpn1majalengka

Pusing jadi Pemerintah, Tetap belajar dari Rumah atau Belajar di Sekolah

besoksenin.co – Membaca kolom komentar netizen di Instagram besoksenin.co yang menyangkut pembukaan sekolah lumayan bikin pusing.

Anak SMPN 1 Majalengka menerima pengarahan via @smpn1majalengka
Anak SMPN 1 Majalengka menerima pengarahan via @smpn1majalengka

Intinya begini, netizen terbagi dua. Ada yang setuju sekolah dibuka dan ada yang enggak.

Netizen yang setuju punya argumen bahwa pembelajaran daring kurang efektif. Karena ada saja anak yang disuruh buka google classroom, malah buka mobile lejen, disuruh kerjain tugas malah ngerjain emaknya, karena anak gak mau ngerjain tugas jadi emaknya yang ngerjain. Sampai ada istilah “anak daring, mamah darting“.

Selain itu, di beberapa desa ada anak yang kesulitan mengikuti pelajaran daring karena terkendala sinyal. Jangankan dapat sinyal 4G, dapat EDGE atau GPRS aja syukur.

Belum lagi melihat tempat wisata dan hajatan yang sudah diperbolehkan, lha ini sekolah yang menyangkut masa depan bangsa kok masih gaboleh?

Kubu netizen yang enggak setuju, argumennya gak kalah kuat. Melihat data pasien covid-19 yang terus meningkat (saat ini 53 orang), Majalengka belum bisa dikatakan aman. Kalau sekolah dibuka, takutnya malah ada klaster baru, apalagi dengan sifat anak yang kadang susah diatur. Disuruh jaga jarak, eh malah sengaja colek temannya.

Untuk mencegah hal tersebut, kubu ini lebih menyarankan agar tetap menyelenggarakan kegiatan belajar secara daring. Karena kalau dilakukan pembelajaran tatap muka/luring, nanti muncul istilah, “anak luring mamah merinding“.

Tapi, sepusing-pusingnya kita yang baca atau netizen yang berkomentar, adalagi yang lebih pusing? Siapa? Pemerintah.

Kenapa?

Karena Pemerintah bukan hanya komentar, tapi membuat kebijakan yang harus diikuti oleh warganya. Terus, kalau ada yang gak setuju pasti dikomentarin.

Yang sabar ya, Pak, Bu. Resiko pekerjaan.

Per Hari Senin, 24 Agustus 2020 Pemerintah Kabupaten Majalengka mengeluarkan surat edaran nomor 423/3017/Disdik Tentang pembelajaran tatap muka di SD dan SMP. Isinya tentang hal apa saja yang harus diikuti oleh sekolah agar bisa melakukan pembelajaran tatap muka. Diantaranya sekolah yang dibuka, harus berada di zona hijau dan kuning.

Kebijakan melakukan pembelajaran tatap muka ini tentunya atas persetujuan Bupati berdasarkan aspirasi dari pelbagai guru.

Salah satunya guru SMPN 2 Majalengka, Fini Qurniawati. Dia mengatakan bahwa pembelajaran secara tatap muka lebih efektif ketimbang daring. Contohnya ketika diberi tugas.

“Jika pembelajaran daring lalu anak diberi tugas, ketika ada yang tidak mengerjakan guru hanya bisa mengingatkan via teks. Dengan pelbagai alasan anak bisa mengelak. Namun ketika pembelajaran tatap muka dilakukan ada anak yang tidak mengerjakan tugas, guru bisa menggertaknya secara langsung. sehingga mereka ada perasaan takut/tidak enak jika tidak mengerjakan.” Ujarnya kepada tim besoksenin.co ketika dihubungi via whatsapp.

Selain itu, dalam penyampaian materi juga jauh berbeda.

“Kalau daring, kita paling memberi materi dan tugas. Sedangkan jika luring, kita bisa menjelaskan secara detail. Selain itu ada interaksi yang terjadi, bisa tanya jawab secara langsung.” Ujarnya menambahkan.

Namun, baru satu hari penerapan belajar tatap muka, muncul sebuah statement dari Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) yang mengatakan bahwa dia baru tahu diadakan pembelajaran secara tatap muka, sebagaimana dikutip dari kumparan,

“Saya malah baru tahu sekarang (ada pembelajaran tatap muka), harusnya jangan dulu lah. Terus itu yang ada di zona merah tetap Daring, kenapa ga semua Daring saja,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Majalengka, Alimudin, Selasa (25/8/2020).

Lho heh lho heh

Apakah ketika diambil kebijakan pembelajaran secara daring, pihak Dinkes tidak dilibatkan sehingga tidak tahu ada pembelajaran tatap muka?

Etapi, dalam surat edaran di atas, ada tembusan untuk berbagai instansi terkait tidak terkecuali Dinkes. Apakah mungkin suratnya tidak sampai? Saya tidak tahu, mungkin netizen lebih tahu.

Balik lagi ke Dinkes yang menyarankan agar sekolah tetap daring. Alasannya karena keadaan Majalengka belum stabil, pasien covid-19 terus meningkat, salah satunya adalah anak usia sekolah yang ada di Leuwimunding.

Alimudin melanjutkan akan berkordinasi dengan Bupati, Karna Sobahi untuk meninjau pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar Tatap Muka.

Baik Dinas Kesehatan maupun Dinas Pendidikan menurut saya memiliki argumen yang sama-sama kuat. Keduanya bertujuan baik dan melihat berdasarkan bidangnya masing-masing. Dinas Pendidikan fokus pendidikan anak dan mendengarkan guru, Dinas Kesehatan fokus kepada kesehatan dan mendengarkan tenaga kesehatan.

Berbeda dengan netizen yang bisa saling balas komentar dengan netizen lain jika berbeda sudut pandang, Pemerintah mana bisa. Ketika sudah ketuk palu, tidak ada lagi kebijakan Disdik atau Dinkes, yang ada hanya kebijakan Pemerintah.

Sekali lagi, pusing ya jadi Pemerintah.

Facebook Comments

About Riza D. Januar

Cowok yang berwajah susah | Susah dilupain