Rindu pada Ibulah yang Membuatku Ingin Pulang ke Majalengka Segera

Bu, rinduku kepadamu yang membuatku ingin segera pulang ke Majalengka via Pixabay

besoksenin.co – Yang membuatku iri pada teman-teman yang tinggal di Majalengka, bukanlah karena pencapaian yang mereka raih, atau segala bentuk keberhasilan dunia lainnya. Melainkan, karena mereka masih mampu mencium tangan ibu mereka, sebelum melakukan aktivitas. Hal paling indah di dalam setiap pagi yang kita miliki, yang mustahil aku lakukan di sini.

Bersyukurlah kalian yang masih tinggal bersama ibu di Majalengka, sebab masih bisa mencium tangan ibu. Sungguh, aku ingin mendapatkan kesempatan itu. Meski, kadang-kadang, aku harus dibuat sibuk dengan tuntutan kerja dan tugas kuliah yang tidak ada habisnya. Bahkan, kadang, pesan singkat yang ibu kirimkan hanya bisa kubaca tanpa sempat membalasnya.

Teman-teman yang berada di perantauan, apakah ibu kalian juga sama seperti ibuku? Ia yang memasak makanan favoritku, ketika tahu aku akan segera pulang. Pernah suatu waktu, aku harus menunda kepulangan tanpa sempat memberi tahu ibu; maka aku dapat menemukan sayur asam buatannya yang sudah membasi. Aku bisa membayangkan, kalau ibu terus menungguku sepanjang waktu, bahkan ia tetap menjaga makanan favoritku itu agar tetap utuh. Namun, aku melalaikannya begitu saja.

Jujur, sampai saat ini aku tidak tahu makanan favorit ibu, ia selalu menerima apa saja yang dibawa sebagai oleh-oleh dengan senang hati, tanpa pernah meminta apa-apa.

Aku bahkan tidak ingat topik terakhir yang aku dan ibu bicarakan, atau kapan terakhir kali kami tertawa bersama. Aku lupa kapan terakhir kami makan bersama, tidak ingat kapan terakhir kali aku mengatakan aku mencintainya.

Di sini, aku selalu menganggap keberhasilan yang aku terima adalah semata-mata berkat do’annya. Orang-orang mengatakan kalau aku ini beruntung, padahal sebenarnya tidak, aku hanya memiliki seorang ibu yang terus-menerus mendo’akan kebaikanku. Belum lagi, jika aku harus mengingat kalau ibu-lah yang mengandungku sembilan bulan, mengajari berjalan, mengajari segalanya untuk bisa hidup. Dialah orang yang mencium pipi dan memasangkan dasi ketika aku di sekolah dasar. Di SMP dan SMA pun, ia yang membangunkanku dengan lembut, membuatkan sarapan, dan membantuku ketika menghadapi kesulitan.

Izinkan aku menyaksikan rambutmu yang memutih via Pixabay

Bu, sesungguhnya aku ingin terus berada di sampingmu. Sekarang giliran aku yang merawatmu. Aku ingin menyaksikan menyebarnya keriput di wajahmu, memutihnya rambutmu. Alih-alih seperti itu, aku malah terus sibuk dengan pekerjaan dan tugas-tugas kuliah.

Bagaimana kalau ibu pergi, sebelum aku bahagiakan?

Maka aku ingin pulang ke Majalengka, segera!

Biar kubawakan untukmu seluruh makanan paling enak di sini, kita akan jalan-jalan, bu. Tertawa-tawa bersama, dan ingin kukatakan kalau aku begitu menyayangimu, begitu ingin membahagiakanmu. Memeluk, dan mencium kakimu. (Tommi Pringadi)

Facebook Comments

Post Author: Tommi Pringadi

Seorang jomblo profesional yang bercita-cita bikin sunatan massal. I am not player, i am the game. :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.