Salam Rindu dari Kepulauan Seribu

img_20160515_085326

Dokumen pribadi penulis

Hai, Majalengka!

Bagaimana kabarmu disana? Ku harap kau baik-baik disana menungguku sampai aku pulang ya. Aku ingin bercerita tentangku yang sempat menginjakkan kakiku di pulau orang minggu ini. Kamu mau kan mendengarkan aku bercerita?

Majalengka,

Saat ragaku jauh dari dekap alammu, aku rindu dekapan itu. Padahal alam Pulau Pari begitu indah dan membuat hatiku tak henti-hentinya berdecak kagum. Sabtu kemarin aku sempat singgah dan membiarkan tubuhku ada dalam dekapan indahnya pantai pasir perawan yang begitu putih dan halus seperti namanya. Pantai perawan sungguh masih perawan, belum tersentuh tangan-tangan jahil khalifah biadab yang tak bertanggung jawab. Keperawanan pasirnya masih terjaga dan selalu dijaga para petugas kebersihan pantai yang senantiasa menyapukan noda-noda dari pasirnya. Aku terbuai sepoi angin yang diam-diam menyapa tubuhku lewat keheningan. Aku terhipnotis debur ombak yang datang silih berganti menyapa tubuhku yang berdiri tegak di bibir pantai pasir perawan. Gradasi biru air laut yang berbaur dengan birunya langit Pari begitu memanjakkan mataku. Biota laut yang ku temui di dasar laut Kepulauan Seribu pun membuatku terus menerus mengucap syukur atas nikmatNya yang begitu agung.

 

“Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?”

 

Majalengka, masih mau mendengarkan aku kan?

Satu hal yang harus kamu tahu Majalengka,

Ditengah-tengah aku menjelajahi perkampungan di Pulau Pari, aku berhenti di sebuah kios kecil yang ada di pinggir perkampungan itu. Satu hal yang mengejutkan, ternyata pemilik kios itu tak lain adalah seorang perantau dari tanah kita, Majalengka. Aku memanggilnya Teh Siti. Ia adalah warga Ciparay, Leuwimunding. Bahasa percakapan aku dengannya pun sejenak berubah menjadi bahasa Sunda layaknya bahasa sehari-hari orang Majalengka. Topik bahasan kita pun tak jauh dari bercerita tentangmu, Majalengka. Sekalipun Teh Siti tlah tinggal selama tiga tahun di pulau nan indah itu, Ia senantiasa merindukanmu “Majalengka”. Bahkan ia sempat bercerita padaku dengan ekspresi bahagianya, pekan depan ia akan pulang ke kotamu dan mengobati rindunya dengan sebuah pertemuan yang begitukan ia nantikan. Dari Kepulauan Seribu, Ia merindukanmu.

Majalengka,

Sejauh apapun orang Majalengka pergi ia takkan pernah lupa tentang dirimu. Bahkan di tanah rantau pun, ia senantiasa hidup dengan rindu yang memadati ruang nostalgianya tentangmu. Begitu pula denganku, sekalipun aku terbuai dengan segala keindahan di Pulau Seribu sebagai tempat persinggahanku sejenak, alammu tetap segalanya. Aku senantiasa merindukanmu dan menantikan sebuah temu yang mempertemukan aku denganmu lagi.

Majalengka,

Jangan pernah bosan mendengarkan aku bercerita ya. Ku akhiri ceritaku kali ini, dan sampai jumpa dalam ceritaku selanjutnya. Aku takkan pernah bosan untuk merindukanmu berkali-kali. See you next time, Majalengka.

 

Salam rindu,

 

(Lembayung Senja)

Facebook Comments

33 tanggapan pada “Salam Rindu dari Kepulauan Seribu

Tinggalkan Balasan