Putih Abu Story: Saat Aku Harus Berpisah Denganmu dan Melupakan Tentang Kita, Aku Tak Bisa!

    Akhir putih abu kita via @ardelia61

besoksenin.co – Hello, sobat putih abu bsco! Jumpa lagi di rubrik #besoksekolah. Gimana kabar sobat semua? Khusus untukmu yang tengah di penghujung putih abu, bagaimana suasana perpisahan di SMA kalian? Bisakah kalian merelakan dia pergi meraih cita dan cintanya? Atau justru kalian tak bisa mengikhlaskannya dengan yang lain? Layaknya aku yang tak pernah bisa melupakanmu.

“Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan”.

Pepatah kuno yang memang selalu terngiang di saat perpisahan itu sudah di depan mata. Banyak orang menganggap jika perpisahan itu adalah akhir dari segalanya, tapi tidak denganku. Bagiku, perpisahan justru awal dari segalanya. Awal dari aku belajar hidup tanpamu, awal aku merelakanmu pergi meraih mimpimu, awal aku mengenangmu dan mengenang kisah kita yang terpatri di setiap sudut kota, awal aku menaruh hatiku dan mempercayakannya padamu, awal aku menantimu untuk kembali, awal aku merindukanmu, dan juga awal aku bisa melihatmu menggapai puncak tertinggimu.

Jika orang berkata bahwa setelah berpisah itu harus melupakan, maka biarkan aku untuk selalu mengenang. Aku tak mampu jika harus melupakan semua kenangan tentang masa putih abu kita. Cerita kita terlalu indah untuk dilupakan, bahkan aku yakin semua orang akan berkata jika masa putih abu adalah masa terindah dalam fase kehidupan. Ya, putih abu memang indah. Lebih indah lagi karena ada kamu di dalamnya yang sempat melukis pelangi di detik-detik terakhir alur cerita putih abuku. Ya, engkau tak lain adalah pelangi di senja putih abuku.

Saat aku dan kamu harus berpisah via @nena.silvia

Saat perpisahan itu tiba, waktu memaksa aku dan kamu untuk melepaskan genggaman kita. Terpisah kota karena kampus kita berbeda, bahkan jarak pun tak lagi mau memihak, memisahkan kita puluhan kilometer. Pertemuan yang dulunya hampir setiap hari bahkan setiap detik bertemu, kini hanya dapat bertemu saat libur tiba. Kamu sempat menyerah, menyuruhku untuk melupakan tentang kita. Namun, dengan lantangnya aku nyatakan “AKU TAK BISA!”. Semakin aku melupakanmu, justru aku semakin mengingatmu. Biarkan aku menggenggam bayangmu dan semua kenangan kita. Biarkan aku hidup dalam sederetan kenangan yang tlah tersusun rapi dalam memori otakku. Aku tanpamu, butiran debu tak berharga. Separuh jiwaku ada di jiwamu, maka saat aku berpisah denganmu dan mencoba melupakan tentang kita, aku tak bisa!.
(Fitri Kinasih Husnul Khotimah)

Facebook Comments

Post Author: Fitri Kinasih Husnul Khotimah

Aku adalah sepenggal diksi yang siap kau jadikan puisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.