Home > rubrik > besokeling > Renovasi Pola Pikir : Prototipe Pembangunan Majalengka yang Seharusnya
Open mind via pexels
Open mind via pexels

Renovasi Pola Pikir : Prototipe Pembangunan Majalengka yang Seharusnya

besoksenin.co – Kegelisahan saya tentang Majalengka berawal dari semenjak SMP, dimana wacana pembangunan Bandara Internasional terbesar setelah Soetta akan dibangun antara di Karawang dan Majalengka. Saat itu saya hanya bertanya, apa mungkin di Majalengka? Karena yang saya tahu Majalengka ini tidak populer, kuper, dan perantau ulung. Dan itu mendarah daging ke pola pikir anak SMP lainnya yang sudah berniat akan melanjutkan pendidikan ke luar kota dan berkarir di luar Majalengka. Hampir semuanya seolah-olah Majalengka tidak seksi untuk dinikmati bahkan dilirik.

Lalu, munculah Jalan Tol Cipali yang fenomenal di Indonesia. Sialnya, itu melintasi Majalengka. Sial karena Majalengka dipaksa hudang (bangun) padahal ia sedang berleha-leha menikmati ketidakpercayaan dirinya.

Open mind via pexels
Open mind via pexels

Lebih apes lagi, Bandara Internasional sudah ditetapkan akan dibangun di Utara Majalengka tepatnya di Kertajati karena Karawang sebagai lumbung padi terbesar akan fokus membangun pelabuhannya.

Bagi orang Majalengka, fenomena ini menjengkelkan. Bayangkan saja kita sedang tertidur pulas, nyenyak, apalagi sambil bermimpi indah. Lalu sekonyong-konyong ada yang membangunkan,

“Woy bangun! Ini ada Tol dan Bandara Internasional di wilayah Majalengka. Bonusnya adalah pabrik-pabrik asing yang makan, tidur, berkembangbiak, dan membuang kotoran d wilayah Majalengka”

kesal sekali, yang kurang afdol jika tidak diumpatkan.

Lalu pertanyaannya ? Apakah Majalengka hudang semuanya?

Belum. Sebagian besar masih terbuai dengan impian palsunya dan lanjut tidur kembali. Tapi ada yang sudah dalam mode lulungu (setengah sadar) mereka diambang kebimbangan yg mereka sendiri tidak tahu apa yang harus dibimbangkan.

“Saya harus bagaimana?” Mereka terus bertanya tanya layaknya Nabi Ibrahim as. Mencari Tuhan yang sejati.

baca juga : Jokowi atau Prabowo Presiden Kita, Majalengka Gini-gini Aja!

Itulah kiranya yang saya dapatkan dan rasakan 10 tahun kebelakang. Saya perkecil sekup tulisan ini ke arah pendidikan. Saya tidak pernah menduga pendidikan SMK begitu diminati (termasuk saya masuk SMK Jurusan Pariwisata). Seolah-olah itu adalah solusi paling cepat tanpa tahu jitu atau tidak.

“Masuklah SMK..dijamin cepat mendapatkan Kerja”

Orang tua Majalengka mana yg klepek-klepek di gombali seperti itu?

Ya, dulu memang lulusannya begitu diandalkan industri. Tapi dulu beda dengan sekarang. Lulusan SMK terlalu membludak. Tidak hanya di Majalengka saya lihat. Setiap ada event job fair, map coklat pelamar kerja selalu lebih banyak dari brosur lowongan kerja itu sendiri. Sampai terkadang penjaga stand job fair berkali-kali memungut map coklat pelamar kerja yg terjatuh saking banyaknya lamaran yang masuk. Artinya adalah indeks kebutuhan industri terhadap tenaga kerja tidak sebanding dengan jumlah lulusan angkatan kerja. Overload.

Sayangnya solusi yang dihadirkan bukan lebih menitikberatkan bagaimana si pencari kerja ini punya ruang untuk memperbaiki pola pikirnya dan menemukan identitasnya. Tapi justru malah menambah jumlah industri besar yang bisa menyelematkan data ketidakseimbangan tadi. Anggaplah terdapat 300.000 org pengangguran d Majalengka. Dihadirkanlah Industri non kreatif (manusia yang dirobotisasi) yang mampu menjaring 10ribunya, artinya harus tersedia 30 industri besar di kawasan itu.

Apakah masalah tuntas? Ya, pengangguran berkurang. Dan kita terlena berkepanjangan atas pencapaian itu.

Sebenarnya kita malah memperburuk keadaan hingga tak terasa ruang-ruang industri menghilangkan tanah produktif pangan dan tempat tinggal kita. Bibit bibit penyesalan mulai hadir ditengah-tengah kita. Belum lagi yang paling pedih adalah sebenarnya 300.000 orang tadi punya impian. Tapi karena peluang robotisasi tadi, terpaksa ia bunuh impiannya sendiri. Seharusnya mereka kini menjadi atlet olahraga berprestasi, menjadi seniman yang menginspirasi, menjadi penulis hebat, menjadi sutradara yang mendunia, menjadi pengusaha berkarakter, dan masih banyak lagi kemungkinan yang ada.

