Home > rubrik > besokeling > Saya Ingin Menggampar Mahasiswa!
Sengaja sampingnya diblur, biar bingung kampus mana via Yogi Nantha
Sengaja sampingnya diblur, biar bingung kampus mana via Yogi Nantha

Saya Ingin Menggampar Mahasiswa!

besoksenin.co – Waktu SMP saya pernah digampar. Hampir setiap ada turnamen basket, pelatih selalu menggampar saya dan teman satu tim sebelum pertandingan. Malah, kalau kami tidak bermain maksimal, dia suka memberi bonus ditengah-tengah pertandingan.

Gamparan itu bukan karena rasa benci atau dendam, Melainkan cara pelatih meningkatkan motivasi dan semangat kami setiap kali bertanding. Jika pelatih tidak menggampar, terkadang pemain yang meminta kepada pelatih. Apalagi ketika kondisi tim sedang tertinggal atau kehilangan fokus, secara sukarela kami meminta diingatkan dengan gamparan di pipi kiri.

Sepuluh tahun berlalu. Saat ini, saya tengah menempuh pendididikan di kampus terbesar di Majalengka. Tanpa perlu saya sebutkan, sobat bsco mungkin tahu di kampus mana saya mencari jodoh ilmu.

Sengaja sampingnya diblur, biar bingung kampus mana via Yoginantha Braja

Belum genap satu semester, saya sudah ingin menggampar beberapa mahasiswa di sini. Bukan karena wajahnya yang ngajak ribut atau mereka melakukan adegan romantis dihadapan saya yang masih single ini. Kalau itumah udah biasalah. Diantara mereka, adek-adek yang masih baru lulus dari SMA ini beberapa memilih jadi mahasiswa yang SANTAI.

Baca Juga : Kepada Para Mahasiswa, Inilah 3 Peran Idealmu Untuk Majalengka

Bener, kalian gak salah baca. Saya geregetan dan ingin menggampar mahasiswa yang santainya ngalahin lagu selow.

Karena ku selow.

Sungguh selow.

Sangat selow.

Tetap Selow.

Sungguh selow.

Sangat selow.

Tetap selow.

Terus aja kayak gitu sampai bosen.

Jadi begini, di kampus tercinta ini ada dua kelas. Reguler dan karyawan. Peruntukannya jelas beda, kelas reguler digunakan untuk mereka yang belum bekerja (meskipun ada beberapa yang sudah bekerja ikut kelas ini, tapi jumlahnya gak banyak), sedangkan kelas karyawan diperuntukan untuk orang yang seharusnya sudah bekerja. Begitu idealnya.

Namun, namanya juga masyarakat di negara ber-flower. Ada aja yang nyeleneh, meskipun belum bekerja dan tidak sibuk mencari kerja mereka memilih masuk kelas karyawan. Salah satunya adalah teman saya, sebut saja namanya Bambang. Dia baru lulus SMA tahun lalu, belum bekerja, namun setiap harinya sibuk stalking timeline instagram, ngerokok, ngopi, dan main PUBG.

“Bambang, kunaon milih kelas karyawan?

Meh nyantai, a. Geus capek diajar keur SMA

Capek mah sakalian tong kuliah wae atuh.

Hehe, hoyongna mah, A

“Hayu, ah udah jam 7. Masuk”

“Saya mah gak masuk, a. Udah jam pertama aja, mau ke kosan. Teu keyeng euy

Lalu Bambang pamit, izin gak masuk kelas karena mungkin mau fokus main PUBG. Aduh, Bambang. Jadi pengen tak sentil jaqunnya!

Baca Juga : Imam Abdul Muntaqim, Aktivis Majalengka yang Membuktikan Cinta dengan Aksi Nyata

Disaat orang yang udah kerja pinter-pinter cari waktu buat kuliah, si Bambang ini dengan santainya gak masuk kelas dengan alasan teu keyeng. Kalau sekali dua kali sih wajar, kan emang kita ada jatah bolos dua kali per semester tiap pelajaran. Masih bisa ditoleransi. Tapi dalam pantauan saya, Bambang ini bukan sekali dua kali kayak gitu. Dalam satu hari, ada aja pelajaran yang gak dia masuk.

Kalau diajak ngobrol tentang cewek perkembangan di negara ini, Bambang nyambung dan bisa kasih statement yang menurut saya rasional. Sayang banget kalau masa kuliahnya terus-terusan kayak gitu, banyak teu keyeng alias malas. Bisa-bisa critical thinking-nya terus berkurang karena terbuai dengan zona nyaman.

Bambang hanyalah contoh dari mahasiwa yang terlalu SANTAI. Maaf ya, Bambang. Saya kenal dan ketemunya kamu sih, jadi kamu yang saya bahas.

Sebenarnya, saya ingin mengajak mahasiswa seperti Bambang ini masuk di tim basket saya ketika SMP dulu. Mengajaknya latihan lalu ikut turnamen. Agar dia tahu, rasanya digampar untuk kebaikan. Namun, berhubung tim SMP saya sudah berpencar dan pelatihnya entah kemana. Jadi, biar saya aja yang gampar dengan tulisan ini. Semoga kalian yang terlalu SANTAI bisa segera sadar. Kalau masih belum sadar, sini saya gampar beneran!

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments

About Riza D. Januar

Cowok yang berwajah susah | Susah dilupain

Check Also

Tanggapan untuk Penulis “Alasan Mahasiswa UNMA Kurang Kritis” yang Sok Tahu

Mahasiswa via Tribatapolresmajalengka besoksenin.co – Ketika poster artikel “Alasan Mahasiswa UNMA Kurang Kritis” di posting …