Home > rubrik > besokbaper > Sebuah Definisi Ulang Tahun yang Sebenarnya

Sebuah Definisi Ulang Tahun yang Sebenarnya

besoksenin.co — Ada seorang lelaki. Ada seorang lelaki yang tak lagi muda. Ada seorang lelaki yang tak lagi muda duduk di sebuah kursi. Ada seorang lelaki yang tak lagi muda duduk di sebuah kursi sambil meneguk secangkir kopi. Ada seorang lelaki yang tak lagi muda duduk di sebuah kursi sambil meneguk secangkir kopi yang masih mengeluarkan kepulan asap.

Tidak ada yang bisa memastikan siapa dan apa yang lelaki berambut dua warna itu tunggu. Namun, terlihat bahwa ia memang seperti sedang menunggu sesuatu. Jauh di dapur sana, seorang wanita tua yang masih sedikit kencang kulitnya memotong singkong. Sesekali, wanita tua itu memandang wajah lelah lelakinya dengan tersenyum. Ia tak pernah menyadari bahwa ternyata, ia adalah wanita yang paling beruntung di dunia bisa menjadi pendamping hidup seorang Ajip. Lelakinya itu bernama Ajip. Seorang sastrawan yang lahir dan tumbuh di tanah Majalengka.

Ajip dan Nani via CNN Indonesia

Keduanya memutuskan untuk bersama menikmati senja pada usia senja. Wanita tua itu sangat ingat betapa tangguhnya ia saat diterpa kabar tidak mengenakan hati perihal pernikahan keduanya. Bagaimana tidak? Kaum muda yang merasa benar itu mencibir pernikahan mereka. Padahal … Memangnya apa yang salah dari pernikahan di usia senja? Memangnya apa yang salah dari sebuah perayaan cinta?

baca juga : Mari Berpura-pura Tidak Lupa Tentang Ajip Rosidi yang Besar dan Lahir di Jatiwangi

Mereka menyadari bahwa mereka ternyata perlu rekan bicara dalam hidup setelah ditinggal mati oleh pasangan sebelumnya. Mereka juga menyadarkan kaum muda bahwa sesungguhnya rasa sayang, hingga saling berbagi memang tak seharusnya berbatas waktu: sepanjang usia.

Rumah yang warnanya sudah hampir pudar itu tidak membuat cinta keduanya pudar, justru sebaliknya. Dari rumah di tengah sawah inilah, mereka menikmati senja bersama. Dalam kepala wanita tua yang masih tersenyum itu, seolah diputar kembali film-film tentang pertemuannya dengan seseorang yang kini duduk di atas kursi itu.

Wanita tua itu masih tersenyum. Sekali lagi, wanita tua itu melabeli dirinya sebagai wanita yang beruntung. Bagaimana tidak? Ia telah ditunjuk menjadi istri seorang sastrawan (lagi). Potongan-potongan singkong itu ikut mengerutkan dahi: bagaimana bisa dua emosi yang sudah menyatu tidak bisa mengeluarkan emosi dan ekspresi yang sama? Lelaki itu nampak termenung. Di bola matanya, hanya terlihat bentuk-bentuk bayangan ilalang, juga padi. Sesekali, pergerakan awan pun nampak di sana. Sedangkan wanita yang tengah memotong tubuh singkong itu bisa tersenyum.

Ah, dasar singkong.

Semoga janjimu tidak indah namun isinya kosong seperti balon via Pixabay

Mungkin, Tuhan sengaja memutarkan film-film tentang kehidupan lelaki itu. Tentang ayah dan ibunya, tentang mainan masa kecilnya, tentang masa sekolahnya, tentang teman-temannya, tentang semua hal di masa lalu yang perlahan meninggalkannya. Ia percaya, bahwa setiap jengkal kehidupan adalah perayaan: pada sesuatu yang lahir, pada sesuatu yang bersatu, pada sesuatu yang pergi. Tapi ia selalu penasaran perihal perayaan usia yang berkurang.

Di usianya yang tak lagi muda, ia sibuk menerka-nerka: perayaan yang seperti apa yang tengah disiapkan oleh istrinya, oleh sahabatnya, oleh keluarganya. Bahkan hingga matahari hendak berpamitan pada semesta pun, belum ada perayaan untuk hari ini. Padahal, hari ini adalah hari kelahirannya. Ia terlalu sibuk menerka-nerka hingga tak menyadari bahwa langkah wanita tua yang ada di dapur itu mendekatinya bersama sebuah piring singkong goreng.

“Singkong?”

Sebuah tangan berkulit putih menyodorkan tangan. Lelaki itu hanya tersenyum. Senyumnya seolah berkata terima kasih. Ia menunduk, membiarkan tangan istrinya ditarik kembali dan membiarkan ingatan tentang masa lalunya menguap bersama kepulan asap kopi dan menyatu ke langit lewat jendela.

“Hari ini tanggal 31 Januari.”

“Ya, aku tahu.”

“Ini hari ulang tahunmu.”

“Aku tahu.”

“Tidakkah kamu bahagia?”

“Aku? Aku bahagia setiap waktu. Seperti doa pada larik terakhir dalam lagu ulang tahun, aku bahagia. Aku hanya mengira tidak ada yang ingat dengan hari lahirku.”

Aku ingat ulang tahunmu, batinnya. Wanita tua itu memang tak banyak bicara.

“Menurutmu, memangnya ada tanggal khusus untuk setiap emosi kita?”

“Tidak juga,” Wanita itu menggeleng, “Tapi ini hari ulang tahunmu. Selamat ulang tahun!”

Bibir lelaki itu menyeruput kopi dan mengecapnya berulang, “Aku tidak pernah merayakan pengurangan usia. Lagi pula, untuk apa merayakan, mengucapkan selamat pada seseorang yang berkurang usianya?”

“Kita tidak tahu kapan ajal kita datang, Sayang. Barangkali, itu sebuah pengingat tentang ketidak-abadian.”

“Ah, hanya basa-basi saja. Setiap tanggal 31 Januari, aku hanya merayakan perjuangan ibuku agar aku bisa hidup. Seperti yang selalu dirayakan warga Indonesia untuk kemerdekaan negaranya.” ucapnya.

Keduanya terdiam. Menikmati matahari yang kini benar-benar pamit dari semesta. Mata mereka menangkap sebuah panorama yang indah. Tentang gradasi warna, tentang siluet-siluet ilalang juga padi dan orang-orangan sawah, juga lembutnya suara jangkrik yang bersahutan dengan suara kodok yang rendah.

“Tapi ini ulang tahunmu.”

“Tak apa, biarkan saja.”

“Kamu ingin hadiah apa? Kue? Rajutan baju hangat? Lukisan? Puisi? Atau—”

“Tidak ada, Sayang,” Tangannya menyimpan cangkir kopi itu di atas meja dan mulai menggenggam tangan wanitanya, “Aku tidak ingin apa-apa selain mengulang tahun demi tahun bersamamu. Bagiku, itu definisi ulang tahun sebenarnya.”

“Aku bersamamu, dan ini harimu. Selamat ulang tahun, Ajip!”

 

 

***

Nadila, Januari 2019

Facebook Comments

About Nadila D.

Aku adalah puisi; silakan tafsirkan sendiri.

Check Also

Mari Berpura-pura Tidak Lupa, Tentang Ajip Rosidi yang Lahir dan Besar di Jatiwangi

besoksenin.co – Permisi untuk judul ini, tapi milenial Majalengka mana yang ingat kalau The Living …