Mimpi yang tak dapat diwujudkan via pexels.com
Mimpi yang tak dapat diwujudkan via pexels.com

Saya harap Majalengka akan baik-baik saja karena ada pihak berwenang yang mengurusnya. Tapi, sekarang Majalengka masih seperti putri tidur yang terlena oleh nenek sihir pemberi apel. Menantikan sosok pangeran yang menciumnya tulus. Yang kehadirannya mampu memurnikan hati dan pikirannya sang putri dari kendali sihir.

Ini baru di pendidikan dan tenaga kerja, belum bidang lainnya yang mulai merengek rengek minta kita manjakan.

Tapi, ada satu harapan yang bisa kita upayakan dari sekarang.

Membangun Infrastruktur fisik? setuju, setuju sekali. Tapi seharusnya kita lebih memaksimalkan infrastruktur pola pikir secara berjamaah dan masif. Ada visi ada misi. Ada Aqidah ada Akhlak. Ada Akar ada buah. Lalu pertanyaan seharusnya adalah bagaimana saat ini kita membangun sesuatu yang tak terlihat secara konstruktif dan menyeluruh, lalu bangun sesuatu yang terlihat. Bahkan lebih bagus beriringan bersama. Jika memang pola pikir kita mampu utk menjangkaunya.

Saya teringat ketika membaca buku sejarah pada masa di mana Amerika membom Nagasaki-Hiroshima. Untuk membangun kembali kehancuran yang di sebabkan oleh Amerika, Jepang mengumpulkan guru, akademis, buku, dan orang-orang yang kaya akan intelektual guna mencerdaskan generasi berikutnya nya sebagai peletakan batu pertama dalam pembangunan ulang negeri nya. Seandainya Jepang lebih memprioritaskan infrastruktur yang hancur karena bom atom ketimbang membangun masyarakat, Mungkin Jepang tidak seperti sekarang ini. Sepakat?

Seandainya Jepang lebih memprioritaskan infrastruktur yang hancur karena bom atom ketimbang membangun masyarakat, Mungkin Jepang tidak seperti sekarang ini. Sepakat?

Teringat Singapura, negara adidaya di Asia tenggara yang wilayahmya tidak lebih luas dari Jakarta. Visi seorang Chinese dari Lee Kuan Yew mampu mengakselerasi Peradaban Singapura dengan pendekatan bahasa Inggris yang notabene dianggap “musuh” bangsa timur. Tapi lihat, Singapura menjadi kiblat Asia tenggara. Padahal seharusnya berkaca dari apa yang Allah titipkan ke Indonesia. Indonesia seharusnya bisa lebih dari Singapura.

Lalu bagaimana dengan Majalengka?

Saya tanya balik, bagaimana dengan anda? Anda tahu bagaimana majunya Jepang, Amerika, Singapura. Tapi siapkah anda merubah pola pikir seperti yang mereka lakukan?

Saya merasa harus memberitahukan apa yang sekarang dunia kerjakan kepada Majalengka. Disaat bangsa lain sedang berusaha membuat lift menuju bulan, mengganti karyawan dengan robot, mengganti guru, buku. dan dosen dengan teknologi gadget. Kita, Majalengka dan Indonesia sedang diberikan tantangan untuk menyepakati bersama identitas kita. Akan menjadi apa kita dihadapan dunia yang sedang berlari saat ini. Sebelum semuanya terlambat, sebelum kita kembali merasakan era kolonial modern. Jawabannya dimulai dari paragraf terakhir saya.

Saya mengajak anda semua untuk merenovasi pola pikir, meningkatkan keimanan terhadap Tuhan, lebih membuka komunikasi dengan pohon, air ,burung, oksigen dan tetangga kita, membuka lebih luas wawasan, menurunkan ego dan kebanggaan komunal, serta menyebarkan spirit kolaborasi.

Semua saya simpulkan menjadi satu frase, yang dengannya menjadi spirit bersama untuk berjalan menuju masa depan. Melangkah bersama-sama dan teriakan

Majalengka Hudang!

 

Tulisan ini merupakan kiriman dari Imam Abdul Muntaqim (@Imam Abdul Muntaqim). Seorang guru Bahasa Inggris yang hobinya memulung sampah.

Pengen tulisan kamu dimuat juga? kirim ke email redaksi@besoksenin.co, ya.

Editor : Riza D. Januar

Facebook Comments

About Riza D. Januar

Cowok yang berwajah susah | Susah dilupain

Check Also

Ngobrol  Segitiga Rebana Bareng Kepala Bappelitbangda Majalengka

besoksenin.co – Sebelum pergi, saya menyeduh kopi dulu. Kopi yang diaduk menggunakan bungkusnya ini saya …